Thursday, June 13, 2019
Nekad
Wednesday, June 12, 2019
Tolong Pertemukan Kami, Bu Guru
Guru tanpa tanda jasa, tanpa ada paksa dan terus berbagi suka cita dengan murid yang akan menjadi kebanggaan bangsa.
Cerita dari seorang langganan toko yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar di perkampungan, orang sekitar pasar menyebutnya daerah pantura (Pantai Utara) kepulauan Yapen, Papua. Salut buat Mace, nggk sempat nanya nama sama nomor telepon. Selain guru, beliau juga menjadi distributor, dan orang kepercayaan dikampungnya untuk berbelanja ke kota. Beberapa persoalan warga diselesaikan olehnya dengan lancar. Perjalanan dari kampung yang sangat jauh sudah biasa dijalani hampir setiap minggunya.
Siang itu,
Mace datang bersama warga kampung lain ke toko tempat ane bekerja. Beliau membawa selembar kertas berisikan daftar barang-barang yang akan dibeli. Termasuk persediaan makanan instan seperti mie ataupun bumbu-bumbu makanan instan lainnya. Hal tersebut tampak jelas ketika melihat beliau merapikan kertas dan mencentang barang yang sudah dibeli dengan bulpen toko yang sebelumnya udah dipinjam.
"Anak, boleh dudukkah?" sembari mengipas-ngipas kertas ke wajahnya. Maklum saja, suhu di pasar saat itu sedang panas.
"Oh, iya, silakan mace," ujar ane yang saat tengah melayani pelanggan yang akan meminta lagu, dan game android.
"Berapa semua," kata pelanggan, sebut saja namanya Yosep.
"20 abang," jawab ane.
"Belanja disini senang e, bisa dapat lagu tambahan, video, gamenya banyak lagi," suara mace yang terdengar kecil.
Yosep pergi setelah bersalaman dengan ane. Mungkin karena ngasih lagu dan game lebih banyak atau karena ada faktor lain, ane juga nggk tau. Biasanya, kalau seorang pelanggan puas dengan servis yang diberikan, baik itu dari harga, bonus, sampai sabar saat melayani, mereka pasti menyalami. Biasa gituuu...
Untuk mengisi waktu kosong karena belum ada pelanggan lagi, ane menonton film melalui laptop, bukan film melainkan video balap-balap motogp.
Serasa ada yang memperhatikan, ane melihat ke segala arah, ternyata mace sedang memperhatikan video yang ane tonton.
"Bagus ya filmnya," ucap mace menyandarkan dagu ke atas kaca etalase.
"Ah, cuman balapan saja mace," sanggah ane.
"Beli berapa laptopnya tu ?" menjentik-jentikkan ujung jadi ke kaca etalase.
"Enam juta mace, tapi udah lama," jelas ane.
"Masih ada jual laptop seperti itu,"
Ane kemudian meletakkan laptop yang masih menyala ke atas kursi, mengarahkan pandangan mace langsung ke laptop-laptop yang dijual di etalase yang berada dibelakang ane.
"Waw, banyak juga e," ucap mace.
Tiba-tiba saja mace masuk ke dalam konter. Ukuran konter sebesar 3 x 4 meter, yang di kelilingi etalase hp. Etalase depan, ada hp, sebelah kanan speaker bluetooth, kiri jam tangan, dan belakang etalase ada kamera yang berukuran kecil, sedikit memberikan ruang untuk masuk ke konter bagi yang ingin masuk.
Mace duduk langsung dikursi rekan ane yang kebetulan sedang istirahat saat itu. Beliau menonton dengan seksama video balap-balap yang sedang berlangsung. Beberapa menit kemudian video selesai, mace kemudian bertanya bagaimana cara menonton di laptop.
Penjelasan selesai, ane juga sedikit memberikan pengarahan kepada mace perihal teknologi yang kian maju setiap saat. Wawasan ane yang secuil setidaknya mampu membuat mace terpukau, salah satunya ketika ane mengatakan bahwa beberapa komponen yang tersimpan pada laptop juga ada pada smartphone yang ane pegang. Dengan kapasitas yang terbilang kecil, namun setidaknya dapur pacu pada program, serta softwarenya dapat membuktikan betapa pesatnya teknologi komunikasi zaman now.
