footer social

Pages

Tuesday, June 11, 2019

Bad Day Bikin Lu Lunglay

Malam itu, jam 9 lebih 30 menit, beberapa ruko, toko-toko kecil serta pedagang kecil sudah mulai menutup gerainya. Kembali ke rumah membawa hasil jualan yang sudah dilakoni sedari pagi tadi. Begitu juga ane yang bekerja sebagai karyawan disalah satu toko hp dipusat kota Kepulauan Langang. Seperti biasa, setelah tutup, ane langsung berangkat menuju rumah kawan, sekedar melepas penat, bercengkrama, tapi terkadang makan malam juga disana.

Sampai disana, salah seorang teman meminta film yang ane punya. Permintaan yang langsung disampaikan ketika mereka melihat ane sedang menyandang tas yang isinya laptop.

"Ri, ada yang baru, film balap-balap atau action gitu," ujar Da Zul yang sedang duduk santai mengisap rokoknya.

"Gampang itu mah, ada flashdisk, minimal 16gb ?"

Da zul kemudian kedalam rumahnya, ngambil fd 16gb.

Ane duduk didepan rumah Uda pong, lokasi rumah yang berada di depan kediaman Da Zul. Selagi menunggu flashdisk datang, ane melihat isi folder.

"Abang," teriak Susi, gadis kecil yang baru naik kelas 2 SD.

Susi datang membawa hp ayahnya, dengar dari mana kalau ane punya banyak film-film juga nggk tau, tiba-tiba saja datang, menyodorkan hpnya, meminta film kartun yang dia suka.

Saat film sedang ditransfer ke flashdisk, Susi terus mendesak, meminta dan sampai-sampai menarik bagian layar laptop.

"Weisss, jangaann," ucap ane sambil menahan tangannya.

Bibir langsung manyun, tapi tangan masih tetap memegang bagian atas laptop yang masih menyala.

"Kasih ke aku dulu filmnya," tangan Susi tidak lepas dari laptop, mungkin kalau lebih kuat menarik laptop, rusak sudah barang berharga yang membantu ane tamat kuliah.

Ane masih menahan bagian atas laptop agar tidak jatuh. Selagi menahan, datang lagi anak Da Zul, dua tahun lebih kecil dari Susi.

"Abang alman," gaya bicara yang masih cadel. Jika bicara, ane butuh translater khusus untuk mengerti apa yang dia ucapkan.

Tomi, panggilan anak laki-laki Da Zul, dia tiba-tiba datang dan menarik laptop ane sekuat tenaganya. Laptop nyaris jatuh dan sempat tersandar dibagian bawah kursi yang ane duduki.

"Iyaa, sabar dulu," ucap ane pada Tomi.

"Cekalanggg," tegas anak kecil berambut keriting pirang,

Situasi semakin runyam, Da Pong meminta ane mengutak-atik hpnya, mencari dimana lokasi penyimpanan video kartun milik Susi. Karena jenis hp yang digunakannya jauh berbenda, ane sedikit bingung mencari lokasi file yang dituju.

"Bentar, da," ane meletakkan hp Da Zul di bawah kursi, beliau hanya diam. Tak bersuara, melihat anaknya yang semakin bringas menarik laptop.

Dalam waktu yang sama, Budi yang mengumpulkan semua uang hasil jual beli mengabari bahwasanya ada yang kurang sebanyak Rp 130.000,-. Ane terkejut, karena sebelum pergi solat magrib uang yang dihitung itu semuanya pas, alias tidak kurang tidak lebih. Pekerjaan mentransfer data, menenangkan bocah-bocah, serta mencari lokasi penyimpanan film kartun belum selesai, Ane dengan cepat membalas pesan yang diterima.

"Bukannya udah pas ?" Jawaban pesan yang diterima.

5 menit berlalu, data di Hp Da Pong ditemukan, Da Pong mulai tenang. Pesan masuk lagi, dari Budi.

"Coba ke toko dulu, dong," Budi meminta.

"Cek lagi aja,"

Budi membalas lagi, namun dengan isi pesan yang semakin membuat ane harus ke toko.

Selagi berfikir apakah harus pergi langsung ditengah permasalahan atau tidak pergi sama sekali, Susi yang saat itu sudah lelah menunggu, kemudian menyerahkan hpnya, meminta ane mendownload film yang dia mau.

"Waduuhh," tunggu dulu, sayang. Antara kesal, tapi nggk boleh karena Susi terlalu kecil untuk dimarahi.

