footer social

Pages

Showing posts with label Walking Weekend. Show all posts
Showing posts with label Walking Weekend. Show all posts

Sunday, January 5, 2020

Minggu Kesembilan, Siang Terik nan Sejuk di Sekeloa Bandung


Salam walking guys
Hati gue bertanya-tanya kemana kaki akan melangkah setelah turun dari bus nanti. Sontak terbesit nama “zendi” panggilan akrab teman gue yang bertempat tinggal di Sekeloa, sekitar 2 kilometer dari tempat gue berdiri saat ini. Perjalananpun dimulai setelah gue membayar tarif sekitar 8.000 rupiah dan turun melalui pintu depan.
Saat turun dari bus, gue langsung disambut oleh angkot berwarna putih.
“teeetttt,” bunyi bus yang nyaris menabrak angkot yang tiba-tiba langsung berbelok kiri dan berhenti di tepi jalan depan kampus.
“pak, maju ke depan lagi pak,” kata supir bus.
Angkot tidak bergerak sedikitpun, “teeeettttt,” klakson bus semakin keras sehingga membuat gue menutup telinga. Gue jadi memperhatikan sifat dari supir angkot yang tidak mau berpindah, seolah-olah tidak mendengar teriakan bus.
Sebagai warga Indonesia yang baik, alangkah mulianya jika saat mencari uang, kita tidak merugikan orang lain. Bus akan segera berangkat, namun karena ada angkot yang tidak mau maju, sehingga bus tidak bisa memutar balik menuju penumpang.
Beberapa langkah gue berjalan, gue melihat kondektur bus berjalan menuju angkot yang tengah santai menunggu penumpang.
            “Makasih mang,” ucap kondektur bus.
Akhirnya, permasalahan selesai setelah pak kondektur bus datang, meminta baik-baik agar supir angkot mau beranjak dan memajukan kendaraan agar bus bisa lewat. Sementara itu, gue langsung melanjutkan perjalanan menuju ke jalur yang ramai kendaraan depan SPBU dan belok kanan menuju Sekeloa melewati jalan yang sedikit menanjak.
Langkah demi langkah dimulai.
Siang hari, terik matahari menemani perjalanan gue ketika menempuh jalan yang menanjak, kemudian langsung mengambil jalan pintas menuju jalur besar Jalan Sekeloa. Badan mulai berkeringat membasahi baju yang belum sempat dicuci. Walau begitu, kegelisahan belum mengahampiri jalan-jalan siang gue yang semakin terasa panas.
Jalan terasa semakin sempit dengan macetnya jalur yang dilewati, banyaknya mobil yang melewati jalan serta motor yang tidak mau memberi ruang menyebabkan macet sepanjang jalan sampai ke persimpangan menuju Jalan Sekeloa.
Macet sudah terjadi sejak mobil sedan yang rendah tidak mau melewati polisi tidur ketinggian sekitar 7 -`10 cm. Pejalan kaki serta warga yang memakai motor sudah membimbing jalannya mobil. Entah takut atau masih ragu melewati tanggul kecil, gadis yang membawa mobil tersebut tidak berani melewati tanggul yang sebenarnya bisa dilewati. Selain tidak berani melewati tanggul, dinding pagar yang berada di sebelah kiri mobil juga menjadi penyebab gadis tidak berani menjalankan mobilnya. Tiba-tiba, seorang pemuda yang sedang membawa motor gede mengetuk kaca jendela mobil gadis tersebut. Gadis dalam mobil akhirnya mengikuti ajakan dari pemuda yang tersenyum sambil mengatur arah berjalannya mobil agar tidak tergores oleh dinding pagar.
Mobil sedan akhirnya berhasil melewati polisi tidur serta dinding yang hanya berjarak 1 – 2 cm dari bagian kiri mobil. Pemuda yang juga sedang pergi menggunakan motor gedenya terus melintas di depan mobil sedan. Bak seorang putri raja, gadis tersebut terlihat seperti dikawal oleh pemuda tersebut sampai di ujung penglihatan gue.
Semua kendaraan kembali melanjutkan perjalanannya, serta gue terus berjalan menuju persimpangan menuju Jalan Sekeloa. Sejuknya udara yang berada di satu pohon membuat gue berhenti sejenak sebelum sampai di kosan Zendi. Sembari melepas lelah, gue mendengarkan lagu ala-ala pantai sehingga gue nyaris tertidur di bawah pohon tinggi tersebut.
Badan mulai segar kembali, Gue sesegera mungkin beranjak dari pohon karena cuaca mulai gelap dan akan turun hujan beberapa menit. Sampai di persimpangan kosan Zendi, gue melihat banyaknya kendaraan warga di sekitar, namun tidak ada keramaian seperti yang dirasakan di kampung halaman. Komplek perumahan yang selalu ramai oleh ibu-ibu rumah tangga yang selesai berbelanja dan bercerita. Gue berfikir, mungkin kebanyakan ibu-ibu di wilayah ini adalah wanita karier, sehingga jarang bersosialisasi dengan teman-teman sekitar. Gue juga tidak bisa menebak, hanya bisa menduga dan tidak ingin berfikir buruk.
20 meter berlalu dari perumahan, Gue sampai di Kosan Zendi dan memanggilanya agar membuka pagar kosan. Walau hanya sebentar, perjalanan ini tetap memberi pelajaran berharga bagi gue untuk tidak berfikir buruk tentang apa saja yang terlihat. Alangkah baiknya inisiatif lebih cepat dilakukan daripada hanya melihat orang lain mengalami kejadian yang tidak bisa ditangani sendiri. Kita sebagai manusia merupakan makhluk sosial yang saling membantu dan memberi apapun satu sama lainnya.

