footer social

Pages

Sunday, November 5, 2017

Kejutan

Kejutan, Alhamdulillah.

Sebuah kata yang selalu membuat manusia senang atau sedih. Kejutan bisa datang dari siapa saja. Kapan, dimana, bagaimana, hanya tuhan yang mengaturnya, tiada makluk yang dapat menghindarinya.

Berbicara tentang kejutan, Bujang yang berprofesi sebagai pedagang, tentunya sering mengalami hal tersebut. Mulai dari turun sampai naiknya penjualan selalu dialami setiap hari, bahkan dalam kurun waktu setengah hari berjualan, kejutan demi kejutan datang sendiri tanpa disadari.

Yaps, kejutan yang paling sering dialami adalah ketika penjualan sedang turun hampir dari 4 hari berturut-turut, tiba-tiba saja keesokan harinya, uang mengalir bagai air deras di sungai yang habis diguyur hujan, hmmm, deras.

Barang yang terjejer rapi laku terjual, sampai-sampai waktu untuk beristihatpun terpakai karena banyaknya pelanggan yang harus dilayani.

Hal tersebut tentu menjadi kesan tersendiri bagi pedagang, rasa syukur setelah memperoleh hasil diluar prakiraan menjadi ladang untuk meningkatkan untung yang lebih besar. Selain itu, pastinya sedekah sebagai ucapan terimakasih kepada tuhan harus terlaksana, mana tau kejutan tak terduga datang lagi di waktu lainnya.

Semua sudah diatur dan telah dibagi-bagi oleh tuhan sesuai dengan usahanya. Siapa yang berusaha dengan sungguh2, dan bertawakal kepada tuhan setiap waktunya, maka dialah yang pantas mendapatkan hasil yang maksimal.

Dilain hal,
Walau sudah berusaha dan berdo'a semaksimal mungkin, kadang tuhan memberikan kejutan berupa penurunan hasil penjualan. Saat penjualan turun, hatipun galau dan membuat tingkat emosional tidak stabil, lebih kepada galau tepatnya. Ketika hal tersebut terjadi, disaat itulah sebuah pelajaran penuh dengan pengalaman yang bermafaat didapati, and Bujang was sure.

Kurangi mengeluh dan tetaplah pada kondisi awal dimulainya jual beli yaitu, senyum hangat sebagai tanda pemancing semangat.

Bujang jadi ingat kalimat, "Kejutan bisa dialami hampir setiap hari. Kapan, dimana, dan bagaimana caranya ?, tetaplah bertawakal sembari menunggu kesempatan. Bersyukurlah, bersyukurlah !!!" hehe

thankssss....

Saturday, October 21, 2017

Jalan Menuju Bandara Stefanus Rumbewas, Yapen.

Setelah menikmati indahnya pemandangan di Pantai Abukarai, Bandara Stevanus Rumbewas menjadi target selanjutnya yang akan dikunjungi.

***
Yaps, sarapan pagi di Warung Soto Pojok selesai.
Gue langsung berangkat menuju bandara dengan penuh rasa penasaran.

Baru 10 kilometer berlalu, jalanan berpasir sisa batuan kapur yang jatuh membuat perjalanan terasa menantang.

Bagaimana tidak, Sebelah kanan jalan yang juga menjadi pembatas jalan adalah tebing tinggi yang telah dikikis. Sedangkan, sebelah kiri jalan yaitu, jurang yang terdapat perpohonan dan batuan2 kecil yang akan menjadi pasir putih.

Selesai melewati jalan yang bersimbah pasir putih dengan debu yang membuat nafas sesah, perjalanan diteruskan menuju jalanan yang sedikit lebih kecil dengan lubang beraneka ukuran dimana-mana.

Walau banyak lubang, namun jalan rusak yang dilalui ini menyajikan pesona laut biru. Ngeri, mantap, serta alami. Hal itulah yang terpintas di kepala. Ngeri, karena sangat tinggi dengan pasir yang berserakan dan jurang yang siap menanti. Mantap, hijaunya gunung yang dilengkapi dengan lautan samudra, menambah sejuknya udara yang terasa lebih alami.

****
Sedang asiknya berkendara…

Baru tersadar, bensin belum sempat diisi full. Jauhnya perjalanan membuat jarum petunjuk bensin menuju titik E(empty). Sementara itu, perjalanan masih panjang dengan jalur yang terlihat lurus terus ke depan.

***
Sembari mengisi bensin, gue yang masih ragu dengan arah jalan menanyakan arah bandara kepada bapak penjual bensin.

”benar, lurus terus sampai bertemu persimpangan ke arah kanan”, ujar bapak yang menjual bensin.

Satu botol bensin dijual seharga 10.000 rupiah, cukup murah, karena infomasi yang diberikan jauh lebih berharga dari sekedar harga satu liter bensin.

Jalan yang dilalui tidak serta merta buruk semua. Tapi, jika tidak ada jalan yang buruk, mungkin gue tidak akan bercerita seperti ini, Hehe.

Gue memasuki jalanan lurus panjang sekitar 500 meter. Sepi dan tidak ada yang mengisi, kecepatanpun dimaksimalkan. Motor metik yang biasa dipakai untuk mengantar barang dari toko ke pelanggan bisa menempuh kecepatan sampai 120 km/jam. Sungguh keren untuk motor dinas yang jarang diservis.

            Ngeeeeeaanggg …. Laju motor semakin menjadi-jadi. Terbukti dengan bunyi semakin keras terdengar dan gerataran yang semakin bertambah besar.

Mata mulai mengeluarkan air, karena Gue sama sekali tidak memakai helm. Tidak ada polisi dari awal perjalanan, cuyy. Jangankan itu, semenjak sampai di Kota Serui, Gue belum pernah memakai helm saat berjalanan kemana-kemana. Ya begitulah kebiasaan yang masih dilakukan sampai sekarang.

Belokan mulai terlihat, kecepatan dituruhkan demi sebuah keamanan. Baru sampai dibelokan pertama, kecepatan masih sekitaran 60 km/jam. Tiba-tiba saja jalanan berlubang menyamnut kedatangan gue.

(Tak tak kleka klekak) bunyi dentuman suspensi dan jok yang tidak terkunci karena bobot yang berat. Kecepatan langsung ditambah sesaat jalan mulus dilalui.

Jembatan yang berada setelah jalanan mulus tersebut menambah nafsu gue untuk lebih cepat berkendara, sehingga motor terus bertambah cepat sampai di jalan yang menanjak yang diteruskan dengan tikungan tajam.

Tak pernah ku sangka dan tak pernah ku duga…

Tiba-tiba, (Bruuuumnmmm) … “aaaaaakk”, teriak Gue saat jalan yang dilalui setelah jembatan, jalan menanjak serta tikungan dalam kondisi menurun tajam. Hati cemas perasaan takut datang, jika rem diinjak kuat-kuat, maka motor akan tergelincir.

***
Beberapa saat kemudian,“Yeeaahh,” Gue masih diberi keselamatan oleh tuhan. Motor yang melesat kencang bisa dikendalikan walau nyaris tergelincir saat rem belakang nge drift saat dibelokan.

Selamat, selamat, tangan kiri mengusap dada.

Selesai melewati jalan menurun, Gue sampai di persimpangan yang memiliki dua jalur yang sama. Layaknya jalur perpisahan antara Dominic Toretto dan Brain O’Corner di film Fast and Forious 7. Jalur dengan bentuk dan ukuran yang sama. Tanda papan jalan menjadi petunjuk yang jelas bagi Gue. Tidak ada tulisan, tanda petunjuk hanya ditempel simbol pesawat saja.