Susi pergi dari hadapan ane, entah kenama, ane juga nggk tau.

"Tomiii," Da Zul memanggil anaknya.

Tomi bergegas ke rumah, membatalkan niat ikut-ikutannya.

Transferan selesai, flashdisk sudah kembali ke tangan Da Zul. Setelah dibujuk oleh Da Pong, Susi yang ternyata ngambek di kamar, kemudian keluar rumahnya, diam tanpa sepatah katapun yang keluar dari bibir tipisnya.

Satu lagi tugas belum selesai, laptop tiba-tiba mati karena batrei sekarat. Sembari menunggu menyala laptop, pesan datang lagi dengan kabar uang pulsa hp sebanyak Rp 150.000,- hilang dari kotaknya. Saat itu juga ane befikir, bingung ingin menjawab seperti apa. 

"Plak," bunyi pukul tangan yang terdengar keras.

Pukulan tersebut dilakukan oleh Susi terhadap Tomi yang tengah saling berselisih kata. Sontak ane langsung kesal terhadap bocah kecil. Merubah mood yang awalnya sudah buruk menjadi semakin buruk. Seketika itu ane berfikir ingin pulang, lihat ke parkiran, tapi motor tidak ditempat.

"Ah, masa bodo, nggk ada juga nggk apa-apa dah," kesal dalam hati.

Ane kembali ke toko tanpa motor, tidak meloleh sedikitpun saat Uda Zal, dan Uda Pong memanggil. jalan kaki saja menuju toko. Ane bergegas ke toko karna penasaran dengan kejadian uang yang hilang. Cctv toko menjadi target utama.

Kemudian,
Sampai ditoko, Ane langsung menuju ruang cctv. Ternyata cctv mati dan baru ingat adaptornya rusak, kekemuninan besar rekamannya tidak ada sama sekali. Sebab, Ane ingin melihat, apakah ada yg mengambil atau ane yang salah ketika menghitung uang. Duduk sejenak depan komputer cctv, termenung, mengusap-usap kepala sembari memikirkan apa yang telah ane lakukan sebelumnya, dari pagi sampai malam itu.

"Ya sudah lupakan," memukul meja yang tak berdosa.

Sejenak pikiran ditenangkan. Ingin makan mie plus secangkir goodday es. Biasa cara ane ngilangin pusing, kesal, gelisah ya, makan. Mama Bon datang membawa mie super lezat yang telah ditambah telor setengah matang, agar makin nikmat, ane menaburkan sendiri bawang goreng instan sebagai topingnya.

"Kamu kenapa, dek ?" tanya mama bon.

"Nggk kenapa-kenapa mabo (panggilan mama boni)," sambil menyedu kuah mie yang sudah merah karena terlalu banyak sambel.

Mabo pergi, tapi sepertinya lupa dengan minuman yang diminta. Selesai makan, goodday es belum datang juga. Mood belum berubah, pedas belum juga hilang, airpun tidak ada. Kesal lagi, timbulan lagi amarah yang ternyata berada dilevel atas. Ane semakin muak dan ingin mengambil minuman itu sendiri, pergi ke dapur toko, air tidak ada. Galon digoyang-goyang, mana tau masih ada sisa air, malah terjatuh dan retak.

"Aaaaaggghhh," kesal lagi...

Ane kembali ke tempat mabo,
Datang dengan kepala sedikit ditekuk, "mabo, minta air ya,"

Mabo memberikan gelas, saat gelas diisi air, yang keluar malah teh panas.

"Waduh, salah ini, tehnya belum dipindah," kata mabo. Senyum-senyum sendiri ditengah keramaian pelanggan.

Ane langsung menuju ke kamar mandi, minum air yang ada di bak dengan ketinggian semeter. Sejuk, lega, dan segar. Itulah perasaan yang timbul setelah menikmati segarnya air bak mandi. Prinsip yang ane ikuti dari kawan kampung seberang, "Man Kuman Kamin, Nan Kuman Jadi Vitamin,".

Selesai, dan selesai, tepat pukul 23.55 hampir tengah malam. Ane ke kamar, dan sedikit menginstrospeksi diri, sekaligus memikirkan apa dosa yang telah dilakukan sedari pagi tadi.