Mace sangat antusias mendengar apa saja yang ane sampaikan terkait smartphone dengan aplikasi youtube yang tengah menyala saat itu. Saat SP dipedang mace, beliau tidak sengaja menekan beberapa huruf yang mengarahkannya pada tontonan bertema lukisan alam yang dibuat dengan menggunakan cat semprot biasa. Layaknya komentator, kami berdiskusi bagaimana suasana alam nan cantik itu bisa dibuat begitu saja dengan menggunakan cat seadanya.
"Hmmm, kok bisa begitu ya ?" tanya mace yang semakin fokus menonton.
"Pintar juga yang buat itu gambar e," tambah mace
Mace menyimpulkan sendiri video yang telah ditonton, dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti, layaknya seorang guru BK yang memberi pengarahan pada murid. Penasaran juga dengan profesi mace, seketika itu ane langsung nanya.
"Mace gurukah?"
Kepala mendongak ke atas, yang artinya,"iya,"
"Iya, saya ngajar di Pantura sana,"
Ane pikir nggk ada sekolah disana, kalau tempat sejauh itu ane yakin pasti ada anak-anak IM (Indonesia Mengajar). Program yang dicanangkan oleh kementrian pendidikan, tahun berapa ane juga nggk tau sih.
"Mace, disana ada anak-anak Indonesia Mengajarkah," penasaran.
"Ada to, setiap tahun ada yang datang, kemudian pergi lagi satu tahun kemudian," ketus mace.
"Ada ceweknyakah ," (MODUSSssss)
Mace langsung tertawa,"kenapa tanya cewek, nyari jodohkah," sindir mace...
Mangaaapp... aaaaa
"Ah, tra ada mace,"
"Kalau mau, datang aja ke pantura, nanti mama kenalkan e, dia tinggal di Palembang, tapi aslinya Padang," saran mace.
Wahhh, ane makin girang, pengen pergi kesana hari minggu, walau bulan puasa juga nggk masalah, yang penting ketemu.
Kata mace," Disana guru-gurunya banyak yang susah untuk memperoleh sinyal, jaringan susah, untung ada wifi sekolah, walau lambat, yang penting bisa "main wifi (istilah bagi pengguna wifi)".
Kalau difikir-fikir, wajar kalau mace bicara seperti itu, dampak dari buruknya jaringan diperkampungan juga dirasakan di kota.
Terlepas dari baik atau buruknya jaringan, ane berharap suatu hari nanti kesana. Ane pengen tau bagaimana kehidupan warga disana, jauh dari kota apalagi sinyal. Dan, semoga bisa ketemu dengan gadis Palembang, asli Padang yang diceritakan mace.
Tuesday, June 11, 2019
Bad Day Bikin Lu Lunglay
Malam itu, jam 9 lebih 30 menit, beberapa ruko, toko-toko kecil serta pedagang kecil sudah mulai menutup gerainya. Kembali ke rumah membawa hasil jualan yang sudah dilakoni sedari pagi tadi. Begitu juga ane yang bekerja sebagai karyawan disalah satu toko hp dipusat kota Kepulauan Langang. Seperti biasa, setelah tutup, ane langsung berangkat menuju rumah kawan, sekedar melepas penat, bercengkrama, tapi terkadang makan malam juga disana.
Sampai disana, salah seorang teman meminta film yang ane punya. Permintaan yang langsung disampaikan ketika mereka melihat ane sedang menyandang tas yang isinya laptop.
"Ri, ada yang baru, film balap-balap atau action gitu," ujar Da Zul yang sedang duduk santai mengisap rokoknya.
"Gampang itu mah, ada flashdisk, minimal 16gb ?"
Da zul kemudian kedalam rumahnya, ngambil fd 16gb.
Ane duduk didepan rumah Uda pong, lokasi rumah yang berada di depan kediaman Da Zul. Selagi menunggu flashdisk datang, ane melihat isi folder.
"Abang," teriak Susi, gadis kecil yang baru naik kelas 2 SD.
Susi datang membawa hp ayahnya, dengar dari mana kalau ane punya banyak film-film juga nggk tau, tiba-tiba saja datang, menyodorkan hpnya, meminta film kartun yang dia suka.