Rumah penduduk mulai terlihat, gue merasa seikit lebih lega. Sapaan demi sapaan tanda keakraban ala papua diucapkan. Jumlah rumah yang bisa dihitung dengan jari, hilang begitu saja dari pandangan setelah 300 meter jalan dilalui. Gue memasuki jalan yang lebih gelap karena bagian atas tertutupi oleh berbagai macam tumbuhan lebat. 

Gue sampai pada simbol terakhir, petunjuk dengan gambar pesawat yang mengarah kesebelah kanan. Jalan sedikit lebar dengan pagar besi yang berada di sisi kiri kanan jalan.

Sampai di Bandara, Gue tidak melihat adanya orang-orang yang bekerja baik itu staf kantoran, satpam, serta karyawan lainnya. Rasa penasaran muncul ketika Gue ragu, apakah sudah di Banbara atau belum. Saat seorang bapak sedang menyapu lantai, beliau mengatakan, kegiatan kerja hanya sebentar saja, mengingat jumlah penerbangan hanya sekali dalam sehari dengan satu maskapai saja, pesawat Trigana Air yang terbang dari Jayapura – Serui – Biak – Serui – Jayapura dalam sehari.

Pantas sepi dan tidak terlihat aktifitas di Bandara. Dengan penuh penasaran, Gue langsung memasuki landasan pesawat dan mengabadikan sedikit momen berharga berupa bagian kiri kanan lintasan terdapat hutan, jarang-jarang motor bisa pribadi melintas di landasan pesawat.

Gue bersyukur memiliki jiwa nekat. Jika tidak ada kemampuan seperti itu, mungkin Gue tak akan pernah ke Bandara karena harus menunggu orang lain agar mau ikut dengan Gue.

Hikmah besar yang bisa diambil dari perjalanan gue kemaren itu. Saling menyapa walau tidak kenal dengan warga lokal, apalagi Papua yang dikenal memiliki ikatan persaudaraan yang kuat dengan sesama. Jika susah untuk tersenyum saat menyapa, klason kendaraan setidaknya bisa digunakan untuk menyapa, karena Papua bersaudara.

Hati-hati dalam menempuh perjalanan panjang dan tidak pernah dilalui. GPS yang tidak aktif karena sinyal yang tidak ada akan membuat orang yang biasa menggunakannya susah untuk mencari petunjuk jalan, disitulah sebuah keakraban yang diawali dengan sapaan digunakan. Warga lokal akan senang hati memberikan petunjuk arah  yang jelas.

Nikmati setiap keindahan alam yang dilewati selama perjalanan berlangsung. Sekian dari terimakasih. Yuk, keluar dari zona nyaman dan pergi ke tempat yang baru

Friday, October 20, 2017

Jalan Tak Berujung


Jam 8 pagi waktu Indonesia timur.

Setelah sarapan di warung pojok dekat rumah, Gue berkeinginan jalan-jalan ke Manawi lagi. Banyak pemandangan serta tempat bagus yang menurut gue pantas dijadikan wisata rekomendasi bagi yang berkunjung ke Pulau Yapen.

Dengan semangat sentosa dan didukung oleh keinginan yang luruh, gue melangkahkan kaki, mengayunkan tangan menuju motor metik 110 cc yang tengah parkir di depan warung soto.
"Brum," mesin motor menyala.

Manawi merupakan salah satu daerah kecil di Pulau Yapen. Pertama kali sampai di daerah ini, tidak terlihat keramaian atau kebisingan dari kendaraan. Hanya beberapa motor yang lewat, ditambah dengan warga yang sedang melakukan aktifitasnya masing-masing.

-----
Menuju Manawi
Perjalanan ke Manawi cukup mendebarkan jantung. Jalanan yang basah dengan tanjakan tiada henti membuat gue harus mengatur kecepatan motor, hal tersebut bertujuan agar tidak terjadi kecelakaan tunggal seperti pengendara motor yang kecelakaan 2 hari yang lalu.

****
Alhamdulilah, 45 menit berlalu, gue sampai di Manawi.
Tujuan gue yang sebenarnya bukanlah ke Manawi, melainkan jalan-jalan ke lokasi baru yang belum diketahui. Keingintahuan mengenai Pulau yang memiliki wisata laut mempesona ini terus bertambah seiring banyaknya informasi yang diperoleh dari pelanggan toko asal daerah-daerah kecil di Pulau.

______
Jam 9 pagi.
Jalanan masih sepi, yang terlihat hanya beberapa orang dengan pakaian yang rapi.

"Hmm," Gue menyadari setelah melihat kemana mereka pergi. Ternyata masyarakat sekitar akan menjalankan ibadahnya.

Berhenti di salah satu kedai,
Gue beristirahat sejenak, kemudian minum air yang dibawa dari soto warung pojok tadi serta makan camilan kacang yang dibeli seharga 2.000 rupiah.

"Ahhh," keronggkongan segar dan gue melanjutkan perjalanan.

Walau jalur yang ditempuh dari Kota Serui ke Manawi tidak terlalu jauh, Gue tetap merasa lelah karena pengaruh jalan yang tidak rata serta banyaknya lubang-lubang kecil yang membuat suspensi motor bekerja lebih keras lagi menahan bobot tubuh gue yang beratnya mencapai 70 kg.

Selesai dan selesai, Manawi sudah dilalui.
Gue berkendara kemana saja, tidak menentu dan memilih berhenti di tempat yang pantas untuk transit atau beristirahat.

Di sepanjang jalan, akan banyak ditemui view indah.

Pantai menjadi satu dari banyaknya wisata yang menarik serta tidak pernah ada habisnya di Pulau ini. Oleh karena itu, Gue yang menyukai jalan-jalan tetap ingin berbagi informasi bagi warganet semua.

Okey... lanjut, kembali ke cerita.
***
Selesai bertanya kepada warga sekitar kemana arah perjalanan, Gue langsung melewati jalan beraspal, hanya bisa dilalui satu bis kota saja. Jalanan yang berliku serta banyaknya pendakian serta turunan tajam membuat gue harus lebih berhati-hati lagi saat berkendara di jalur hutan rimbun kepulauan Yapen.

Kendaraan tidak ada satupun yang lewat di dekat gue, termasuk kendaraan dari arah berlawanan juga tidak tampak.
Gue serasa memiliki jalur lintas ini, tidak ada lawan ataupun kawan.

Saat jalanan menurun, keheningan mulai terasa karena tarikan gas dikurangi sehingga bunyi mesin motorpun halus nyaris tidak terdengar. Bunyi-bunyian asing terdengar, seperti suara burung atau jenis unggas yang belum pernah dilihat. Selesai melewati jalur tengah hutan, gue sampai di jalur yang memperlihat panorama laut lepas serta pantai pasir putih tanpa adanya pengunjung.

Momen indah tersebut dimanfaatkan dengan memperlambat laju motor. Sesekali kamera standby untuk mengabadikan view pemandangan di tepi jalur lintas menuju Wadapi.

Saat mengabadikan pemandangan indah serta berkendara dengan motor yang masih melaju lambat, Gue teringat dengan pantai pasir putih saat dikunjungi 2 minggu yang lalu. Pantai indah dengan karangnya yang berwarna warni membuat gue ingin sekali mengunjungi pantai tersebut, lagi dan lagii.

Untuk sampai ke Pantai pasir putih, gue harus teliti saat melihat jalan masuk menuju pantai. Gerbang tidak ada, namun lokasi pantai bisa ditemukan jika Gue sendiri melihat jalan kecil dengan turunan tajam yang berada di sebelah kanan jalur lintas. Itulah petunjuk yang diperoleh dari berbagai sumber.

Perjalanan masih berlangsung, tapi jalan kecil menuju pantai tidak bersua. Gue meneruskan perjalanan hingga tersadar bahwa gue telah melewati jalan kecil ke pantai pasir putih. Hal tersebut terbukti saat melintasi jalur dengan banyaknya bahan bangunan serta kikisan batuan putih di tepi jalan, jalur yang memang tidak gue lalui saat ke pantai pasir putih.