Beberapa poin ane simpulkan.
- Setiap kejadian buruk yang dialami, biasa terjadi karena ada kesalahan yang kita buat sendiri. Sadar atau tidak sadarnya, tanpa kita sadari ada orang yang tersinggung oleh ucapan kita sendiri, maka berhati-hati dalam setiap perkataan yang terlontar dari mulut.

- Kadang, kita merasa memperoleh kesialan mulai dari pagi sampai malam layaknya cerita diatas, tapi apakah kesialan itu benar-benar ada ? Atau hanya karena tuhan ingin menguji, sehingga kesialan yang dialami berubah menjadi ujian atau test. Entahlah... berprasangka baik saja.

- Ibadah, semakin banyak ibadah yang dilakukan, maka akan semakin baik juga prasangka baik terhadap apa saja yang dialami.

Saturday, June 8, 2019

Ngejar Waktu Sholat Ied 40km dari Rumah

Lebaran kali ini, ane masih merayakannya di tempat yang sama, Kepulauan Yapen, Papua. Namun, lokasinya berbeda, dari yang sebelumnya Panduami, arah Yapen Barat. Nah, sekarang, ane nyoba pergi ke Menawai, arah yapen timur. 

Pagi itu, Ane berangkat jam 6.45, telat 45 menit dari waktu yang telah ditetapkan buat berangkat bareng teman. Sebenarnya janjian jam 6 berangkat, itupun kalau bisa bangun pagi, tapi alarm nggk ngaruh ke telinga, sehingga ane sendiri baru melek jam 6.18.

Bangun dari tidur, tiba2 saja ane lihat langit masih gelap, serasa mau hujan, peluk guling lagi dah. Beberapa detik kemudian ane bangun lagi, kapan solat subuhnya kalau gitu. ya udah, ane langsung mandi trus solat subuh pagi-pagi. Realita yang sering dialami, apalagi tinggal bersama orang yang nggk solat sama sekali. 

Oke...
Mandi, solat subuh beres, ngaji habis solat absen dulu, biar bisa cepat berangkat. 

Ngeeenggggg....
Ane berangkat secepat mungkin agar tidak telat sampai di masjid Menawi. Saat melewati jalur yang berseberangan dengan lokasi sholat ied di Kota Serui, Ane lihat jamaah sudah mulai berdatangan ke lapangan alun2 Serui, yang mana lokasi tersebut bukan pilihan untuk melaksanakan sholat, melainkan 40km lagi menuju Menawi. Tujuannya simpel saja, pengen ngerasain bagaimana sholat ied ditempat-tempat yang jauh, apalagi disana islam masih menjadi minoritas.
 
Ane terus melaju....

Perjalanan ke Menawi cukup jauh, normalnya 1.30 menit, karna jalur yang dilewati turun naik, tanjakan terjal, dan tikungan tajam. Selain itu, banyaknya lubang serta genangan air membuat ane harus berfikir dua kali jika harus memacu kendaraan dalam kecepatan tinggi. Tapi disaat jalur lurus dan kering, ane dapat memanfaatkannya untuk menambah kecepatan.

45 menit lebih cepat dari waktu normal. Walau banyak lubang serta  jalanan yang tidak bagus, Ane sampai ke masjid lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Masjid masih sepi, hanya ada tiga minibus dan tujuh motor yang sudah parkir. Kemungkinan ini akan telat, seperti yang terjadi saat sholat jumat. Kenapa ane bilang, karena solat jumat di masjid Menawi bisa lebih lambat 30 menit dari Kota Serui, walau berada di waktu yang sama. 

Ane masuk ke dalam masjid, kemudian melihat kesegala arah, banyak pandangan mata melihat yang melihat, Ane juga bingung, mungkin asing kali ya, karena ane juga bukan tinggal di Menawi kali. Tapi, kondisi tersebut nggk bakal bikin semangat luntur, malah bersyukur, karena Ane dapat langsung berinterasi dengan orang2 yang belum pernah dilihat sebelumnya. Selain itu, silaturahmi juga lebih seru, dengan adanya salaman bergilir yang menjadi tradisi setelah ceramah selesai. Tradisi salam-salaman yang dilakukan dalam Masjid.

Ane melihat uda boy yang sedang zikir sembari memegang jempol kaki, lagi kesemutan tu

"Da," salam dulu.

"Oh ya,"ujar da boy....
"Blm mulai kah ?" perlahan mulai duduk disebelah da boy.

"Blm, masih menunggu yang lain, "
"Nunggu siapa da ?"
"Org2 kampung msih banyak yang mau datang lagi," sembari da boy menunjuk kearah mobil pick up yang tengah parkir.