Minggu Kedelapan, Kenapa Harus Berhenti Walau Sudah Hilang


Salam walking guys,
Lokasi baru dengan suasana berbeda dapat memberi pelajaran dalam sebuah wacana yang akan dikerjakan. Semakin panjang jalur yang ditempuh, maka akan semakin banyak pula cerita yang akan dituliskan. Minim pengetahuan bukan berarti sebuah kekurangan yang bisa dijadikan alasan.
Minggu pagi, Gue melintasi jalur yang sudah pernah dilalui dua hari yang lalu. Gue mengetahui jalur tersebut saat berkendara sore. Waktu yang dilewati untuk melintasi jalur ini cukup lama, satu jam lebih diperlukan agar gue bisa sampai kembali ke tempat tinggal. Namun, hal menarik sudah pasti banyak didapat setelah memperoleh pelajaran dari sebuah kaca mata penglihatan.
Setelah melewati gerbang kampus, gue langsung menuju belokan sebelah kiri menuju Desa Hegarmanah. Persimpangan masuk desa berada dikanan jalan, terdapat gerbang serta tulisan nama desa pada tiang berwarna putih. Gue langsung masuk ke persimpangan, jalanan yang menurun mempercepat langkah kaki, harus berhati-hati agar tidak jatuh saat menginjak jalan pasir.
Jalan menurun selesai dilewati, gue mengambil belokan ke kiri setelah melewati gerbang perbatasan desa. Gue langsung disambut dengan jalanan menanjak yang mengarah ke kiri. Setelah melewati jalan menanjak tersebut, gue serasa disambut dengan pemadangan lepas sawah hijau yang indah.
Jalanan menanjak disertakan belokan panjang dengan kemiringan yang tinggi membuat nafas gue sesak, gue memutuskan untuk berhenti di atas batu besar tepian sawah, duduk memandangi pematang sawah yang luas dan menikmati udara yang masih sejuk.
Saat melihat area sekeliling sawah dengan apartemen yang terlihat sangat tinggi, gue melihat seseorang keluar dari balik dinding. Seorang ibu membawa beban yang banyak melewati gue dari depan. “punten,” sapaan si ibu saat gue masih duduk santai.
Gue melihat banyaknya bawaan ibu yang berbaju putih, serasa ingin membantu tapi badan tak kunjung bergerak menolong ibu yang sedang berhenti di tengah jalan. Gua masih duduk sembari mendengarkan lagu rock sementara itu si ibu berbaju putih masih berdiri sambil melepaskan pegal-pegal di badan. Setelah dua putaran lagu di android selesai dimainkan, seketika itu suara kresek terdengar jelas saat si ibu masuk ke kosan yang berada 5 meter dari tempatnya berdiri.
Walau jarak ibu berhenti dari kosannya sangat dekat, gue seharusnya bisa membantu beliau mengangkat barang bawaannya ke kosan tempat beliau kerja. Tapi, hati hanya bisa berkata “ayo lakukan,” namun tangan tak kunjung mengeluarkan tenaganya karena masih ada rasa malas yang menghentikan gerak tersebut.
Setelah melewati jalan persawahan, gue langsung masuk desa sukawening. Tidak ada hal yang lebih baik ketika sebuah renungan pagi saat melihat bapak dengan anaknya bermain bersama di taman depan rumah. Gue teringat ketika ayah membawa kelapangan untuk bermain bola bersama, namun setelah memasuki dunia pendidikan, apalagi setelah kuliah ini, gue sangat jarang bertemu apalagi bermain dengan beliau yang semakin bertambah umur.
Seperempat jam berlalu, Gerbang Desa Sukawening terlihat. Gue meneruskan perjalanan dengan menembus jalanan besar yang berada depan Desa Cisaladah. Dari desa tersebut, gue bisa tembus sampai di kampus dengan melewati  jalan kecil yang menjadi jalur alternatif mahasiswa yang tinggal di Desa Cisaladah menuju kampus.
Jalur kecil tersebut berada dekat asrama mahasiswa. Gue mulai melewati jalan yang terdapat banyak cewek sedang asik bermain basket. Konsentrasi terganggu, kepala kadang menunduk tapi masih melihat mahasiswi tersebut. Sampai di gerbang asrama, gue melewati jalanan menuju fakultas sosial kampus yang sedang ramai oleh mahasiswa yang sibuk mencari bahan tugas kuliah.
Sampai depan fakultas kedokteran, gue berhenti di saung yang tidak jauh dari tempat gue tinggal. Hasil dari pelajaran yang gue dapat dari perjalanan tadi langsung ditulis. Beberapa kejadian masih teringat jelas dengan segala macam renungan didalamnya. Badan mulai gelisah dengan banyaknya nyamuk yang  mengigit kaki.
Gue mulai berpindah haluan menuju mahasiswa yang sedang latihan untuk menampilakan sebuah pageralan besar. Seorang gadis dambaan yang menjadi alasan kenapa gue langsung berpindah dari tempat duduk sebelumnya ke lapangan tempat tim gadis tersebut latihan. Gue berpura-pura tidak melihatnya, duduk diatas motor gede yang sedang parkir dan mulai menulis hasil dari jalan-jalan pagi ini.
Saat duduk santai motor, kaki yang kotor kemudian langsung dicuci dengan air botol kemasan yang dibeli setelah perjalanan panjang tadi. Android nyaris terjatuh dari atas motor, tangan secara reflek mengambil android lama yang telah berisi catatan dari tulisan yang telah dibuat.
“Tidaaakk,” ujar gue setelah melihat semua catatan yang telah dibuat hilang karena sentuhan telapak tangan. Gue merasa malas kembali menulis hasil perjalanan yang hanya tinggal disimpan dan dikirim ke blog.
Mungkin, ada hikmah yang besar gue peroleh setelah mengalami kejadian tersebut. Tidak ada yang lebih baik selain dari mencari perhatian terhadap wanita yang disukai. Entah doi melihat atau tidak juga belum tahu, kenapa harus berpura-pura rajin didepannya. Masih ada acara lain untuk mendekatinya. Hanya satu kata buat hari ini… “ah, nyesel,”