Gue mulai merasakan aroma petualangan yang baru saja dimulai. Sinyal di hp tidak ada dan kendaraan lain tidak terlihat melewati jalur yang sama. Berhenti sejenak melepas penat, "waw," pemandangan indah lagi-lagi tersaji saat gue melihat ke belakang.

Panorama laut lepas seperti yang terlihat di serui laut juga ada, namun pada ujung penglihatan terdapat pulau yang dikelilingi oleh pasir putih. Memang berbeda dan tidak ada bosannya saat mata memandangi pasir putih yang menghiasi pulau kecil di depan mata.

Waktu menunjukkan jam 9.38 menit. Semakin siang, namun rasa penasaran terus membawa gue menembus jalan yang tidak tahu kemana ujungnya. Gue terus berkendara, sampai akhirnya jalan dengan aspal yang halus selesai dilewati. Jalan yang tidak rata ditambah lagi dengan banyak pasir serta batuan mengiri perjalanan.

Lagi-lagi, ketika sampai di jalan yang menanjak, Gue sampai di panorama yang memperlihatkan laut lepas, lebih tinggi, apalagi jalanan tersebut masih berbentuk tanah kering. Ketika gue mengambil beberapa momen menarik disana, gue bertemu dengan seorang bapak membawa gitar yang sedang berjalan menuju rumah ibadahnya.

Motor berhenti di depan si bapak berbaju putih,
"selamat pagi bapak," ujar gue dengan senyum senang.

"Pagi adek," jawab bapak.

"Mau tanya bapak, ke daerah sana itu daerah apa ya pak," pertanyaan langsung dari gue.

"Oh, kalau kesana, itu menuju wadapi terus lagi ke kokodek, adek tinggal ikuti jalan ini saja, tapi masih jelek sih jalurnya," terang bapak dengan lemah lembutnya.

"Ow begitu, ada aman itu pak," tanya gue dengan bahasa indonesia minang.

"Ih iya,?" Bapak sedikit bingung dengan ucapan gue.

"Madsudnya, aman nggk pak, jika lewat sana,?" Tanya gue dengan perasaan ragu, apakah ingin kesana atau tidak.

"Aman kok, emang mau kemana ?" tanya balik si bapak.

"Mau jalan-jalan aja sih pak,"

"Hmm, okeyyy"

"Makasih ya pak buat informasinya," ucap gue saat mengakhiri pembicaraan yang hanya sebentar.

"Sama2," jawab bapak, beliau kemudian melanjutkan jalan kaki.

Gue merasa kurang sopan terhadap si bapak. Betapa tidak, seharusnya sebelum bertanya kepada orang yang lebih tua, ada baiknya kita sebagai yang lebih muda turun terlebih dahulu kemudian baru bertanya. Basa basipun tidak masalah selagi itu tidak membuat seseorang merasa tersinggung dengan sikap kita.

Walaupun terburu-buru, kita musti tetap turun dari kendaraan dan melempar senyum terlebih dahulu sebelum percakapan dimulai.
Selesai bercakap-cakap dengan bapak yang belum diketahui namanya tadi, gue melanjutkam perjalanan menuju Wadapi yang katanya hanya beberapa meter lagi sampai.

Tujuan utama sebenarnya bukanlah Wadapi, melainkan ujung jalan di pulau ini. Namun, karena memperoleh petunjuk dari berbagai nara sumber seperti bapak tadi, gue hanya menargetkan perjalanan menuju kawasan Kokodek saja.

Teringat ucapan bapak baju putih, "jalur menuju kesana lumayan jauh lagi adek, pendakian panjang dengan jalan yang banyak batu harus dilalui terlebih dahulu," kalimat yang membuat gue terus bersemangat dan penasaran kemana jalur ini akan mengantar gue.

Setelah melewati jalan tanah kering dengan abu yang semakin banyak, Gue memasuki gerbang kampung Sion, tulisan yang tertera pada gerbang yang ukurannya muat untuk satu mobil saja.

Sebelah Gerbang Sion
Setelah memasuki gerbang, ternyata kawasan yang gue lewati merupakan Wadapi, Gue yakin jika daerah tersebut adalah wadapi karena sebuah papan menunjukkan nama "Distrik, Jalan Serui Sumberbaba, Wadapi,"

Papan Distrik Jalan Serui Sumberbaba
Yap, itulah tandanya yang gue yakini benar adanya.

Gue berhenti sejenak, melihat sekeliling area yang di tempati oleh beberapa rumah warga saja. Saat melihat lurus ke depan, gue mendapati 2 mobil jeep dengan satu mobil sedan.

Gue penasaran dan langsung menuju kesana. Hmmm, ternyata ada rumah gereja dengan banyak masyarakat yang sedang sembahyang. Perjalanan akhirnya gue lanjutkan terus ke tempat yang semakin tidak ada penghuninya, alias jalan dengan banyaknya kerikil.

Rasa penasaran terus menyuruh agar terus berkendara sampai ke tempat yang tidak tahu kemana. Kembali teringat ucapan bapak baju putih, daerah Kokodek berada setelah Wadapi dengan sedikit mengikuti jalan buruk menanjak.

Seperti film kartun let's and go, mobil masih bersemangat, ingin terus sampai di garis finis. Begitu juga khayalan gue, motor masih ingin terus melaju walau jalan sudah tidak rata lagi.

Tiba-tiba saja Gue teringat dengan janji yang harus ditepati bersama sepupu. Gue akan pergi ke Santai Sarwandori bersama saudara yang lainnya setelah zuhur. Sementara itu, waktu sudah menunjukkan pukul 9.50. Gue membatasi perjalan an sampai jam 10 saja agar bisa balik sebelum masuknya waktu zuhur.
10 menit tersisa, gue terus melaju tanpa hambatan.

"Bruk," bunyi suspensi saat menahan menahan beban berat, yaitu gue.

Suara aneh terdengar, ntah itu suara burung atau hewan lain, gue juga tidak tahu pasti. Yang jelas, waktu sudah menunjukkan jam 9.59, artinya gue harus kembali walau apapun yang terjadi.

Daerah Kokodek masih menjadi misteri bagi gue, karena belum bertemu serta menginjakkan kaki kesana.

Gue memutuskan kembali ke kota Serui.

-----
Perjalanan balik dimulai....
Pas jam 11 Siang
Hati serta pikiran sudah sinkron mengatakan, "sebaiknya pulang, waktu sudah semakin siang,"
Berbeda dengan fisik dan nafsu, "mending kamu lanjutin aja ri, nanggung woi,"
Gue bingung dengan jalan pikiran dan badan yang tidak sejalan ini. Berfikir kembali dan melihat keadaan sekitar yang penuh dengan hutan hijau yang rimbun.

Mata masih tertuju ke kiri kanan depan belakang tempat berdiri dan, "trraakkk," bunyi sesuatu yang menurut gue adalah seekor makluk buas yang siap menerkam.

"Ya allah," gue terkejut.

"Ah, mending pulang," bisikan keras dari fisik yang ternyata juga merinding saat mendengar suara tersebut.

Walau rasa takut menghampiri, momen penting masih tetap direkam.

Gue memutar balik motor, kemudian melanjutkan perjalanan balik menuju kota Serui. Sekali lagi, jalanan buruk harus dilalui dengan penuh kehati-hatian. Jalanan yang sudah hafal membuat gue mempercepat laju motor. Tidak ada keraguan yang mengganggu perjalanan kembali dari Wadapi.

Saat melewati panorama laut yang indah, Gue berhenti dan kembali memandangi indahnya ciptaan tuhan yang semakin siang semakin jelas terlihat warna warni karang-karang yang menghiasi tepian pantai.