Saat film sedang ditransfer ke flashdisk, Susi terus mendesak, meminta dan sampai-sampai menarik bagian layar laptop.
"Weisss, jangaann," ucap ane sambil menahan tangannya.
Bibir langsung manyun, tapi tangan masih tetap memegang bagian atas laptop yang masih menyala.
"Kasih ke aku dulu filmnya," tangan Susi tidak lepas dari laptop, mungkin kalau lebih kuat menarik laptop, rusak sudah barang berharga yang membantu ane tamat kuliah.
Ane masih menahan bagian atas laptop agar tidak jatuh. Selagi menahan, datang lagi anak Da Zul, dua tahun lebih kecil dari Susi.
"Abang alman," gaya bicara yang masih cadel. Jika bicara, ane butuh translater khusus untuk mengerti apa yang dia ucapkan.
Tomi, panggilan anak laki-laki Da Zul, dia tiba-tiba datang dan menarik laptop ane sekuat tenaganya. Laptop nyaris jatuh dan sempat tersandar dibagian bawah kursi yang ane duduki.
"Iyaa, sabar dulu," ucap ane pada Tomi.
"Cekalanggg," tegas anak kecil berambut keriting pirang,
Situasi semakin runyam, Da Pong meminta ane mengutak-atik hpnya, mencari dimana lokasi penyimpanan video kartun milik Susi. Karena jenis hp yang digunakannya jauh berbenda, ane sedikit bingung mencari lokasi file yang dituju.
"Bentar, da," ane meletakkan hp Da Zul di bawah kursi, beliau hanya diam. Tak bersuara, melihat anaknya yang semakin bringas menarik laptop.
Dalam waktu yang sama, Budi yang mengumpulkan semua uang hasil jual beli mengabari bahwasanya ada yang kurang sebanyak Rp 130.000,-. Ane terkejut, karena sebelum pergi solat magrib uang yang dihitung itu semuanya pas, alias tidak kurang tidak lebih. Pekerjaan mentransfer data, menenangkan bocah-bocah, serta mencari lokasi penyimpanan film kartun belum selesai, Ane dengan cepat membalas pesan yang diterima.
"Bukannya udah pas ?" Jawaban pesan yang diterima.
5 menit berlalu, data di Hp Da Pong ditemukan, Da Pong mulai tenang. Pesan masuk lagi, dari Budi.
"Coba ke toko dulu, dong," Budi meminta.
"Cek lagi aja,"
Budi membalas lagi, namun dengan isi pesan yang semakin membuat ane harus ke toko.
Selagi berfikir apakah harus pergi langsung ditengah permasalahan atau tidak pergi sama sekali, Susi yang saat itu sudah lelah menunggu, kemudian menyerahkan hpnya, meminta ane mendownload film yang dia mau.
"Waduuhh," tunggu dulu, sayang. Antara kesal, tapi nggk boleh karena Susi terlalu kecil untuk dimarahi.
Susi pergi dari hadapan ane, entah kenama, ane juga nggk tau.
"Tomiii," Da Zul memanggil anaknya.
Tomi bergegas ke rumah, membatalkan niat ikut-ikutannya.
Transferan selesai, flashdisk sudah kembali ke tangan Da Zul. Setelah dibujuk oleh Da Pong, Susi yang ternyata ngambek di kamar, kemudian keluar rumahnya, diam tanpa sepatah katapun yang keluar dari bibir tipisnya.
Satu lagi tugas belum selesai, laptop tiba-tiba mati karena batrei sekarat. Sembari menunggu menyala laptop, pesan datang lagi dengan kabar uang pulsa hp sebanyak Rp 150.000,- hilang dari kotaknya. Saat itu juga ane befikir, bingung ingin menjawab seperti apa.
"Plak," bunyi pukul tangan yang terdengar keras.
Pukulan tersebut dilakukan oleh Susi terhadap Tomi yang tengah saling berselisih kata. Sontak ane langsung kesal terhadap bocah kecil. Merubah mood yang awalnya sudah buruk menjadi semakin buruk. Seketika itu ane berfikir ingin pulang, lihat ke parkiran, tapi motor tidak ditempat.
"Ah, masa bodo, nggk ada juga nggk apa-apa dah," kesal dalam hati.