Hmmm...

Pantesan belum, ternyata mulainya sholat ied jika jamaah dari kampung sekitaran Menawi sudah datang semua. Keren juga, menurut ane, saling menghargai dan mau menunggu jamaah adalah cara yang baik untuk merayakan idul fitri bersama.

Bruuummm. Bunyi pick up lagi, rombongan jamaah yang baru datang, berlokasi 30km dari Menawi, mobil pick up yang sudah disain dengan atap yang berdiri tegak, menghindari panas matahari. Ane segera bersiap sholat, ternyata masih belum, masih ada jamaah yang akan datang, ujar pengurus masjid yang sedang membacakan pengumanan dekat mimbar.

Jam 7.50 , solatpun dimulai.
Lebih lama mulainya dari solat id dikota. Ane pun balik dari Masjid menawi jam 8.30 

Tolesansi tidak hanya dimiliki oleh masyarakat yang berbeda agama, toleransi dan mau menunggu jamaah dari kampung yang berlokasi jauh juga sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat sekitar.

Ramadahan kali ini makin bermakna.
Nb : di Panduawi kamanap, arah yapen barat masih ada lo, tahun lalu. Tunggu aja e

Wednesday, February 20, 2019

Touring_Perjalanan ke Perbatasan Indonesia-Papua Nugini

Monday, October 29, 2018

Kerajinan Box Baju Kotor dari Simcard

Sisa simcard banyak sekali ditemukan dimana-mana. Bentuknya yang unik dan tipis sering digunakan jadi mainan kunci. Selain gantungan, simcard juga dijadikan box untuk menyimpan barang-barang kecil ringan, namun mimin punya ide lain, yaitu dengan menggunakan 394 biji simcard untuk membuat box penyimpan baju kotor sebelum dicuci. Selain simcard sebagai bahan utama, lem 3 detik (sebutan lem yang mimin beli di pasar) sebanyak 3 biji menjadi alat pemersatu masing-masing simcard.

Pembuatannya cukup mudah, hanya tinggal menempelkan kartu dengan pola garis lurus. Agar dinding box lebih tegap, kartu dibuat menjadi dua lapis. Pada bagian alas, 5 lapis kartu ditempel agar alas lebih tebal sekitar 1 cm. Dengan ketebatalan seperti itu, lem bisa diletakkan lebih banyak untuk memperkuat dinding box.

Setelah alas dan dinding menyatu, bagian sisi box ditempel. Dan terakhir, tutup box dibuat dengan cara yang sama seperti membuat dinding box. Tapi, satu kartu ditempel tegak pada bagian tutup box.

Bukit Berbatu Kamanap, Yapen, Papua

Berkunjung ke tempat baru dengan suasana yang berbeda tentunya menghasilkan pengalaman yang tak terlupa. Unik dan berbeda dari yang lain menjadi pilihan si pecandu wisata alam. Anugrah tuhan yang tercipta dari hasil pembangunan jalan raya layak diacungi jembol, entah berasal dari ledakan atau galian, tempat seperti bisa dikatakan hasil alam yang dibiarkan, namun memiliki nilai keindahan yang tak ternilai.

Beberapa hari yang lalu, Gue berkunjung ke bukit bebatuan yang berjarak 100 m dari Bandara Stefanus Rumbewas, Kepulauan Yapen, Papua. Lokasinya mudah dijangkau karena berada di jalan lintas menuju bandara. Perbukitan bebatuan ini juga banyak memiliki spot foto yang keren, namun harus berhati-hati saat melintas. Banyaknya batuan runcing bisa saja membuat ban kendaraan bocor dengan mudahnya. Selain batuan, lubang-lubang kecil dengan berbagai ukuran luas sesekali bisa memperngaruhi perjalanan.

Jika kalian berkunjung ke Serui dengan menggunakan pesawat, tidak ada salahnya berkunjung ke tempat ini, lokasi yang menyimpan pesona alam yang indah.

Saturday, July 7, 2018

Pengalaman Pertama dengan Motor Trail

Berkendara melewati jalur ektrim tentunya membutuhkan tenaga kuat dan stamina yang harus mampu menahan lamanya durasi perjalanan. Selain itu, kendaraan musti memiliki kemampuan melewati berbagai jalanan seperti lumpur, lubang-lubang besar, memiliki tektur tanah yang tidak rata, dan yang pastinya sukar dilewati oleh kendaraan yang biasa melaju di jalur aspal.