Dalam perjalanan pulang, gue ingin memastikan tanda dari gerbang masuk pantai pasir putih. Motor yang sudah melaju dari jam 8 pagi masih kuat melaju kencang. Tikungan demi tikungan terlewati dengan santainya, akhirnya gue sampai di gerbang masuk pantai pasir putih.

"Masuk nggk ya," tanya diri dalam hati.
Tanpa berfikir panjang, gue masuk ke jalan kecil menuju pantai pasir putih Manawi.

Jalur yang ditempuh lumayan sulit, karena licin dan banyak batuan yang harus dilewati. Guncangan demi guncangan membuat gue harus berhati-hati saat berkendara.

Sampai di bibir pantai, terlihat air laut masih surut dan pasir putih indah terpancar terang. Reflek, gue langsung membawa motor dan jalan-jalan mengitari pasir putih.

Gue kembali melakukan tindakan yang nyaris membuat motor tidak bisa melaju kembali. Sisi lain dari bibir pantai yang terdapat air berkedalaman hanya 5 cm dilalui tanpa ada pemikiran jatuh atau terjadi hal yang tidak diinginkan. Cipratan mengarah kemana-mana, Gue merekam perjalanan di bibir pantai dengan jalur yang tidak rata. Lubang kecil bekas galian hewan-hewan kecil terdapat dimana-mana, menyebabkan kesimbangan terganggu, ibarat gempa berkekuatan 8 SR.

Nyaris dan nyaris sekali kamera jatuh dari pegangan. Gue tidak memberhentikan motor saat guncangan dialami, sebab jika berhenti, maka sendal akan basah dan rekaman video tidak dapat diperoleh.

Saat perjalanan masih berlangsung, kamera akhirnya terlepas. Beruntung, kamera yang terbentur dengan stang langsung ditendang hingga jatuh ke bibir pantai pasir yang kering.
"Selamat," ujar gue dalam hati.

Walau terbentur keras ke stang, kemudian tertendang sampai mengenai batu di bibir pantai yang masih kering, kamera masih aman dan tidak mati, mujuuurr.

Dengan bego nya, motor Gue berdirikan dengan standar dua kaki diatas permukaan pasir yang masih terdapat air setinggi 2 cm. Karena panik saat mengambil kamera, motor yang berada di posisi miring ke kiri ditinggal begitu saja dalam keadaan masih menyala.

Alhasil, karena pengaruh getaran yang disebabkan oleh mesin motor menyala, permukaan pasir menjadi lebih lembab dan motor yang semakin miring ke sebelah kiri akhirnya jatuh.
Walau sudah rebah, motor masih dalam keandaan hidup. Gue kemudian membawa motor keluar permukaan, dan tidak cukup sampai disitu, lubang kembali menjadi momok paling mengerikan bagi petualangan Gue di Pantai. Saat motor dibawa keluar area pasir berair, motor tiba-tiba saja mati.

"Haddeuuhhh," ujar gue dalam hati.

Suasana hening bercampur panas terik jam 11 siang, ditambah lagi dengan motor yang tiba-tiba mati. Lengkap sudah rasa lelah gue, motor yang tidak menyala diletakkan di permukaan pasir yang kering, berdiri dengan standar duanya.

Gue duduk sejenak di atas batu, menghela nafas dalam-dalam dan menenangkan diri di bawah pohon kecil di tepian pantai.

Lagi, gue terdiam dan memikirkan kelakuan aneh yang terjadi.

Kulit semakin hitam, Gue kemudian membawa motor ke tempat yang lebih nyaman untuk berteduh. Gue memeriksa kerusakan yang terjadi. Ternyata busi motor basah karena cipratan air saat gue melewati permukaan pasir putih yang digenangi air.

Setelah mengeringkan serta membersihkan kotoran yang mengenai busi. Motor kembali dinyalakan, dan “brumm” hidup kembali. Gue memberanikan diri membawa motor sampai ke permukaan pasir putih yang masih lembab.
Jepret jepret, momen motor yang difoto dengan pemandangan laut luas di atas pemukaan pasir berhasil diabadikan.

______
Masih Aman dan Nyaman
Tanggung jika gue tidak mencoba pergi ke gunungan pasir yang berjarak hanya 30 meter dari tempat bersantai saat itu. Tering matahari seketika itu hilang dari pikiran. Gue bersemangat lagi saat menuju ujung gunungan tanah berwarna kuning yang dihiasi batu-batuan.

Gue sekali lagi membawa motor yang sudah kotor dengan pasir yang sudah banyak menghiasi seluruh bodi motor sampai-sampai membuat velg berubah warna dari hitam pekat menjadi abu kehitaman.

Walau sudah terang, tapi gue masih merasakan ngeri ketika berada di pantai dengan air yang tenang.

Gue masih mempunyai khayalan seperti anak-anak. Pantai yang tenang dengan air yang berwarna biru kehijauan mengingatkan Gue dengan cerita Aligator, film yang mengisahkan anak-anak muda yang sedang liburan ke pantai. Kebanyakan meninggal ketika berada di pantai karena di makan sang predator. Hal tersebut masih tetap menjadi ketakutan bagi gue, apalagi jika pergi bertualang ke tempat yang baru.

Waktu sudah menunjukkan jam 11.30 menit. Gue menyudahi perjalanan di pantai pasir putih Manawi. Perasaan lega dan senang diperoleh selama 3 jam berada di zona baru yang memang belum pernah dilalui sebelumnya.

Gue kembali ke Serui, mengikuti keluarga serta sanak famili yang akan pergi ke pantai Almaera, bukan pantai Sarwandori. Bagi gue, tidak ada yang tidak mungkin bisa dilalui selagi mau mencobanya. Tetap konsisten dengan keputusan yang diambil tanpa merugikan orang lain.

_____
Selfie Dulu
Dan, jangan terlalu takut jika kau tersesat. Berharap ada seseorang yang membantu, itu saj sah saja. Namun, jangan terlalu berharap lebih sampai-sampai kau lupa dengan tujuan yang sebenarnya.

Smile, you don't cry

Tuesday, October 17, 2017

Rejeki Datang Bergiliran

Rezeki yang diberikan oleh Allah itu bergiliran.
Kenapa, karena gue mengamati dari beberapa bulan berjualan di Toko, tidak semua pedagang mengalami nasib yang sama satu dengan lainnya.

Nasib yang di maksud adalah, hasil jualan yang didapat setiap hari berbeda-beda.Tempat gue jualan berada di deretan toko tepat depan pasar ibu kota. Hari senin gue melihat, toko yang berada di ujung selalu didatangi oleh pembeli, baik itu langganan atau pembeli baru. Sedangkan di tempat gue serta toko yang berada di sebelah mengalami hal yang berbeda, sepi, dan hanya beberapa orang saja yang berbelanja.

Selasa menjadi hari yang nyaris sama dengan yang kemarin, hasil yang gue dapatkan hanya mengalami kenaikan 10 %saja. Namun, toko ujung mengalami nasib yang tidak jauh berbeda dari sebelumnya. Mereka mengalami penurunan, namun tidak terlalu besar.

Hal berbeda terjadi pada toko yang berada di antara toko gue dengan toko yang di ujung. Mereka mengalami kenaikan yang besar, penjualan berjalan lancar dengan hasil yang tentunya lebih besar juga.

Gue mulai berfikir, mereka yang memang lebih berpengalaman cenderung tidak mengeluh dan bersikap biasa-biasa saja, layaknya melewati hari dengan senyum ramah di muka.

***
Keesokan hari, Gue memperoleh hasil jualan yang cukup besar. Mulai pagi sampai malam hari tangan tidak hentinya memberikan barang kepada pembeli. Hasil yang melebihi target minimal membuat gue mulai bertanya, dan menjawab sendiri bahwa rezeki memang sudah ada yang mengatur.
2 - 3 hari hasil jualan gue terus meningkat di atas target rata-rata. Saat gue melihat ke toko sebelah dan ujung, yang terlihat hanya satu dua orang yang lewat atau singgah. 