Minggu Ketujuh, Nenek Kuat Sebagai Pemicu


Salam walking guys
Minggu pagi, gue berjalan-jalan menuju kawasan Desa Sayang, Jatinangor. Lebih banyak pengalaman baru walau perjalanan hanya melewati jalan di sekitaran daerah pendidikan ini. Selalu ada guru yang memberi pelajaran baru, gue menyebutnya sebagai ‘aspal hitam di tepian jalan’.
Gue mulai melangkahkan kaki sekitar jam 5.40 pagi, sesaat setelah solat subuh dikerjakan. Berangkat dari sekre UKM barat kampus, gue mengawali perjalanan dengan melewati jalan depan atm center kampus. Gue berharap, ada pelajaran baru yang bisa diperoleh dari setiap langkah.
Suasana pagi dengan udara yang sangat sejuk mengiringi jalan-jalan pagi. Warga yang belum banyak keluar rumah memberi gue kesempatan merasakan bebasnya jalan alternatif Jatinangor - Rancaekek. Beberapa momen menarik bisa dipetik saat jalan yang baru diberi aspal ini sepi dari penduduk yang akan pergi ke Pasar Dadakan Unpad.
Saat berjalan menuju persimpangan brimob, gue melihat cafe yang biasa gue kunjungi masih buka.
"Uda, kemana tu?", teriakan pemilik cafe yang masih belum tutup sampai pagi ini.
"Haha, walking-walking kamana-mana", ujar gue sambil jalan.
"Sip-sip da", sang pemilik cafe lalu masuk kembali ke dapur.
Perjalanan dilanjut, sampai depan tempat bermain futsal. Gue masih merasakan santainya perjalanan dengan jalur yang menurun. 300 meter kemudian, gue sampai di kantor tempat gue bekerja dulu. Membangun perusahan kecil bersama, sampai akhirnya gue keluar karena  memiliki prinsip yang jauh berbeda dengan CEO perusahaan.
Selesai melewati kantor, gue sampai di sebelah TPU Jatinangor. Gue melihat ke bagian kuburan, ntah apa yang terjadi, gue merasakan hal aneh di dekat pembatas TPU. Bunyi-bunyian aneh di rerumputan membuat imajinasi horor muncul. Langkah kaki dipercepat dan "taaarr" bunyi ban truk meletus dari kejauhan. "Astaga", ucap gue sambil mengehela nafas.
Suasana yang masih sepi mengisyaratkan gue agar jalan lebih kencang dari biasanya, minimal sampai di dekat komplek perumahan elit di Jatinangor. Sampai di jembatan perbatasan antara Desa Cikeruh dan Sayang, gue berhenti dan menenangkan pikiran serta jiwa yang tak karuan setelah berjalan dengan tempo yang cepat sekitar 200 meter menuju jembatan.
Setelah jiwa dan pernafasan kembali normal, gue melanjutkan perjalanan menuju daerah Desa Caringin. Gue mengambil belokan kanan dari simpang empat yang ada dilewati. Kekiri menuju Jatiroke, ke depan terus menuju rancaekek dan kekanan menuju ke tempat sarapan pagi yang selalu menjadi tempat favorit.
Jalan mulai ramai dengan mulai bertambahnya warga yang berjualan di tepian jalan. Lahan sawah yang tidak terlalu luas, setidaknya memberikan penglihatan baru bagi gue di Caringin. Momen menarik diabadikan sesaat gue melihat nenek melintasi jalan kecil yang berada di tengah-tengah pesawahan.
“pagi neeek”, sapa gue pada nenek berbaju merah dengan rantang yang dibawa untuk suaminya. Nenek berjalan dengan punggung yang sudah membungkuk. Walau nenek sudah susah berjalan sambil membawa makanan, senyuman saat beliau membalas sapaan dari gue serasa memberi gue sebuah kode untuk terus olahraga setiap hari.
Ada semangat baru yang gue dapat dari si nenek. Gue mengambil fotonya beliau dari kejauhan sebagai inspirasi pagi bagi gue. Pelajaran berharga penuh makna di kawasan yang penuh kesejukan di pagi, jam 6.30 WIB.
Setelah mengabadikan momen berharga tersebut, gue melewati jalan sedikit menanjak. Peluh mulai menguasai tubuh dan gue memerlukan air untuk menyegarkan badan.
"Punten a'", sapa gue untuk pejalan kaki yang sedang melintas.
"Mangga, manga, mangga", ujar si aa yang sedang berjalan searah dengan gue.
Sampai di penghujung jalan, gue mengambil arah kanan menuju tempat makan pagi, lontong padang dengan asesoris sepeti bakwan, sala lauak, pastel, keripik dan pisang goreng. Sebelum sampai di tempat makan, gue melihat puluhan ibu-ibu sedang yoga bersama depan salah satu supermarket, Jatinangor.
Begitu banyak orang yang ingin memperbaiki performa tubuh agar tetap prima menjalani hari-hari. gue harus lebih bersemangat agar fisik dan jiwa lebih sehat bugar setiap hari.
Let’s go to the new street


Wednesday, June 26, 2019

Minggu ke empat, Hanya Dugaan

Salam walking guys
Kemaren, gue memperoleh pelajaran yang menarik untuk dijadikan bahan untuk mawas diri. Peristiwa tak terlupakan gue peroleh saat berjalanan-jalan dari gerbang Cileunyi menuju kampus di Jatinangor. Seorang bocah kelas 1 SMA yang mengingatkan gue pentingnya perhatian orang tua untuk anaknya.
Saat perjalanan yang menempuh jarak 3,7 km, tepatnya di pertigaan jalan antara arah menuju Jatinangor ke kanan dan Cibiru ke kiri, Gue mendapati seorang remaja yang juga berjalan kaki dengan baju yang kusam.
Lagi jalan santai, gue bertemu lagi dengan remaja tersebut didepan SPBU Jatinangor. Seolah-olah kami berjalan beriringan menuju arah yang sama. Saat melewati jalan raya depan IPDN Jatinangor, gue mempercepat langkah agar bisa mendahului dia yang masih sibuk melihat ke belakang, mencari mobil yang bisa ditumpangi.

Sedang asik mendengar lagu,

“a’ mau kemana?“, tanya bocah SMA yang tersenyum melihat gue tersenyum.

Giu berhenti, “oh, saya mau ke kampus mas”,
“mas, mau kemana emang”,
“mau ke Sumedang sih”, ujar mengangguk.

“ooohhh”, Gue terus berjalan beriringan.

Saat perjalanan menuju kampus, gue terlalu melihat pakaian remaja berkulit coklat yang sudah terlalu kusut.

Gue berfikir, apa yang terjadi dengannya?

Kenapa dia bisa berjalan ke Sumedang?

Dan, apakah dia benar orang yang sedang berjalan kaki atau sedang iseng-iseng mencari korban untuk dipalak?

“a’,kenapa jalan juga ya”, sambil melihat gue yang terlihat lelah berjalan.

Dia yang saat itu membawa tas kecil masih terasa segar, namun gue melihat raut wajah yang terlihat lelah dan lungkai, seperti ada sebuah masalah yang hinggap pada dirinya.

"Tadi soalnya turun di depan rumah sakit AMC, mau naik angkot juga malas, dan pengen jalan juga sih ke nangor," jelas gue.

Sekitar 50 meter sebelum sampai di gerbang kampus,
“mas, kok bisa jalan ke Sumedang?, tanya gue penarasan,

”ya, nggk punya uang a”,

“kok bisa?” tanya gue bingung.

“saya habis main ke rumah teman”
Gue semakin penasaran, langkah gue perlambat sambil memegang pundak remaja tersebut.
“emang bawa uang awalnya dari Sumedang berapa ya mas”,
“25.000 rupiah a”,
“nekat juga”, sanggah gue pada remaja yang terlihat semakin lelah.
Gue mengeluarkan uang sebanyak 12.000 rupiah, kemudian memberikannya kepada remaja tersebut,

“eh, nggk usah mas”, gue menahan tangannya agar tidak mengembalikan lagi uang yang telah diberikan.

“Ambil, ambil, saya ikhlas kok”
“tapi mas mahasiswa, perlu duit”,

“aman kok” tegas gue.

Uang gue akhirnya diterima. Beberapa saat sampai di gerbang, gue memberikan pertanyaan yang tiak bisa dia jawab,

“orang tuanya nggk tau kalau masnya pergi”, dia langsung menunduk saat pertanyaan terakhir gue berikan.

“tau kok”, muka rada cemas, seperti ada yang disembunyikan. Nggak tau itu apa, yang jelas gue nggak mau menduga-duga.