Berbagai jenis motor sesuai dengan jalur lintasnya sudah mulai menjamur di dunia. Ada motor sport yang memiliki keunggulan dalam hal kecepatan, pastinya memiliki mesin cepat serta aerodinamis yang sesuai bentuk motornya. Ada motor dengan cc besar, ditambah dengan box yang berada di kiri kanan belakang, biasanya ditujukan kepada mereka yang suka berkendara jarak jauh. Ada motor metik bagi pengendara yang suka santai, tidak mau ribet harus merubah gigi transmisi dan kopling. Dan, juga motor trail yang digunakan untuk menjelajah alam dengan berbagai macam jalur ektrim, itupun motor trail yang sudah dilengkapi dengan ban cakar yang siap melahap jalur lumpur sekalipun.

***
Minggu, Aku berkesempatan mengendarai motor trail yang sebenarnya bukanlah motor yang disukai. Jelas, motor dengan suspensi tinggi membuatku harus menahan berat badan serta motor dengan ujung jempol saja. Panjang kaki yang kurang maksimal memaksaku harus memiringkan badan serta menurunkan sedikit bokong ke arah kiri atau kanan sesuai dengan kaki mana yang akan menjadi standar sementara saat motor berhenti.

Motor trail yang dikendarai tergolong motor sudah dimodifikasi menjadi motor cross. Ban yang sudah diganti dari yang awalnya ban untuk jalanan aspal, sehari sebelumnya diganti dengan ban cakar istilah orang sini, namun bagiku sebutannya ban ragi tahu.

Aku berangkat sekitar jam 10 pagi bersama rekan-rekan kerja. Satu jam sebelum berangkat, peralatan bantu untuk merekam perjalanan, hp dan sumber pengisiannya dipastikan siap digunakan. Tidak lupa kondisi motor dicek kembali, apakah ada yang salah atau masih perlu diperbaiki. 

        "brummm," bunyi knalpot racing motor.

"Perjalanan kali lebih ektrim dari yang biasa, mengingat jalur yang akan dilalui belum pernah dicoba dan banyak info yang ku peroleh bahwasanya jalur tersebut sudah memakan korban jiwa saat memasuki jalan yang menanjak dan belum diberi aspal, alias masih berbentuk gunungan tanah yang bercampur dengan batuan. Selain jalur yang ditempuh masih belum rapih, hujan yang mengguyur tadi malam menambah ektrimnya perjalanan menuju bagian timur Pulau Yapen, yaitu Dawai," ujar rekan yang sudah terlebih dahulu ke Dawai.

Gambaran yang cukup jelas membuat raga ini semakin tidak sabar ingin pergi ke daerah yang memiliki perusahaan kayu tersebut. 

Satu hal yang membuatku ragu saat mengendarai motor ini adalah kaki yang tak bisa napak saat motor tiba-tiba motor berhenti, terutama jika menginjak jalan yang berlubang besar. Namun, bukan bikers namanya kalau tidak berani menghadapi apapun jenis kendaraan. Keyakinan yang selalu membuatku percaya diri dan berani mengambil resiko.

Aku belum terlalu berpengalaman dalam mengendarai motor trail, kecepatan serta tingginya yang membuatku enggan mengendarai motor berkapasitas 150cc keluaran Kawasaki ini. Tapi, keputusan untuk tidak mengendarai motor buyar setelah rekan yang mempunyai motor memberikan kunci motor dan memintaku untuk membawanya. Kesempatan yang tidak mungkin bisa ditolak, "iya, oke," jawabku sembari menerima kunci motor.

Perjalanan dimulai dengan melintasi jalur ke Menawi dahulu. Seperti biasa, Aku selalu berada paling belakang. Selain karena kebiasaan, motor dengan ban ragi tahu tidak begitu lengket dengan aspal. Alhasil, ban motor kadang slip sehingga membuatku mengurangi kecepatan seketika.

Jalur Menawi masih tergolong bagus sampai ke distrik Wadapi yang merupakan pemberhentian 5 bulan yang lalu ketika ingin ke Dawai sendiri. 5 bulan ketika sampai di Wadapi, jalur yang dilalui sangat buruk dan masih banyak tanah serta licin. Ditambah lagi saat itu aku pergi dengan menggunakan motor. Perjalanan ku terhenti saat berada di tengah hutan dengan jalur yang banyak kerikil serta lubang2 besar yang tidak henti2nya mengganggu perjalananku. Suara2 aneh menyertai kesendiriaan ku, dan pulang kembali ke rumah adalah solusi yang tepat saat itu. Akhirnya, perjalanan ke Dawa terhenti dan beruntung, kesempatan ku dapatkan kembali, dan Aku mengendarai motor trail yang belum pernah sama sekali ku bawa jauh. Begitulah petualangan singkat menuju Dawai yang tak sampai. Sekarang, cerita dilanjut e...