Perlahan, Gue menyadari rezeki memang tuhan yang mengatur. 
Namun, mengatur seperti apa ?, Hanya tuhan yang akan memberikan jawaban dan petunjuk. Cara atau proses, kita sebagai manusia yang diberikan hak untuk berfikir, apakah rezeki tersebut diatur berdasarkan giliran, tempat atau waktu.

Kita hanya bisa berusaha dan berdoa agar diberi jalan serta hasil terbaik yang pantas untuk diterima pada hari itu juga.



Wednesday, August 23, 2017

Pantai Indah di Balik Kota

 Berlibur ke tempat yang jauh dengan pesona alam yang masih asri membuat jiwa menjadi lebih tenang dan santai. Salah satu tempat wisata yang bisa dicapai dengan jalur yang terbilang sangat sepi ada di pantai pasir putih Manawi, Kepulauan Yapen, Papua.
 Lokasi yang berada di jalur lintas menuju Dawai ini memberikan pengalaman tersendiri bagi pengunjung. Seperti, berkendara dengan sepi kendaraan yang lewat, hijaunya hutan yang mengiringi perjalanan, serta banyaknya pemandangan indah laut ketika menyelesaikan beberapa tanjakan saat melewati jalur yang hanya bisa dilalui satu mobil truk saja.
 Gue yang berkesempatan datang ke pantai yang memiliki biota laut cantik ini mengagumi indahnya wisata bahari yang masih sepi pengunjung. Hal tersebut disebabkan karena belum ramainya publikasi serta promo wisata di pulau ini. Selain itu, jalur lintas menuju pantai memang tidak ada ojeg yang bisa mengantar, kebanyakan wisatawan pergi dengan menggunakan kendaraan pribadi, dan itupun motor
 Saat berangkat dengan menggunakan motor, jalan yang mendaki dan menurun dari Serui menyebabkan bahan bakar motor cepat habis. Sangat disarankan untuk mengisi penuh tangki motor atau membawa bahan bakar cadangan agar sewaktu-waktu bisa bermanfaat saat Spidometer sudah menunjukkan E (empty).
          Jangan lupa bertanya kepada penduduk sekitar jika ragu dengan lokasi pantai yang minim petunjuk arah. Gue yang sebenarnya yakin dengan jalur yang ditempuh, terkadang masih bertanya kepada penduduk yang tengah lewat di tepi jalan agar tidak ada lagi keraguan saat menuju pantai.

          Indahnya pantai dengan beberapa pulau yang berada dekat dengannya membuat gue ingin sekali berenang menuju pulau tersebut. Karena hanya pergi berdua dengan teman, gue tidak melanjutkan niat tersebut dan hanya berenang ditepian pantai yang masih surut. Sebaiknya tidak dilakukan jika memang belum mengetahui kondisi pantai tersebut. 
Pasir Putih
Jalur Sepi ke Pantai
Tepian Pantai



Gerak Jalan Sekota Sebersama

Siang guys,
Semua kota di Indonesia pasti merayakan kemerdekaan dengan berbagai perlombaan, mulai dari makan kerupuk, memasukkan paku ke dalam botol, serta yang paling menguji kekompakan adalah lomba panjat pinang antar RT. Sudah sewajarnya jika perlombaan tersebut menjadi salah satu wujud pemersatu bangsa.
Namun, apa jadinya jika sebuah daerah mengadakan perlombaan gerak jalan se-kota. Tim yang mengikuti perlombaan yang digagas oleh pemerintah kota Serui, Kepulauan Yapen, Papua, mulai dari SD, SMP, SMA, orang-orang perkantoran, sampai yang menjadi pusat perhatian, yaitu kang ojeg dan kuli panggul dengan tingkat pede yang tinggi.
Lomba yang diadakan pada hari sabtu lalu menjadi penglihatan pertama Gue selama hidup di Indonesia ini. Betapa tidak, selama ini lomba-lomba yang terlihat adalah lomba gerak jalan antar sesama SD, sesama SMP, sesama SMA atau instansi perusahaan saja. Namun, di kota ini semua lembaga berpartisipasi dalam memeriahkan perlombaan.
Peraturan tidak banyak diberikan oleh panitia, penilaian yang diberikan hanya berdasarkan kekompakan baris berbaris serta kostum. Dalam hal ini, yang paling banyak mendapatkan tepuk tangan dari penduduk yang menyaksikan berasal dari tim gerak jalan yang berpakain seragam putih layaknya paskibraka yang mengibarkan bendera. Dan yang kedua adalah tukang ojeg yang bersatu dengan orang-orang pasar berpakain daster berwarna warni, daster tanpa lengan, memakai kaca mata serta memakai sepatu boot pastinya mengundang gelak tawa dan tepuk tangan warga kota yang melihatnya.
Jalannya perlombaan berlangsung rapi, karena diawasi langsung oleh pihak kepolisian yang mengatur jalannya lalu lintas. Perjalanan gerak jalan berlangsung dari alun-alun kota menuju pasar serui, kemudian sampai di depan gerbang pelabuhan. Atraksi gerak jalan ditampilkan di depan kerumunan warga yang berada di pasar. Gerakan kompak yang dipadukan dengan goyangan serta nyanyian tambahan menjadi poin plus bagi tim.
Perlombaan yang berlangsung mulai dari jam 9 pagi, kemudian jeda istirahat sampai nantinya dimulai lagi jam 3 sore membuat beberapa titik jalan raya di kota menjadi terhambat, kemacetan terjadi, karena satu jalur ditutup demi kelancaran acara yang berlangsung meriah tersebut.
Karena keterbatasan waktu, Gue hanya bisa melihat sebagian dari perlombaan yang berlangsung pagi hari dan tidak mengetahui siapa yang menjadi pemenangnya. Walau begitu, hal yang sampai sekarang membuat gue kagum dengan perlombaan ini adalah antusiasnya peserta dan pergerakan panitia yang membuat lomba gerak jalan se-kota Serui.

Walau kota kecil, namun semangat penduduk dalam berlomba, serta pemkot yang mampu merangkul berbagai kalangan patut diacungi jempol. Semoga kota-kota lain di Indonesia bisa membuat acara yang sama dan dapat membangun kebersamaan dalam berbagai perlombaan yang dapat menyatukan keberagaman.
Latihan Gerak Jalan
Gerak Jalan SMA
Gerak Jalan Pemkot