Pernyataan gue sembari melihat matanya, “tapi, orang tuanya tau nggk kalau mas nya kesini jalan kaki terus nebeng sama orang lain ke Bandung”,

“nggk mas”, pungkas remaja yang semakin menghindari pertanyaan gue.
Dia kemudian langsung melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Sari, kemudian naik angkot menuju Sumedang. Percakapan kami masih gantung, gue masih bingung, kenapa mukanya langsung terlihat pudar dan gue merasa dia punya masalah yang berat.

Sampai malam menjelang, gue menceritakan kejadian yang dialami tadi kepada teman di kampus bernama Sulaiman, panggilannya Man.

Man berkata,
" Hal tersebut memang sudah banyak terjadi pada beberapa remaja, mungkin mereka sedang mengalami masalah dalam keluarganya sehingga bisa melakukan tindakan sesuka hati dan mengikuti nafsu jahat yang mendekati. Semua kembali kepada masing-masing diri, jika kamunya sudah terbiasa berbuat baik kepada sesama, maka perbuatan memberi uang seperti yang kamu lakukan tadi tidak akan terlalu kamu fikirkan baik buruknya. Entah saat itu kamu sedang ditipu atau memang sedang berhadapan dengan orang yang sedang membutuhkan pertolonganmu”.

Gue beranggapan, pernyataan teman gue tadi memberikan isyarat. Jika ingin berbuat baik, maka lakukanlah !, jangan menunggu dan jangan berdebat dalam hati.

Yang jadi pertanyaannya,"Apa yang telah terjadi ?"

Sunday, June 16, 2019

Minggu ke enam, Bangun Plak ...!!!

Salam walking guys
Hati gue bertanya-tanya, kemana kaki akan melangkah setelah turun dari bus nanti. Sontak terbesit nama “Koplak” panggilan akrab teman gue yang bertempat tinggal di Sekeloa, sekitar 2 kilometer dari kampus Unpad Dipatiukur, Bandung. Perjalanan dimulai setelah gue membayar tarif bus sekitar 8.000 rupiah.

Saat turun dari bus, gue langsung dihampiri oleh angkot berwarna putih.

“teeetttt,” bunyi bus yang nyaris menabrak angkot yang tiba-tiba langsung berbelok kiri dan berhenti di tepi jalan depan kampus.

“pak, maju ke depan lagi pak,” kata supir bus.
Angkot tidak bergerak sedikitpun, “teeeettttt,” klakson bus semakin keras sehingga membuat gue menutup telinga. Gue jadi memperhatikan sifat dari supir angkot yang tidak mau berpindah, seolah-olah tidak mendengar klakson bus.

Sebagai warga Indonesia yang baik, alangkah mulianya jika saat mencari uang, kita tidak merugikan orang lain. Bus akan segera berangkat, namun karena ada angkot yang tidak bergerak maju, sehingga bus tidak bisa memutar balik menuju halte penumpang.

Beberapa langkah gue berjalan, gue melihat kondektur bus berjalan menuju angkot yang tengah santai menunggu penumpang.
“Makasi mang,” ucap kondektur bus.

Akhirnya, permasalahan selesai setelah pak kondektur bus datang, meminta baik-baik agar supir angkot mau beranjak dan mengarahkan kendaraan agar bus bisa lewat. Sementara itu, gue langsung melanjutkan perjalanan menuju ke jalur yang ramai kendaraan depan SPBU Dipatiukur, belok kanan menuju Jalan Sekeloa, jalan yang sedikit menanjak.

Langkah demi langkah dimulai.
Siang hari, terik matahari menemani perjalanan gue ketika menempuh jalan yang menanjak, kemudian langsung mengambil jalan pintas menuju jalur besar Jalan Tubagus Ismail Dalam. Badan mulai berkeringat, membasahi baju yang belum sempat dicuci. Walau begitu, kegelisahan belum menghampiri jalan-jalan siang yang semakin terasa panas.

Jalur seakan semakin sempit dengan macetnya jalan yang dilewati. Banyaknya mobil yang melewati jalan serta motor yang tidak mau memberi ruang menyebabkan macet sepanjang jalan sampai ke persimpangan menuju Jalan Tubagus Ismail Dalam.

Macet sudah terjadi sejak mobil sedan yang rendah tidak mau melewati polisi tidur dengan ketinggian sekitar 10 cm. Pejalan kaki serta warga yang memakai motor sudah membimbing jalannya mobil. Entah takut atau masih ragu melewati tanggul kecil, gadis yang membawa mobil tersebut tidak berani melewati tanggul yang sebenarnya bisa dilalui. Selain tidak berani melewati tanggul, dinding pagar yang berada di sebelah kiri mobil juga menjadi penyebab gadis tidak berani mengarahkan mobilnya ke depan. Tiba-tiba, seorang pemuda yang sedang membawa motor gede mengetuk kaca jendela mobil gadis tersebut. Gadis dalam mobil akhirnya mengikuti ajakan dari pemuda yang tersenyum sambil mengatur arah berjalannya mobil agar tidak tergores oleh dinding pagar.

Mobil sedan akhirnya berhasil melewati polisi tidur serta dinding yang hanya berjarak 5 cm dari bagian kiri mobil. Pemuda yang juga sedang pergi menggunakan motor gedenya terus melintas di depan mobil sedan. Bak seorang putri raja, gadis tersebut terlihat seperti dikawal oleh pemuda tersebut sampai di ujung penglihatan gue.

Semua kendaraan kembali melanjutkan perjalanannya, serta gue terus berjalan menuju persimpangan menuju Jalan Sekeloa Raya. Sejuknya udara yang berada di satu pohon membuat gue berhenti sejenak sebelum sampai di kosan Koplak. Sembari melepas lelah, gue mendengarkan lagu ala-ala pantai sehingga gue nyaris tertidur di bawah pohon tinggi tersebut.

Badan mulai segar kembali, Gue sesegera mungkin beranjak dari pohon karena cuaca mulai gelap, kemungkinan hujan akan membasahi gue beberapa menit lagi. Sampai di persimpangan kosan Koplak, Gue melihat banyaknya kendaraan warga di sekitar, namun tidak ada keramaian seperti yang dirasakan di kampung halaman. Komplek perumahan yang selalu ramai oleh ibu-ibu rumah tangga yang selesai berbelanja dan bercerita. Gue berfikir, mungkin kebanyakan ibu-ibu di wilayah ini adalah wanita karier, sehingga jarang bersosialisasi dengan teman-teman sekitar. Gue juga tidak bisa menebak, hanya bisa menduga dan tidak ingin berfikir buruk.

