footer social

Pages

Wednesday, April 8, 2020

Secuil Cerita dari Timur Indonesia

Papua…
Disinilah Ane sekarang, negeri yang memiliki banyak sumber daya alam melimpah ruang, negeri yang selalu mempertahankan tradisi kebudayaan leluhur, serta negeri yang senantiasa hidup dalam kebahagiaan.
Hampir 3 tahun ane berada di Papua, tepatnya di Kepulauan Yapen,  dengan ibu kota Serui. Secara spesifik, ane juga nggak tau berapa luas daerah ini, tapi jika dihitung dengan waktu, butuh waktu sekitar 30 menit dengan menggunakan pesawat dari Biak. 
Disini, Ane bekerja sebagai karyawan toko hp. Dengan banyak interaksi, sedikit banyaknya ane mempelajari bagaimana warga saling bersosialisasi, serta sifat-sifatnya yang kadang bikin ane semakin penasaran dengan warga disini.
Beberapa hal berkaitan dengan keseharian juga ane saksikan disini,
Mace dan Pace, panggilan untuk Mama dan Papa … atau
“Ipar”, sama dengan kawan, agar terlihat lebih akrab.
Awalnya ane ngerasa bingung dengan ucapan yang terlontar dari salah satu langganan.
“oi, ipar, ko bisa ajar saya bikin hp ini jadi benarkah,” ujar salah seorang pelanggan yang meminta diajarkan bagaimana menginstal salah satu aplikasi telah dikirim.
Lama kelamaan ane mulai menyadari, dan mengikuti panggilan akrab bagi warga asli sini. Ya, alhasil panggilan tersebut mulai terbiasa ane lakukan,bukan bermadsud meniru, namun hal yang sekiranya patut diikuti, ada baik dilakukan juga.
Berkendara menjadi satu-satunya hobi yang membuat ane senang, dan kembali fresh dari berbagai pekerjaan. Setiap hari, setiap waktu sholat, ane selalu pergi ke masjid, kecuali subuh. Semua masjid telah ane datangi, mulai dari bagian barat sampai ke timur pulau. Ada 9 masjid yang telah ane kunjungi, namun masjid di daerah Dawai yang hanya dua kali ane kunjungi, itupun saat beristirahat dari touring Serui – Dawai. Lokasi yang jauh sekitar 70 km dari kota membuat ane jadi berfikir berkali-kali untuk kesana, bukan karena jarak, melainkan jalur yang ane hadapi susah dilalui, mulai dari jalan yang tidak ada aspal, alias masih tanah, dan dikelilingi hutan. Selain itu, kadang terjadi pemalakan saat ane melewati kampung disana. Peristiwa yang pernah ane alami terjadi saat ane beserta kawan-kawan pergi ke Dawai, sekedar melepas jenuh dari sepinya jual beli dibulan itu.
Perjalan ke Dawai menjadi salah satu perjalanan menarik yang dapat menyadarkan ane betapa pentingnya hubungan sosial yang baik. Kembali ke pemalakan, peristiwa terjadi saat ane kami pulang dari Dawai, Ada 4 jembatan yang dilewati, kami dipalak di jembatan yang ketiga, ketika itu kami melewati salah satu kampung jam 7 malam, kami diharuskan membayar sebanyak 300.000 agar bisa lewat. Dengan segala kerendahan hati, bos ane yang ketika itu ikut, langung membayar agar masalah tidak semakin larut. Dan, kami kembali jam 10 malam, dikarenakan perjalanan yang melewati hutan, dan penerangan hanya berasal dari lampu motor dan mobil. Perjalanan tersebut tentunya menjadi salah satu perjalan paling menarik bagi ane.
Selain ke Dawai, ane juga pernah ke Pantura pulau Yapen, lokasi yang hampir sama jauhnya dengan Dawai, hanya saja jalur yang ditempuh tidak se ekstrim Dawai. Ane juga pergi dengan menggunakan motor metik. Beruntung, perjalanan saat itu menambah deretan pengalaman menarik ane selama tinggal di Pulau Yapen.
Luas kota serui  seakan membuat ane hidup dalam sebuah kurungan. Mau keluar kota harus berfikir bekali-kali, walau dikatakan salah satu kota yang aman di Papua, ane kadang memberanikan diri keluar sendirian dari kota, menelusuri jalur-jalur yang cukup jauh dari kota. Motor yang biasa ane gunakan sehari-hari, baik itu kerja ataupun jalan-jalan adalah metik, itupun milik bos, motor bersejarah, saksi perjuangan doi sedari berjualan barang-barang elektronik kecil sampai menjadi pengusaha sukses dengan berbagai barang jualan yang semakin banyak pula.
Ane dapat pinjaman motor setelah motor tersebut mengalami kerusakan, terutama pada bodi yang bisa dikatakan 80% rusak, mau tidak mau, agar menjadi lebih baik dan enak dipandang, ane meyakinkan bos agar dapat pinjaman motor dengan membeli sendiri bodi motor satu set full serta mengembalikan beberapa fungsi seperti semula, 3 juta cukup untuk meyakinkan bos agar dapat pinjaman motor tersebut.
Seseorang mengatakan, “kenapa nggak beli motor aja,” seakan mengatakan ane terlalu bodoh mengeluarkan badget yang cukup besar untuk memperbaiki motor lama yang memang sudah jarang dipakai. Tapi, bukan itu masalahnya, melainkan ane juga bingung, butuh waktu berapa lama agar ane bisa mengumpulkan uang untuk membeli satu unit motor.
Ya, bukanlah perkara mudah untuk menentukan semua itu, karena harus berfikir berkali-kali untuk menentukan pilihan yang tepat.
So, tidak ada salahnya juga, menambah pengalaman sekalian bertualang.

0 comments:

Post a Comment

Namanya juga, Bosssss