Tuesday, July 25, 2017

Mengertilah dan Pahamilah

Satu hal yang gue pelajari hari ini.
Tidak semua yang kita sampaian itu bisa dipahami orang lain. Walau sudah banyak penjelasan sedetail mungkin, sampai mulut berbusa-busa sekalipun, Jika mereka tidak mau belajar, maka hasilnya juga sama, alias nihil. Uang kembali, itulah satu solusi pasti yang diinginkan oleh pembeli ketika tidak puas dengan hasil yang dicari.
Sore itu menjadi pengalaman pertama yang Gue temukan saat berada di toko. Penjual yang datang sekitar 4 orang, ibu-ibu dengan umur sekitar 60 tahun sebut saja namanya Ibu Tata, Kokom, Tati, dan Titin. 2 anak muda berumur sekitar 23 tahun, anggap saja namanya Noni dan Fatur. Gue fikir mereka akan cepat mengerti dengan apa saja yang disampaikan saat menjelaskan handphone yang akan dibeli. Tapi semuanya, terjadi di luar dugaan.
Awalnya mereka berdua (Noni dan Fatur) sangat antusian saat mencari barang yang akan dibeli, pandangan tajam menuju etalase yang berisi banyak handphone. Omongan gue sempat dibantah lantaran barang yang dicari tidak ditemukan olehnya. Demi menjaga ketenangan, Gue mengikuti keinginannya memperlihatkan handphone yang sedikit berbeda dengan yang dicari.
Semuanya berjalan lancar, mulai dari memilih hp sampai transaksi jual beli. Ketika gue selesai menjelaskan perihal hp yang telah dibeli, Noni mengatakan, “ya udah ini saja,” dengan cueknya gue langsung mengambil komponen hp, seperti charger, handsfree, dan batreinya.
Transaksi selesai, rombongan ibu dan anaknya tadi pergi ke tempat duduk yang berada tidak jauh dari toko. Terlihat aura kebingungan di wajah Noni saat melihat hp yang sudah dibeli.
1 jam berlalu,
Ibu Tata datang dan meminta uangnya dikembalikan. Ibu yang memakai tas pinggang tersebut tidak mengerti satupun menu yang ditampikan pada layar hp dengan alasan, bahasa yang digunakan ternyata English Language. Gue berfikir, mungkin Noni bisa menjelaskan perihal hp yang telah dibeli.
Saat itu juga Gue langsung mengganti bahasa yang digunakan menjadi Indonesia. Ibu Tata kembali ke tempat duduk. Gue merapikan sedikit etalase yang sebelumnya berantakan karena mengambil hp untuk Ibu Tata.
Belum sampai 5 menit, Ibu Kokom datang dan meminta kembali uang Ibu Tata, karena tidak bisa menggunakan hp yang sudah digenggam.
"Bukannya udah diajari sama anak ibu,? tanya gue penasaran.
"Dia juga bingung," ujar Ibu Kokom.
Saat gue melihat ke arah Noni, terlihat muka kusut seperti orang yang tidak bisa menyelesaikan masalah.
Gue menghampiri dan kembali menjelaskan perihal hp beserta menu di dalamnya. Semua yang dijelaskan tidak dimengerti sama sekali oleh gadis yang pastinya gue pikir lebih mengerti, karena dari awal pemilihan sampai akhirnya hp dibeli, hanya Noni yang lebih banyak bicara dan membantu menjelaskan semuanya kepada empat ibu-ibu tersebut. Namun, hasil berkata lain. Tidak mengerti dan akhirnya uang kembali tanpa hp yang dibawa pulang.

Noni tidak mau mempelajari setiap kalimat yang dijelaskan. Apa boleh buat, ternyata tidak semua prasangka yang difikir tentang Noni benar. Gue juga tidak ingin memaksakan kehendak padanya walau sudah dijelaskan semaksimal mungkin. Mungkin, cara dan proses penjelasan yang lebih baik musti gue lakukan agar setiap orang yang membeli barang bisa cepat paham dengan penyampaian.

Koin di Kota Ini Tidak Laku Sama Sekali

"Uang, uang uang uang uang," sahut Mr Crab.
Uang merupakan alat tukar yang digunakan untuk jual beli. Sebelum adanya uang, manusia membeli barang atau kebutuhan hidup dengan menukarkan barang dengan barang, atau bisa diistilahkan dengan barter.
Uang memiliki nilai nominal yang berbeda-beda, baik itu koin maupun uang kertas. Uang koin memiliki nilai 100, 200, 500 dan 1.000 rupiah. Sedangkan uang kertas memiliki nilai 1.000, 2.000, 5.000, 10.000, 20.000, 50.000, 100.000 dan baru-baru ini ditambah lagi dengan nominal paling besar senilai 200.000. Waw, kalau selember itu dibelikan kerupuk, kira-kira dapat berapa ya... hehe
Tapi, disini gue tidak membahas nominal uang atau bentuknya. Namun, gue akan memberi sedikit informasi atau sekedar sharing saja, betapa tidak bergunanya uang recehan atau koin di Papua, termasuk di kota yang ditempati sekarang, yaitu Kota Serui.
Gue baru menyadari, sekitar seminggu tinggal di kota, Gue tidak pernah melihat antara penjual dan pembeli melakukan transaksi dengan uang koin.
"Baik itu uang kertas ataupun koin memiliki nominal 1.000, maka yang akan diambil adalah uang kertas. Mau dikasih berapapun, warga tidak akan mau menerimanya, mutlak harus uang kertas", seperti itulah jawaban yang gue terima dari salah seorang warga disini.
Di lansir dari mediapapua.com, tidak lakunya uang kecil disebabkan oleh masyarakat yang kurang menghargai adanya uang koin. Salah satunya terjadi pada supir yang menolak menerima uang koin sebagai ongkos. Begitu juga dengan harga barang-barang yang mahal, menyebabkan pedagang membulatkan harga, yang seharusnya 5.400 menjadi 6.000 rupiah.
Hal yang sama juga terjadi saat Gue membeli bahan bakar, walau sudah ada kebijakan BBM satu harga yaitu perliternya 6.450 rupiah, tapi harga tersebut dibulatkan menjadi 7.000 rupiah, sehingga wajar saja transaksi bisa lebih cepat.
Yaps, begitulah sedikit sharing yang gue tulis mengenai uang koin di Papua. Menurut gue, sangat disayangkan jika uang koin tidak digunakan disini. Sangat banyak fungsi dari uang koin selain sebagai transaksi jual beli. Uang koin juga bisa digunakan untuk mencabut sedikit jenggot yang tumbuh tidak beraturan, hehe. Apalagi bagi kernek metro mini, koin dibutuhkan untuk memukul kaca dan bus pasti berhenti seketika.
Semoga bermanfaat
Koin di Kini Tidak Laku Sama Sekali
Recehan 100, 200, 500, 1000 rupiah
Koin di Kini Tidak Laku Sama Sekali
Perhitungan Koin