20 meter berlalu dari perumahan, Gue sampai di Kosan Koplak di Jalan Tubagus Ismail lV. Tanpa salam, layaknya rumah sendiri, duduk langsung dan browsing pakai laptopnya. Kebetulam si Komplak bangun hanya untuk membuka pintu kosan, karena yang datang adalah tamu dari kejauhan.

Walau hanya sebentar, perjalanan ini tetap memberi pelajaran berharga bagi gue untuk tidak berfikir buruk tentang apa saja yang terlihat. Alangkah baiknya inisiatif lebih cepat dilakukan daripada hanya melihat orang lain mengalami kejadian yang tidak bisa ditangani sendiri. Kita sebagai manusia merupakan makluk sosial yang saling membantu dan memberi apapun satu sama lainnya.

Thursday, July 13, 2017

Minggu ke lima_Antara Kebenaran dan Kenyataan

Salam walking guys
Kemaren, gue memperoleh pelajaran yang menarik untuk dijadikan bahan untuk mawas diri. Peristiwa tak terlupakan gue peroleh saat berjalanan-jalan dari gerbang Cileunyi menuju kampus di Jatinangor. Seorang bocah kelas 1 SMA yang mengingatkan gue pentingnya perhatian orang tua untuk anaknya.
Saat perjalanan yang menempuh jarak 3,7 km, tepatnya di pertigaan jalan antara arah menuju Jatinangor ke kanan dan Cibiru ke kiri, Gue mendapati seorang remaja yang juga berjalan kaki dengan baju yang kusam.
Gue yang saat itu sedang memikirkan strategi bagaimana agar blog gue bisa menghasilkan uang dengan cepat, bertemu lagi dengan remaja tersebut pas didepan SPBU. Seolah-olah kami berjalan beriringan menuju arah yang sama. Saat melewati jalan raya depan IPDN, gue mempercepat langkah agar bisa mendahului dia yang masih sibuk melihat ke belakang, mencari mobil yang bisa ditumpangi.
Sedang asik mendengar lagu dari headset,“a’ mau kemana?“, tanya bocah SMA yang tersenyum melihat gue seperti orang yang sok berani berjalan melewatinya
Giu berhenti, “oh, saya mau ke kampus mas”,
“mas, mau kemana emang”,
“mau ke Sumedang sih”,
“ooohhh”, Gue terus berjalan beriringan dengan dia.
Saat perjalan menuju kampus, gue terlalu melihat pakaian remaja berkulit coklat yang sudah terlalu kusut. Gue berfikir, apa yang terjadi dengannya?, kenapa dia bisa berjalan ke Sumedang?, dan apakah dia benar orang yang sedang berjalan kaki atau sedang iseng-iseng mencari korban untuk dipalak?.
“a’,kenapa jalan juga ya”, sambil melihat gue yang terlihat lelah berjalan.
Dia yang saat itu membawa tas kecil masih terasa segar, namun gue melihat raut wajah yang terlihat lelah dan lungkai, seperti ada sebuah masalah yang hinggap pada dirinya.
Sekitar 50 meter sebelum sampai di gerbang kampus,
“mas, kok bisa jalan ke Sumedang?, tanya dengan rasa penarasan,
”ya, nggk punya uang a”,
“kok bisa?”,
“saya habis main ke rumah teman”
Gue semakin penasaran, langkah gue perlambat sambil memegang pundak remaja tersebut.
“emang bawa uang awalnya dari Sumedang berapa ya mas”,
“25.000 rupiah a”,
“nekat juga”, sanggah gue pada remaja yang terlihat semakin lelah.
Gue mengeluarkan uang sebanyak 12.000 rupiah, kemudian memberikannya kepada  remaja tersebut, “eh, nggk usah mas”, gue menahan tangannya agar tidak mengembalikan uang gue kembali.
“Ambil, ambil,  saya ikhlas kok”
“tapi mas mahasiswa, perlu duit”,
“aman kok”
Uang gue akhirnya diterima. Beberapa saat sampai di gerbang, gue memberikan pertanyaan yang tiak bisa dia jawab, “orang tuanya nggk tau kalau masnya pergi”, dia langsung menunduk saat pertanyaan terakhir gue berikan.
“tau kok”, muka rada cemas
Pernyataan gue sembari melihat matanya, “tapi, orang tuanya tau nggk kalau mas nya kesini jalan kaki terus nebeng sama orang lain ke Bandung”,
“nggk mas”, pungkas remaja yang semakin menghindari pertanyaan gue.
Dia kemudian langsung melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Sari, kemudian naik angkot menuju Sumedang. Percapakapan kami masih gantung, gue masih bingung, kenapa mukanya langsung terlihat pudar dan gue merasa dia punya masalah yang berat.
Sampai malam menjelang, gue menceritakan kejadian yang dialami tadi kepada teman di kampus. Dia mengatakan, “hal tersebut memang sudah banyak terjadi pada beberapa remaja, mungkin mereka sedang mengalami masalah dalam keluarganya sehingga bisa melakukan tindakan sesuka hati dan mengikuti nafsu jahat yang mendekati. Semua kembali kepada masing-masing diri, jika kamunya sudah terbiasa berbuat baik kepada sesama, maka perbuatan memberi uang seperti yang kamu lakukan tadi tidak akan terlalu kamu fikirkan baik buruknya. Entah saat itu kamu sedang ditipu atau memang sedang berhadapan dengan orang yang sedang membutuhkan pertolonganmu”.
Gue beranggapan, pernyataan teman gue tadi memberikan isyarat. Jika ingin berbuat baik, maka lakukanlah !, jangan menunggu dan jangan berdebat dalam hati.