Lanjut.
Setelah melewati Distrik Wadapi, Aku memasuki jalur yang kembali tidak rata. Beruntung rasanya perjalanan menggunakan motor trail ban ragi tahu, segala macam tanjakan serta lubang tidak menghentikan perjalanan, walau sesekali becek dan gelombang jalan memperlambat laju kendaraan.
Suspensi yang tinggi sangat membantu mengurangi getaran. Selain membantu dalam kenyaman, suspensi yang tinggi juga memberikan ruang bebas saat akan menanjak kemudian melindas lubang.

Setelah melewati jalanan yang buruk di wilayah randawaya, perjalanan terus melewati sungai dengan ketinggian air mencapai 20 cm dari dasar. Dengan posisi busi yang tinggi, air sungai yang dilalui tidak dapat masuk ruang busi atau pengapian yang akan mengakibatkan mesin mati seketika.

Selama perjalanan berlangsung, lokasi berhenti hanya satu kali saja, itupun di satu2nya pondokan milik warga dengan sumber listrik dari panel surya. Selain memanfaatkan panel surya, rumah yang dijadikan warung ini juga memakai genset sebagai alternatif jika cuaca mendung. Aku menyempatkan berhenti disana, menyegarkan badan dan menambah oli untuk rantai motor yang terlihat kering. Jalanan dengan medan ektrim membuat rantai cepat haus, apalagi kalau keseringan kena air. Mesin sengaja tidak dimatikan, agar suara mesin bisa terdengar jelas saat pemeriksaan. Stelah memeriksa kendaraan, belum ada benturan serta gesekan dengan benda tampak dari bagian bawah motor seperti mesin dan knalpot.

Perjalanan terus berlanjut,
Aku sampai di sungai, dan lagi-lagi tingginya motor memperlancar perjalanan, serta ban ragi tahu yang kasar mengurangi kesulitan saat memasuki area yang cukup licin jika diinjak dengan sendal jepit biasa. Stang motor yang lebar ditambah dengan pijakan kaki yang kuat, membuat rasa lelah tidak hinggap begitu cepat. Posisi tubuh yang dibuat tegap karena posisi stang mengurangi rasa nyeri yang kuderita pada lengan kiri.

Setelah 4 jam perjalanan dengan jarak tempuh sekitar 80km, Aku sampai di Dawai. Jika di hitung2, bahan bakar yang dihabiskan sebanyak 4 liter saja. Terasa sangat boros, namun dengan kondisi jalan seperti yang ku sampaikan tadi. hal tersebut wajar terjadi, mengingat jalur yang ditempuh lumayan ekstrim, dari 100% jumlah jalur. Sekitar 80%nya jalur buruk semua, dan perlu banyak perbaikan.
Sekitar 4 aliran sungai dilewati dengan kedalaman yang berbeda-beda. Aku beruntung bepergian saat terik matahari, air sungai tidak bertambah dalam dan jalanan tidak banyak yang licin. Banyak dari warga kampung yang batal ke kota (Serui) karena cuaca seperti hujan menghambat perjalanan mereka. Mereka yang mempunyai motor trail atau tinggi saja yang mau melewati sungai sebagai jalur perlintasan. Walau air sungai tidak dalam, namun jalur yang berlumut, mengakibatkan perlintasan menjadi licin. 

4 jam berlalu, Aku sampai di Dawai dengan kondisi kotor disana sini motor. Rasa lelah setelah membawa motor cukup jauh memaksaku harus beristirahat sejenak, melepas lelah dan kembali mengecek kondisi motor.

Dawai merupakan daerah kecil yang masih berkembang dari waktu ke waktu. Perusahaan kayu yang sudah berdiri puluhan tahun membuat kawasan ini terus berkembang. Kebutuhan kayu yang semakin meningkat, membuat perusahaam tersebut harua menyediakan kayu sebanyak mungkin.