Friday, July 21, 2017

Handphone Ibarat Kayu

Selamat malam sob
Lagi-lagi Gue memperoleh pengetahuan serta hiburan di kota Serui. Masih teringat dengan kakak ojeg 5000 ?, pastinya dong. Dan, sekarang gue akan berbagi sedikit info hiburan buat kalian tentang handphone yang dipercaya tidak akan pernah rusak walau jatuh dari ketinggian puluhan meter.
Jaman sekarang, hampir semua orang di dunia mengenal alat komunikasi yang disebut dengan smartphone atau bahasa kerennya gedget. Selain bentuknya yang lebih elegan dari handphone biasa, keberadaan gedget sangat membantu warga dunia saat ini, baik itu dalam berkomunikasi, ajang eksistensi serta kemampuan gedget lainnya yang bisa membuat seseorang lupa dengan dirinya. Contohnya, bisa kita lihat dari banyak berita, betapa banyak kecelakaan yang disebabkan karena seseorang terlalu fokus melihat gedget sehingga jalan kendaraan besar sekalipun tidak terlihat walau klason sudah dibunyikan.
Kemampuan smartphone yang semakin meningkat juga bisa dimanfaatkan sebagai alat penghasil uang, salah satunya untuk publikasi usaha sendiri. Tidak ada gedget, uang tak akan ada. Istilah yang pernah gue dengar dari sahabat kantor beberapa bulan lalu.
Gedget tidak akan berkembang kalau tidak adanya handphone biasa. Telepon genggam yang menggantikan alat komunikasi di rumah. Bentuknya juga berbagai macam, baik itu dari segi ukuran serta warna.
Berbicara mengenai handphone, Gue teringat dengan salah satu merek handphone yang sangat terkenal sekitar 3 - 6 tahun lalu. Handphone yang berasal dari fidlandia ini sangat disenangi di kota ini.
Hal tersebut tampak jelas bagi gue, semua bertanya, semua ingin punya handphone yang satu ini. walau sudah ada gedget sekalipun, kemampuan hp ini sangat diakui dikota ini, kemampuan daya tahan madsudnya. Daya tangkap sinyal kuat, tahan jika jatuh dari ketinggian, serta yang pastinya adalah harga yang tidak menguras kantong celana.
Ya, Nokia 105 atau Nokia kayu, sebutan keren bagi warga kota serui. Dengan ukuran yang kecil serta ringan dibawa, tidak salah jika handphone dengan 2 pilihan warna ini sangat laku dijual. Alasan pelanggan membeli hp ini cukup simpel,
"Kenapa nokia kayu ?", 
"karena kuatnya handphone ini ibarat kayu, walau sudah terjatuh tapi tidak rusak, tahan lama juga to," ujar salah seorang pelanggan handphone yang bekerja sebagai tukang kayu.
Kalimat yang sama juga terlontar dari banyak pihak yang juga bekerja sebagai karyawan toko, kantoran serta yang sudah menjadi pengusaha sekalipun. 
"Gedget tidak ada apa-apanya disini, sinyal susah, banyak punya bunyi grasak grusuk saat menerima panggilan atau menelpon," kata seorang kepala cabang yang bekerja di Bank.
Gue yang masih baru mengenal daerah ini hanya bisa percaya tidak percaya, namun hal demikian beberapa kali sudah gue buktikan. Saking ingin membuktikan kebenarannya, gue mencoba membandingkan nokia kayu dengan gedget yang dipunya.
Ya, gedget mengeluarkan bunyi yang berserakan dan tidak jelas saat menelpon, apalagi didaerah perkampunhan. Sedangkan nokia kayu menghasilkam bunyi yang jelas walau sudah memasuki daerah perkampungan. Menurut gue, hal tersebut dipengaruhi oleh perangkat dari masing-masing alat komunikasi yang dipakai. Nokia kayu bisa jadi lebih gampang memperoleh sinyal karena kurangnya gangguan lain dari aplikasi-aplikasi yang ada didalam handphone tersebut, sedangkan smartphone lebih sulit memperoleh sinyal karena adanya berbagai aplikasi didalamnya, seperti aplikasi browsing dan media sosial.
Tapi, itulah pandangan dari berbagai warga masyarakat. Intinya, Gue bisa belajar bagaimana keyakinan seseorang dalam memahami dan menjalankan teknologi yang semakin cepat berkembang.
#carizonabarumu
Nokia 105



Ojeg Mantap Milik Kota Tercinta

Salam berkendara guys
Ojeg menjadi salah satu sarana penting di setiap kota. Satu hal yang membuat ojeg jadi pilihan banyak orang adalah karena ojeg tidak akan kena macet. Keberadaan ojeg semakin menjamur, tidak hanya terdapat di Jakarta, melainkan di kota yang tengah Gue singgahi untuk beberapa waktu ke depan.
Serui, ibu kota pulau Yapen, Papua, Indonesia tanah air tercinta. Di kota ini juga ada mas ojeg yang menjadi moda trasnportasi bagi warga kota. Uniknya disini, jauh dekat 5000 rupiah saja, tidak kurang dan tidak lebih.
Motor yang dipakai oleh beberapa kelompokpun hampir sama. Istilah yang diberikan bagi orang disini adalah damri beroda dua. System pembayaran yang sama dengan Damri. Namun, jika sudah keluar dari kota, rata-rata mas ojeg disini meminta bayaran lebih. Jika di beberapa tempat harga bisa bertambah sesuai dengan kilometer yang dilalui sesuai dengan ketetapannya, lain halnya dengan ojeg disini. harga bisa dinego langsung dan bisa diminta lebih murah.
Kadang, mas ojeg hanya mau mengantarkan penumpang lokal saja jika tujuannya ke luar kota Serui. Jika ada warga luar atau pendatang yang meminta ke luar kota, jarang sekali mas ojeg mau mengantarkan. Hal ini disebabkan karena faktor kemanan penumpang serta mas ojeg itu sendiri.
Faktor kriminalitas yang masih tinggi membuat mas ojeg ragu akan mengantarkan penumpangnya ke luat kota.
Kota kecil Seru masih menyimpan banyak hal yang akan Gue ketahui dari sekarang hingga nanti. Pengalaman dari kota sungguh sukar jika dibawa kesini, namun lambat laun, pengaruh media akan mempercepat kemajuan serta pola pikir yang semakin bertambah baik.
Jejeran Motor Driver Ojeg

Sedang Menunggu Antrian Penumpang



Pantai nan Indah, namun Tidak Banyak yang Tau

Pantai Sarawandori merupakan salah satu wisata bahari di Kepualauan Yapen, Papua. Selain menyajikan pemandangan dengan biota lautnya yang enak dipandang. Pantai yang terletak di Kampung Sarwandori juga memberikan kesempatan yang tidak terlupak bagi kaum pecinta lingkungan bersih.
Pengalaman berharga dapat diperoleh selama berkunjung ke bagian bukit sarawandori. Bukit yang terdapat pasir putih yang sangat indah dan terang. Saat berbicara dengan kakak pemandu pengunjung berkeliling pantai, beliau mengatakan, kebanyakan dari pengunjung tidak berani ke bagian terjauh dari pantai, mengingat tingkat keamanan untuk pengunjung masih kurang.
50.000 rupiah cukup untuk kakak yang akan mengajak berlayar di pantai. Namun, pelampung atau tali tidak tersedia, siap-siap tenggelam bagi yang tidak bisa berenang, hehe. Tidak perlu cemas dan tidak perlu risau. Batasan akan diberikan oleh kakak pemandu, pengunjung tetap bisa menikmati sensasi naik perahu dayung dalam waktu yang tidak ditentukan.
Pantai Sarawandori terdapat 3 karang besar atau 1 karang dan 2 pulau kecil yang bisa dijadikan objek foto yang keren. Kebanyakan pengunjung yang belum bisa berenang tidak akan melewati 3 tempat tersebut karena terlalu jauh dari pantai. Gue yang kebetulan bisa berenang dengan gaya apapun termasuk gaya batu memperoleh kesempatan berkunjung ke tepian pantai pasir putih yang masih tersembunyi.
            Sedikit cerita,
Awalnya, gue memperoleh larangan dari mamak. Ada bahaya, jika main ke karang tersebut. Kalau nekat, bahaya atau setan akan mengikuti sampai ke rumah. Bukannya takababur atau sok sok an, Gue sama sekali tidak percaya hal yang  demikian. Hal tersebut tidak terbukti benarnya. Gue tidak merasakan apa-apa saat tidur, ya iya lah. Madsudnya, hal yang ditakutkan oleh mamak tidak terjadi. Ya, karena gue yakin, jika kamu ingin tidur nyenyak dan diberkahi tuhan, maka berwudhulah dahulu kemudian baca doa sebelum tidur.
Selesai.
Dalam perjalanan menuju wisata yang tersembunyi dibalik bukit, tebing tinggi menjadi salah satu kemegahan dari pantai. Momen indah tersebut dapat tersimpan dalam sebuah handphone milik tante sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan.
Dalam perjalanan, pantai yang dihiasi oleh tanaman laut ternyata tidak terlalu dalam, sekitar 2 meter dengan rumput laut menambah indahnya pemandangan laut dari atas sampan atau perahu yang gue naiki. Dari atas perahu, air laut yang jernih seakan mengajak gue agar berenang mengitari pantai ke seluruh bagian-bagian terindahnya. Reflek, hp yang telah dibungkus dengan kantong plastik yang harganya 50.000 rupiah kemudian langsung dimasukkan ke dalam air laut. Kedalaman laut yang dihiasi dengan pasir putih serta rumput laut terekam jelas dalam rekaman video hp.
Keindahan pantai semakin terlihat jelas dengan tebing tinggi berwarna hitam keputihan. Pasir putih sekali lagi memanjakan mata gue yang tak hentinya mengabadikan momen penting di sana. Pemandu mulai merasa lelah karena tidak berhenti mendayung sejak awal gue dan berserta dunsanak atau kerabat bermain di pantai. Total, mungkin sudah ribuan kali dayung terayunkan selama mengendarai sampan, sok tau banget ya gue. Tapi faktanya, kapal mulai melambat karena sesekali pemandu menghentikan dayungan karena tangan semakin lelah.
Hal tersebut menjadi pemacu semangat bagi gue, semakin lelah kakak pemandu semakin banyak pula semangat gue terkumpul. Lelah dan keringat beliau harus dibayar dengan harga yang pas. Semangat gue untuk mengambil gambar melalui hp tante semakin membara tak terkira. Foto demi foto diambil dengan caption sesuai dengan tema yang akan gue tulis pada blog pribadi.
Beliau, pemandu akhirnya melepaskan dayung saat kapal mulai menepi karena kami sudah sampai ditepian Pantai Sarwandori bagian lainnya. Kelelahan gue di atas kapal terbayar dengan jernihnya air. Umang-umang atau binatang pantai bercapit kecil yang bertaburan serta hijaunya hujan menambah serunya bermain ditepian pantai. Selain serunya bermain dialam ini, udara segar juga sangat segar saat dihirup.
Tiba-tiba saja, saat akan mengambil gambar, hp tante yang harganya lebih mahal 2 kali lipat harga motor satria 2 tak tahun 2000 milik gue kemasukan air. Entah plastiknya bolong atau hpnya yang terlalu besar, Gue melihat air sudah memasuki plastik dan mengelilingi hp. Alahmakjang, satu gambarpun tidak jadi diambil dan diabadikan. Gue menyesali, kenapa hp tersebut harus basah, kenapa bukan hp Gue saja. Hp dengan harga 4 kali lipat harga hp Gue tidak bisa hidup lagi sampai pada waktu yang tidak ditentukan. Gue kembali dengan kepala tertunduk, namun tiba-tiba saja hp berbunyi layaknya sedang low batteray. Aman, terasa dalam hati. Walau hp selamat, namun momen tidak ada. Setidaknya gue memperoleh spot dan alam baru yang sangat indah dan baru pertama kali dilihat.
Ada banyak lagi suasana indah dibalik bukit yang belum terlihat bagi Gue. Ingin sekali lagi mengulang dan memperoleh kembali momen indah tersebut.
Saran gue, bagi yang ingin memasukkan hp ke pelastik tas yang anti air.
1.      Lepaskan silikon yang menempel pada hp agar tidak susah saat dibuka.
2.      Perhatikan lagi keamanan hp setiap saat jika ingin mengambil momen penting.
Itu dari gue, semoga bisa bermanfaat. Satu lagi, Pantai Sarawandori bisa jadi wisata yang baik dikunjungi. Pantai yang belum terkontaminasi oleh sampah berserakan, layak rasanya dijadikan lokasi favorit wisata akhir pekan.