Sunday, June 25, 2017

Minggu Ketiga di Jalan Sepi Sebagai Petunjuk Arah

Salam walking guys,
Pada perjalanan gue yang ketiga ini, lokasi yang berbeda dilewati, serta adanya jalan baru yang gue tempuh sebagai jalur alternatif ke jalan aspal yang lebih besar di kawasan Cikuda, Jatinangor..
Gue memulai start jalan dari UKM barat kampus menuju Fakultas Kedokteran, kemudian langsung mengarah ke Fakultas Keperawatan, dari Fakultas Keperawatan, sebuah pemandangan indah terlihat di Gedung Dekanat Fakultas.
Selesai melewati Gedung Keperawatan, gue berjalan menuju Gedung Lab baru di pusat kampus Unpad Jatinangor. Gue melihat bangunan baru dengan arsitektur yang berbeda dari bangunan lainnya. Warna cerah dan bentuk lorong yang unik banyak mengundang mahasiswa serta warga sekitaran Jatinangor mengabadikan diri di sisi bangunan unik tersebut.
Rasa penasaran mengajak gue untuk mengelilingi gedung tiga tingkat tersebut. Selesai melewati Gedung Lab, Gue langsung mengambil arah kiri, tepatnya jalan aspal yang berada di belakang Fakultas Ilmu Komunikasi. Jalur lurus sepanjang 100 meter menuju bundaran depan rektorat dilalui dengan rasa lelah yang belum sama sekali terasa. Sampai di Bundaran, Gue langsung mengambil belok kanan menuju bangunan lama Fakultas Pertanian.
Memasuki bagian depam gedung, gue melihat arah menuju jalan yang tidak terlalu bagus, masih banyak kerikil besar dan kecil yang dilewati. Sebuah taman indah terpampang jelas di depan mata, luas lahan sawah yang menjadi tempat berkumpul kerbau dengan burung pipit diatas punggungnya. Suasana alam tersebut mengingatkan gue saat berada di kampung halaman, Solok.
Gue berhenti dan melihat area persawahan, sangat banyak karunia tuhan yang telah memberikan kenikmatan mata saat melihat hijaunya alam, Indonesia. Betapa indahnya sang kreator alam membuat alam ini, pandangan mata tidak bisa lepas menuju hutan di bagian ujung sawah.
Lika liku jalan dilewati. Terdapat pohon bambu yang berada di bagian kanan jalan. Setiap langkah kaki yang menginjak dedaunan menghasilkan suara, sesekali suara tersebut beriringan dengan desiran pohon bambu yang terkena angin. Gue hanya berfikir positif dengan jalanan yang dilewati saat waktu masih menunjukkan jam 8 pagi.
Setelah melewati jalan yang dirasa aneh tersebut, Gue melihat ada sekitar lima anak-anak yang bermain di kolam ikan, sehingga mengejutkan perjalanan saat melintasi bagian depan rumah mereka.
"Ye ye ye, awas a,” sorak sorai anak-anak yang sedang main air. Gue langsung menghindari permainan anak-anak yang sedang berjelanjang bulat tersebut.
"weii, jangan lempar-lempar air dek”, anak-anak tersebut mengabaikan perkataan Gue. Sesegera mungkin Gue langsung berlari dari siraman air bocah-bocah girang yang saat itu langsung ditegur oleh Ibunya.
Gue melanjutkan perjalanan dengan baju yang sedikit basah. Jalan mulai menanjak mencapai kemiringan 45 derajat. Keringat mulai bercucuran dengan kaki yang mulai terasa berat saat melangkah.
Lelah, capek, letih dan lesu mulai datang. Beruntung, puncak jalan menanjak terlihat, demi sampai lebih cepat di atas jalan yang belum tahu bentuk jalannya, Gue berlari dan akhirnya sampai pada jalan besar yang sering dilalui saat berkendara ke Gunung Manglayang.
Sampai di ujung jalan menanjak, Gue menghela nafas dalam-dalam dan menenangkan diri sambil mendengarkan lagu. Musik disko menyegerakan langkah sampai di persimpangan menuju kolam renang yang biasa didatangi. Gue membayangkan, seandainya berenang langsung di kolam tersebut, mungkin tubuh akan serasa segar kembali. Tapi, apa mau dikata, pemikiran tersebut hanya khayalan biasa yang tidak akan terjadi.
Perjalanan balik ke UKM Barat tempat gue tidur semalam dimulai.
Gue melewati jalur berbeda dari jalur yang sebelumnya. Gue menempuh Jembatan Cincin yang sudah terkenal di Jatinangor. Tingginya jembatan membuat gue merasa ngeri saat melihat ke bawah jembatan.
Jembatan cincin menjadi saksi sejarah penjajahan yang terjadi di Indonesia. Satu cerita yang gue dapat, saat malam hari, katanya ada sosok makluk halus suka berdiri di tepian jembatan.
 "Wuiiss, suara angin berhembus saat gue melintas sendiri di jembatan.
“ah, bodo amat lah,” sembari berjalan lebih cepat dengan bulu kuduk yang berdiri.
Walau masih belum terlalu siang, imajinasi gue terlalu capat membawa gue memikirkan hal negative tentang Jembatan tersebut.
“Bodo amat, bodo amat,” langkah semakin dipercepat.
Selesai melintasi Jembatan tersebut, Gue berbelok ke sebelah kanan menuju gerbang kecil kampus. Gue masih ingat kata Biro Sarana dan Prasana kampus ketika gue menjabat sebagai staf di organisasi mahasiswa setahun yang lalu.
Hasil percakapan setahun yang lalu
“gerbang kampus kita itu buanyak banget ri.” kata bapak kepala biro.
“ada berapa emang pak,” tanya gue dengan penasaran.
Si bapak menyebut dengan menunjuk jari jemarinya,
“ada sekitar 6 – 7 gerbang, kebanyakan jalan tikus,” ujar bapak. Pembicaraan yang ditulis dalam laporan sewaktu berada di Organisasi tersebut.
Gue memasuki gerbang kecil menuju Fakultas Satra. Jalanan sangat ramai, serta masyarakat sudah mulai meramaikan jalur lintas fakultas satu ke fakultas yang lainnya.
Selesai melintasi jalur yang berada depan Sakultas Satra, gue melewati bundaran yang berada dekat tanjakan cinta kampus. Perjalanan selesai dengan rasa lelah yang dibasahi air minum penyegar dahaga.
Hal baru gue temukan saat perjalanan ketiga ini adalah adanya jalur baru yang  didapatkan dari jalan lintas Cikuda menuju kawasan kampus. Jalan yang baru tetap memberi cerita baru dengan suasana serta budaya penduduk yang baru diketahui. Akan ada hal menarik saat sebuah perjalanan pagi memberi banyak inspirasi.
Let’s go to the new street


Sunday, June 18, 2017

Nemu Keboooo

Jalan-jalan jam 6 pagi.
Semua makluk tuhan berhak bersantai layaknya di pantai. Tak terkecuali mesin hidup yang satu ini, terlihat santai tapi sebenarnya lelah dengan semua yang dikerjakan. Hanya tanah basah yang menjadi tumpuan dan tempat bersandar selama proses istirahat berlangsung.
Kebo, program kerjanya, membuat tanah sawah menjadi gembur agar bisa ditanami padi. Job desknya, menjalankan program yang dibuat petani. Teknisnya, mengitari area yang telah diploting. Semua hanya untuk satu hal, memberi yang terbaik pada yang membutuhkan karbohidrat.
Satu hal, hewan besar berkulit tebal telah memberi banyak pelajaran. Badan berisi tetap mematuhi perintah dari majikan yang kemungkinan besar juga memberi kebutuhan yang pas bagi si kebo. Kita bisa mengibaratkan kebiasaan kebo yang selalu patuh kepada majikannya itu seperti kepatuhan kita terhadap perintah tuhan. Tuhan sudah memberi apa yang dibutuhkan, kita juga harus membayar apa yang telah diberikan dengan cara mematuhi peraturannya.
Banyak yang bisa kita pelajari dari apa yang dilihat. Waktu tidak menjamin kapan kita akan sadar dengan sesuatu yang sebenarnya baik untuk kita lakukan. Namun, jika kita mengetahui seberapa besar kebutuhan diri terhadap tuhan, maka sebesar itulah bayaran yang harus ditebus agar semua kenikmatan yang diberikan tuhan tetap terasa pada diri pribadi.
Makluk yang tidak punya fikiran saja, patuh dengan aturan karena ada hukuman di balik itu, "apa kita yang punya fikiran harus patuh dengan segala peraturan yang telah di tetapkan?" "apa harus dipecut dahulu baru mengerjakan"?, ohh come ooonnnn.
Kode peringatan  yang diperoleh seseorang yang berjalan kemana-kemana, kemudian menemukan penampakan dari yang terlihat dan mulai mengetik  depan pagar apartemen. Tujuan hanya satu, ingin saling mengingatkan akan pentingnya jalan-jalan di pagi hari, bukan meneruskan tidur karena hari libur.
Yuk, keluar dari zona nyaman dan cari yang bisa menginspirasimu di hari yang cerah