Sekilas tentang Dawai, baik itu alam serta tempat tinggal dan kondisi wilayahnya sudah diketahui. Namun, intinya adalah perjalan panjang yang tidak akan terlupa sampai saat ini. Ingin sekali menjajal jalur tersebut kembali, namun ada baiknya perjalanan dilakukan bersama. 

Pengalaman berkendara dengan motor trail pastinya akan selalu membuat diriku ingat betapa bermanfaatnya teknologi jika digunakan sesuai dengan tempat atau jalurnya.
Kawasaki D'Tracker

Thursday, April 26, 2018

10 hal yang membuat ko penasaran dengan Pulau ini.

Hal itulah yang terlintas dibenak Gus saat malam minggu, bersantai sejenek melepas lelah selepas kerja seharian.

Dalam tulisan kali ini, Gue mau share buat pembaca sekalian perihal keunikan, baik buruknya, kondisi lingkungan serta bagaimana kehidupan sosial di tempat Gue bertualang di Kota Serui, Pulau Yapen.

1. Pinang
Ya, buah yang satu ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat terutama yang asli Papua. Selain pinang, warga juga mengucah sirih yang dicampur dengan tepung putih. Warga asli menyebutnya sirih dicocol dengan kapur (warna putih).

Setiap orang juga sering berbagi pinang kepada sesama, terutama saat ngobrol-ngobrol santai. Gue melihat, rokok menjadi kebutuhan nomor dua setelah pinang.

Pinang tidak hanya menjadi kebutuhan bagi warga asli, pendatang juga mulai banyak menyukai buah tersebut, "mengurangi rasa lapar," ucap salah seorang warga yang ditanya.

1 pinang, satu 1 sirih, dan segenggam kapur, semua dihargai 1.000 rupiah saja. Pinang memang dikenal sebagai salah satu ciri khas orang Papua. Tidak lengkap rasanya jika ke Papua kalau tidak menocoba pinang.

2. Seluruh kegiatan ditiadakan mulai pukul 6 pagi sampai jam 1 atau setelah Zuhur di hari minggu.

Peraturan seperti ini baru pertama kali Gue rasakan.
Mengapa ? "Untuk menghormati warga umat kritiani yang sembayang," jawab salah seorang pemilik toko kaca mata.

Jika ada toko yang buka atau melanggar peraturan, maka akan dikenakan sangsi berupa denda mulai dari 500.000 sampai 1.000.000 rupiah, nominal tersebut tergantung seberapa besar toko yang melanggar.

3. Jual beli mahal

Jelas, maklum saja, biaya setiap pengiriman barang tentu saja mahal, karena rata-rata kebutuhan sekunder banyak dipesan dari Jakarta, atau yang paling dekat itu Surabaya. Walaupun sudah memakai jasa ekspedisi sekalipun, biaya tetap mahal.

Banyak yang berfikir, harga barang-barang di Papua itu mahal. Untung yang didapat oleh penjual memang besar. Hal tersebut sesuai dengan resiko barang yang dibawa. Terkadang, barang2 yang sudah dipacking oleh distributor bisa rusak saat pengiriman sedang berlangsung. Selain rusak, kadang ada juga barang yang hilang dalam dus yang sudah dibungkus oleh distributor. Entah siapa pelakunya, biar tuhan saja yang tahu.

4. Wisata belum terpublikasi.

Serui yang bertempat di Pulau Yapen memiliki berbagai macam wisata bahari yang memanjakan mata. Pantai indah dengan berbagai biota laut mudah sekali ditemui jika pelancong pergi ke Pantai Sarawandori, Pasir Putih Menawi, Almarea, Serui Laut, Mareday, dan masih banyak lagi lokasi yang belum dijangkau.

Selain pantai yang disebutkan tadi, berbagai budaya dan tradisi wakamsi (warga kampung sini) juga dapat disaksikan. Kegiatan tersebut beberapa kali Gue lihat saat pergi ke kampung-kampung terdekat kota. Salah satunya saat akhir bulan November 2017, anak-anak tengah asik menari mengiri musik. Tarian tersebut diadakan untuk menyambut datangnya bulan Desember dan tentunya hari natal.

5. Sampah

Ya, sampah selalu menjadi problema disetiap kota di Indonesia. Budaya membuang sampah sembarangan masih menjadi hal yang biasa di Serui. Walau setiap hari K3L bekerja, sampah masih terlihat.