#Carizonabarumu


Thursday, July 13, 2017

Minggu ke lima_Antara Kebenaran dan Kenyataan

Salam walking guys
Kemaren, gue memperoleh pelajaran yang menarik untuk dijadikan bahan untuk mawas diri. Peristiwa tak terlupakan gue peroleh saat berjalanan-jalan dari gerbang Cileunyi menuju kampus di Jatinangor. Seorang bocah kelas 1 SMA yang mengingatkan gue pentingnya perhatian orang tua untuk anaknya.
Saat perjalanan yang menempuh jarak 3,7 km, tepatnya di pertigaan jalan antara arah menuju Jatinangor ke kanan dan Cibiru ke kiri, Gue mendapati seorang remaja yang juga berjalan kaki dengan baju yang kusam.
Gue yang saat itu sedang memikirkan strategi bagaimana agar blog gue bisa menghasilkan uang dengan cepat, bertemu lagi dengan remaja tersebut pas didepan SPBU. Seolah-olah kami berjalan beriringan menuju arah yang sama. Saat melewati jalan raya depan IPDN, gue mempercepat langkah agar bisa mendahului dia yang masih sibuk melihat ke belakang, mencari mobil yang bisa ditumpangi.
Sedang asik mendengar lagu dari headset,“a’ mau kemana?“, tanya bocah SMA yang tersenyum melihat gue seperti orang yang sok berani berjalan melewatinya
Giu berhenti, “oh, saya mau ke kampus mas”,
“mas, mau kemana emang”,
“mau ke Sumedang sih”,
“ooohhh”, Gue terus berjalan beriringan dengan dia.
Saat perjalan menuju kampus, gue terlalu melihat pakaian remaja berkulit coklat yang sudah terlalu kusut. Gue berfikir, apa yang terjadi dengannya?, kenapa dia bisa berjalan ke Sumedang?, dan apakah dia benar orang yang sedang berjalan kaki atau sedang iseng-iseng mencari korban untuk dipalak?.
“a’,kenapa jalan juga ya”, sambil melihat gue yang terlihat lelah berjalan.
Dia yang saat itu membawa tas kecil masih terasa segar, namun gue melihat raut wajah yang terlihat lelah dan lungkai, seperti ada sebuah masalah yang hinggap pada dirinya.
Sekitar 50 meter sebelum sampai di gerbang kampus,
“mas, kok bisa jalan ke Sumedang?, tanya dengan rasa penarasan,
”ya, nggk punya uang a”,
“kok bisa?”,
“saya habis main ke rumah teman”
Gue semakin penasaran, langkah gue perlambat sambil memegang pundak remaja tersebut.
“emang bawa uang awalnya dari Sumedang berapa ya mas”,
“25.000 rupiah a”,
“nekat juga”, sanggah gue pada remaja yang terlihat semakin lelah.
Gue mengeluarkan uang sebanyak 12.000 rupiah, kemudian memberikannya kepada  remaja tersebut, “eh, nggk usah mas”, gue menahan tangannya agar tidak mengembalikan uang gue kembali.
“Ambil, ambil,  saya ikhlas kok”
“tapi mas mahasiswa, perlu duit”,
“aman kok”
Uang gue akhirnya diterima. Beberapa saat sampai di gerbang, gue memberikan pertanyaan yang tiak bisa dia jawab, “orang tuanya nggk tau kalau masnya pergi”, dia langsung menunduk saat pertanyaan terakhir gue berikan.
“tau kok”, muka rada cemas
Pernyataan gue sembari melihat matanya, “tapi, orang tuanya tau nggk kalau mas nya kesini jalan kaki terus nebeng sama orang lain ke Bandung”,
“nggk mas”, pungkas remaja yang semakin menghindari pertanyaan gue.
Dia kemudian langsung melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Sari, kemudian naik angkot menuju Sumedang. Percapakapan kami masih gantung, gue masih bingung, kenapa mukanya langsung terlihat pudar dan gue merasa dia punya masalah yang berat.
Sampai malam menjelang, gue menceritakan kejadian yang dialami tadi kepada teman di kampus. Dia mengatakan, “hal tersebut memang sudah banyak terjadi pada beberapa remaja, mungkin mereka sedang mengalami masalah dalam keluarganya sehingga bisa melakukan tindakan sesuka hati dan mengikuti nafsu jahat yang mendekati. Semua kembali kepada masing-masing diri, jika kamunya sudah terbiasa berbuat baik kepada sesama, maka perbuatan memberi uang seperti yang kamu lakukan tadi tidak akan terlalu kamu fikirkan baik buruknya. Entah saat itu kamu sedang ditipu atau memang sedang berhadapan dengan orang yang sedang membutuhkan pertolonganmu”.
Gue beranggapan, pernyataan teman gue tadi memberikan isyarat. Jika ingin berbuat baik, maka lakukanlah !, jangan menunggu dan jangan berdebat dalam hati.

Namanya juga, Bosssss