Friday, June 16, 2017

Minggu kedua lebih enjoy sepertinya

Hari ini gue mencoba mencari suasana baru di tempat yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini, gue melintasi jalan raya dipati ukur menuju sekeola.  Pengalaman baru lagi-lagi memberi kesan bagi gue ketika sampai di lokasi dengan peluh yang sudah membasahi sekujur tubuh.
Sebenarnya gue belum ada fikiran untuk menempuh perjalanan baru di Bandung. Tepat setelah sarapan pagi, gue bercerita dengan penjual lontong padang perihal tulisan gue yang ditolak terus oleh media berita. Muka mulai tertekun ke bawah saat bercakap dengan uda penjual sarapan lezat tersebut. 
"Ya, mungkin kamu harus belajar dan lebih memperhatikan ruang lingkup sekitar lagi ri," nasehat uda yang membuat gue harus mencari inspirasi baru dalam menulis.
Sembari melihat lalu lalang mobil yang melintas di jalan raya jatinangor, " da, kalau ada damri, berhentiin ya da,"
"Buat apa emang?"
"Pengen ngedamri aja sih da," gue terus melihat ke arah kanan jalan, menunggu damri yang akan datang.
Damri demi damri lewat, belum ada satupun bus jurusan yang akan gue naiki. Setengah jam berlalu, damri yang ditunggupun datang. Tangan uda melambai memberhentikan damri yang semakin mengarah ke kiri jalan.
"Da, jalan dulu ya"
"Yok, nikmati inspirasimu hari ini," teriak uda saat bus mau melaju kembali.
Bus mulai melaju dengan santai,  sementara itu aplikasi note di android mulai di buka. Beberapa ide mulai mengalir dikepala pertanda perjalanan yang akan di tempuh semakin menarik dengan berbagai penglihatan baru di jalur tol cileunyi - moh toha.
Jari mulai menempel di touch screen android, ide yang sudah mulai tumpah dikeluarkan tahap demi tahap. Sampai pada akhirnya, ide tersebut berhenti mengalir saat bapak petugas yang datang menghitung jumlah penumpang menyenggol lutut kanan gue. 
"Ops, punten mas,"
"Eh, iya pak," sontak, ide yang ada di kepala kembali hilang tidak tau kemana.
Gue tidak menyangka akan secepat itu ide yang terkumpul hilang seketika karena sebuah tabrakan yang gue anggap sepele. Gue mencoba  menutup mata dan menemukan ide yang mungkin jatuh bagian lain saraf. Benturan demi benturan terjadi, sebab gue merasakan sendiri kepala berada tepat depan tiang pegangan penumpang damri.
Suasana gelap tanpa ada seberkas cahaya yang terlihat dipelupuk mata. Gue masih merasakan pergerakan damri ke kanan dan kiri. Banyak pengereman yang dilakukan damri membuat mata semakin tidak mau dibuka.
Beberapa menit kemudian, gue mengalami ketenangan dalam diri. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh badan diri. Semua terasa lepas, tidak ada yang mengganggu pandangan mata dan pendengaran telinga. Semuanya terasa damai dan nikmat saat semuanya memberikan dampak yang baik bagi kesehatan tubuh gue yang semakin berusia.
Saat gue terbangun, sinar terang datang menyambar kedua mata, membawa gue ke dunia yang sebenanrnya ingin didatangi. Tempat yang mengantarkan gue menuju rumah idola balap gue si nomor 46. Pembalap yang menjadi entertanainer dunia sampai sekarang, dia yang tinggal di negara  pengasil makanan lezat pizza.
Banyaknya kegiatan yang gue lakukan bersama sang idola membuat  gue betah berlama-lama di italia, negara tempat tinggal sang pembalap berjulukan the dokter ini. Satu kegiatan terakhir kami yaitu naik bus keliling kota roma dengan destinasi wisata paling indah yang belum pernah gue rasakan sebelumnya.
Selesai mengunjungi roma, kami kembali ke bus dan gue langsung beristirahat dalam bus yang memiliki fasilitas lengkap miliki valentino rossi. 
"Mas, bangun," suara aneh terdengar menuju gendang telinga. Tidak mungkin rasanya, seorang rossi memanggil gue dengan sebutan mas. 
"Aahh, nantinya aja da," ujar gue ke da rossi. Gue belum mau membuka mata karena suasana bus sangat gelap.
"Mas, kita udah di dipati ukur mas," kata bapak petugas yang membangunkan gue setelah tidur dari gerbang keluar tol moh toha.
Alhasil, gue malu sendiri depan bapak supir yang tertawa saat gue menyebutnya "da valentino rossi, nanti aja keluarnya". Gue langsung keluar dengan muka yang sudah memerah setelah dilihat oleh mahasiswa yang juga naik damri.
Seluruh ide yang masuk ke kepala saat berada di damri keluar kembali, seperti damri oh damri, serunya naik damri dengan ide terbaru, serta tema terakhir yang selalu menjadi baham cerita gue yaitu jalan weekday ditempat yang baru.
Jangan terlalu berharap dengan mimpi yang belum diusakan. Akan menjadi nyata saat usaha tersebut mencapai tujuan akhir dengan kerja keras serta semangat tinggi.
Berikanlah pencerahan pada otak yang memiliki keterbatasan dalam berfikir keras. Jadikan sarana hobi menjadi sebuah penyegar saat otak otak lelag berfikir karema terlalu banyak dipaksakan.
Tetap mencari inspirasi, karena ada pembaca yang menunggu karya besarmu.