Tempat pembuangan sampah sangat mudah ditemui. Bagi yang berkunjung ke Serui dengan menggunakan pesawat, pastinya akan menemui tempat sampah yang berada di tepi jalan. Setelah sampah diletakkan di tempat pembuangan akhir, solusi agar sampah benar-benar hilang adalah dengan cara dibakar.

Entah sampai kapan sampah akan dibuang disana, Gue juga tidak tahu. Harapan terbesar dari Gue sendiri adalah tempat pembuangan akhir dipindah ke wilayah yang jauh dari jalan raya. Jika berada ditepi jalan, aroma sampah yang menyengat akan mengganggu perjalanan.

6. Banyak libur sekolah

Hal ini yang menjadi perhatian besar bagi Gue. Bagaimana tidak, hari libur begitu banyak diberikan kepada anak sekolah. Selain tanggal merah, liburan juga diberikan saat memperingati hari jadi kota.

Selain itu, liburan juga bertambah dihari raya besar agama. Biasanya, sekolah akan aktif kegiatan belajar mengajar sebulan setelah tanggal merah dihari raya. Hal tersebut terjadi karena tenaga tenaga pengajar juga menambah jadwal liburan berhari-hari lamanya.

"kenapa tidak sekolah?"
"gurunya masih di kampung halaman," ujar sepupu yang sedang bersekolah di Sekolah Menengah Atas.

Selain dia, masih banyak murid yang merasakan hal yang sama. Mungkin, beberapa guru ada yang tepat waktu datang, namun sebagian besar guru yang berasal dari luar wilayah banyak yang mengambil jadwal lebih untuk berlibur lebih lama, miris.

7. Susahnya ngucapin "terimakasih"

"Terimakasih", kata yang akan jarang ditemui, apalagi setelah lo memberi petunjuk arah buat yang bertanya. Ntah itu budaya, atau kebiasaan, Gue juga tidak tahu.

Hanya kesabaran yang dapat memaklumi kebiasaan seperti itu. Mungkin, di sini tidak terlalu berarti, namun Gue yakin jika kebiasaan songong tersebut dibawa ke kawasan yang memiliki tingkat sopan santun yang tinggi, tentunya kebiasaan itu akan membawa dampak buruk bagi si pelakunya.

8. Ojek 5ribuan

Yap, ongkos ojek di Kota Serui, jauh dekat 5 ribu saja. Namun harga bertambah jika penumpang diantar keluar kota. Kadang, ojeker yang merupakan pendatang tidak mau mengantarkan sampai keluar kota. Kebanyakan ojeker dari warga aslilah yang mengantarkan keluar kota.

Jalanan yang masih rawan tindak kriminal menjadi faktor tidak maunya ojeker mengartakan penumpang keluar kota. Jalan yang harus dilewati cukup jauh dan ojeker harus melintasi jalur yang sepi dan selingi dengan hutan yang rimbun.

9. Gila, Tidak. Strees, Iya.

Banyak yang menyebut orang stres disini gila. Tapi aslinya mereka memang stress. Berjalan, berbicara sendiri dengan pakaian yang tergolong rapi.

"coba saja ko kasih rokok atau uang, dia pasti terima dan berbelanja makanan sesuai yang dibutuhkan," ujar salah seorang penjual di pasar.

Penyebab stres dikarena kebutuhan yang tidak terpenuhi. Tidak mau bekerja walau sudah diberikan lapangan pekerjaan.

10. Perseru di hati.

" Sa Papua, Sa Perseru," salah satu baju yang dipakai oleh warga asli saat menyaksikan tim kesayangan bertanding di kandang sendiri melawan tim tamu asal Sumatera.

Kecintaan warga terdahap tim orange hitam ini terlihat jelas saat banyaknya warga asli yang berbondong-bondong datang ke Stadiun Marora, menghentikan kegiatan dan mengajak saudara-saudaranya menonton pertandingan.

H-4 hari sebelun pertandingan akan ada pengumunan langsung yang diinformasikan melalui toa besar yang terpasang diatas atap mobil pick up milik pemda.

Yosss...
Sekian dulu guys, masih banyak hal-hal unik, peristiwa serta apapun tentang Kota Serui. Banyak yang belum bisa diungkapkan, namun hanya itu yang baru Gue sematkan dalam bentuk tulisan. Beberapa fakta akan menjelaskan bagaimana indahnya negeri di timur Indonesia ini. 10 hal diatas hanya pandangan dari Gue saja. Semoga bermanfaat, dan pantengin terus e ...

Namanya juga, Bosssss