Saturday, June 10, 2017

Minggu Pertama Berjalan Bertemu Siapa

Salam walking guys,
Minggu pertama jalan-jalan menjadi awal bagi Boy menemukan konsep baru dalam menulis. Banyak hal-hal baru yang diperoleh selama langkah kaki mengitari jalan kecil yang belum jelas bagaimana kondisinya.
Kawasan pertama dilewati hanya kampus tempat Boy kuliah. Menembus jalan yang tidak biasa dilewati mobil atau motor. Walau hanya berkeliling kampus, Boy banyak menemukan jalur-jalur alternatif baru dari satu fakultas ke fakultas lain.
Boy berjalan menuju bundaran sebelum tanjakan cinta, istilah yang telah lama viral di kampus. Jam sudah menunjukkan pukul 6.45 pagi, warga Jatinangor sudah banyak yang memasuki kawasan kampus. Ada yang jogging, jalan-jalan, serta ada kemesraan antara dua remaja berkulit hitam dan putih saat Boy berjalan tepat di depan mereka yang memakai baju dengan warna yang sama.
Perjalanan dilanjutkan dengan terus mengikuti jalur menanjak menuju Fakultas Ekonomi. Boy terus menyisiri jalan menuju Gedung Biru, posisi gedung Fakultas Ekonomi dengan Gedung Biru dipisahkan oleh jalan lintas yang bisa dilalui oleh dua mobil. Jadi,Boy langsung menuju bagian kiri Gedung Biru tepatnya melewati parkiran motor.
Tiba-tiba sebuah suttlecook mengarah menuju Boy
“a’ lempar bolanya,” muka imut seorang anak yang tengah asih bermain badminton.
Boy langsung melemparkan suttlecook untuk anak kecil yang menggemaskan tersebut.  Setelah bola dilempar, Boy dapat tantangan baru dari gadis cantik yang ternyata adalah kakak dari bocah kecil. Raket diberikan oleh kakaknya yang selalu tersenyum saat Boy melemparkan bola kepada adeknya,
“ikut main ya mas,” tawar gadis berbaju biru dengan sepatu putih.
“saya tidak terlalu pandai teh,”
“tidak apa-apa, santai aja,”
Permainan berlangsung seru antara Boy dengan gadis tersebut. Pukulan demi pukulan dilakukan dengan penuh semangat.
 “smash !” teriak gadis saat memukul suttlecook lebih keras.
Permainan selesai dengan keringat yang sudah membasahi badan,
“mas, makasih ya, lumayan keringat aku banyak keluar”
“santai aja teh, saya jalan lagi ya”, ujar Boy saat mengembalikan raket ke adeknya
Boy melanjutkan perjalanan menuju Fakultas Peternakan, melewati gerbang masjid berwarna putih serta tampak dari kejauhan mahasiswa yang sedang mengadakan acara pengajian.
Boy memasuki jalur yang belum dikenal sebelumnya, sampai di dua persimpangan, satu menuju gerbang keluar fakultas dan satu lagi menuju laboratorium Fakultas Teknologi Pertanian, terdapat dua kendaraan yang biasa digunakan untuk menanam padi.
Imajinasi horor kembali mendatangi pikiran Boy. Sampai di gudang yang berisi padi, Boy berjalan menuju jalur yang tidak berpenghujung. Bagian yang terlihat hanya gudang sampah dengan bau yang sangat menyengat. Akhirnya Boy balik dan kembali ke jalur yang berada di tepi gedung.
“siiirrr”, bunyi padi jatuh dari karung
Mata langsung melihat dan memperhatikan detail yang terjadi, tidak ada padi yang berserakan, mungkin hanya khayalan Boy semata. “bodo amat, bodo amat”, ujar Boy menuju jalur yang telah dilewati tadi.
Boy sampai depan Gedung Dekanat Fakultas Pertanian, terus melewati bagian sebelah kiri gedung. Setelah sampai di belakang gedung, ternyata Boy melihat lapangan futsal Fakultas Pertanian. Tempat yang masih Boy ingat dan kawasan yang sering dipakai oleh UKM di kampus untuk berkegiatan olahraga.
Terus berjalan menuju jalan tepi kantin mipa, jalur yang Boy lewati berikutnya adalah Fakultas Psikologi. “waw”, mata tak kuasa melihat mahasiswi yang sedang mengadakan kegiatan di masjid Fakultas. Banyaknya mahasiswi disekitaran masjid membuat Boy langsung berjalan cepat, takut mengganggu kegiatan mereka yang tengah asik bercengkrama membahas ‘Bagaimana Menjadi Wanita Shalihah yang Baik Menurut Islam’.
Selesai melewati fakultas tersebut, Boy kembali ke Sekre UKM Barat melewati depan Fakultas Keperawatan dan Kedokteran untuk beristirahat. Sampai di sekre, Boy merebahkan badan dan mengevaluasi perjalanan yang telah dilakukan.
Boy mempercepat permainan agar terhindar dari godaan yang datang dari sisi manapun. Tetap menjaga diri dari nafsu yang terus membayangi adalah cara terbaik bagi untuk tetap istiqomah dengan keputusan yang diambil. Selain itu, banyaknya jalur yang baru Boy temui menandakan masih banyaknya jalan hidup yang bisa ditempuh walau itu dirasa tidak mungkin di jalani.

Jalan-jalan Minggu, Seru

Gue nggk tahu kenapa, hal yang paling membuat hati merasa senang dan nyaman adalah ketika perjalanan yang dilalui penuh dengan kejutan baru. Setiap langkah tidak pernah ada kordinasi antara kaki dan fikiran. Alhasil, tidak pernah terbayangkan akan seperti apa nantinya momen perjalanan di pagi hari yang digeluti hampir tiap minggu.
Setiap perbedaan membuat nalar bekerja dengan baik. Dokumentasi selalu tersimpang dalam memori kepala yang setiap saat terus menampung segala kejadian, termasuk peristiwa berbeda yang akan selalu di tempatkan pada posisi teratas ingatan agar bisa diceritakan sebagai bahan renungan bagi si pembaca..
Jalan tiap minggu ini gue konsep sama dengan perjalanan yang ditempuh dengan sepeda motor. Seperti halnya touring, gue menempuh perjalanan kebanyakan di luar jalur yang ditetapkan GPS. Kebanyakan jalur yang ditempuh menunjukkan arah yang berbeda dari digital petunjuk jalan.
Tetap memberi senyuman kepada siapapun yang tampak tidak jauh dari pelupuk mata. Bisa saja, suatu saat gue akan bertemu dengan mereka yang katanya pemilik jalan yang gue lalui. Setiap sapaan adalah kode sebuah keakraban antar sesama pemilik mata.
Pada akhir perjalanan, selalu ada hal berbeda. Sebaiknya dievaluasi untuk perbaikan dan peningkatan ke depannya. Persiapkan mental dan fisik yang selalu siaga satu saat ancaman tiba-tiba datang tidak tahu kapan, dimana dan bagaimana nantinya.
Spirit to your self

Namanya juga, Bosssss