Ane kembali ke toko tanpa motor, tidak meloleh sedikitpun saat Uda Zal, dan Uda Pong memanggil. jalan kaki saja menuju toko. Ane bergegas ke toko karna penasaran dengan kejadian uang yang hilang. Cctv toko menjadi target utama.
Kemudian,
Sampai ditoko, Ane langsung menuju ruang cctv. Ternyata cctv mati dan baru ingat adaptornya rusak, kekemuninan besar rekamannya tidak ada sama sekali. Sebab, Ane ingin melihat, apakah ada yg mengambil atau ane yang salah ketika menghitung uang. Duduk sejenak depan komputer cctv, termenung, mengusap-usap kepala sembari memikirkan apa yang telah ane lakukan sebelumnya, dari pagi sampai malam itu.
"Ya sudah lupakan," memukul meja yang tak berdosa.
Sejenak pikiran ditenangkan. Ingin makan mie plus secangkir goodday es. Biasa cara ane ngilangin pusing, kesal, gelisah ya, makan. Mama Bon datang membawa mie super lezat yang telah ditambah telor setengah matang, agar makin nikmat, ane menaburkan sendiri bawang goreng instan sebagai topingnya.
"Kamu kenapa, dek ?" tanya mama bon.
"Nggk kenapa-kenapa mabo (panggilan mama boni)," sambil menyedu kuah mie yang sudah merah karena terlalu banyak sambel.
Mabo pergi, tapi sepertinya lupa dengan minuman yang diminta. Selesai makan, goodday es belum datang juga. Mood belum berubah, pedas belum juga hilang, airpun tidak ada. Kesal lagi, timbulan lagi amarah yang ternyata berada dilevel atas. Ane semakin muak dan ingin mengambil minuman itu sendiri, pergi ke dapur toko, air tidak ada. Galon digoyang-goyang, mana tau masih ada sisa air, malah terjatuh dan retak.
"Aaaaaggghhh," kesal lagi...
Ane kembali ke tempat mabo,
Datang dengan kepala sedikit ditekuk, "mabo, minta air ya,"
Mabo memberikan gelas, saat gelas diisi air, yang keluar malah teh panas.
"Waduh, salah ini, tehnya belum dipindah," kata mabo. Senyum-senyum sendiri ditengah keramaian pelanggan.
Ane langsung menuju ke kamar mandi, minum air yang ada di bak dengan ketinggian semeter. Sejuk, lega, dan segar. Itulah perasaan yang timbul setelah menikmati segarnya air bak mandi. Prinsip yang ane ikuti dari kawan kampung seberang, "Man Kuman Kamin, Nan Kuman Jadi Vitamin,".
Selesai, dan selesai, tepat pukul 23.55 hampir tengah malam. Ane ke kamar, dan sedikit menginstrospeksi diri, sekaligus memikirkan apa dosa yang telah dilakukan sedari pagi tadi.
Beberapa poin ane simpulkan.
- Setiap kejadian buruk yang dialami, biasa terjadi karena ada kesalahan yang kita buat sendiri. Sadar atau tidak sadarnya, tanpa kita sadari ada orang yang tersinggung oleh ucapan kita sendiri, maka berhati-hati dalam setiap perkataan yang terlontar dari mulut.
- Kadang, kita merasa memperoleh kesialan mulai dari pagi sampai malam layaknya cerita diatas, tapi apakah kesialan itu benar-benar ada ? Atau hanya karena tuhan ingin menguji, sehingga kesialan yang dialami berubah menjadi ujian atau test. Entahlah... berprasangka baik saja.
- Ibadah, semakin banyak ibadah yang dilakukan, maka akan semakin baik juga prasangka baik terhadap apa saja yang dialami.
Saturday, June 8, 2019
Ngejar Waktu Sholat Ied 40km dari Rumah
Lebaran kali ini, ane masih merayakannya di tempat yang sama, Kepulauan Yapen, Papua. Namun, lokasinya berbeda, dari yang sebelumnya Panduami, arah Yapen Barat. Nah, sekarang, ane nyoba pergi ke Menawai, arah yapen timur.
Pagi itu, Ane berangkat jam 6.45, telat 45 menit dari waktu yang telah ditetapkan buat berangkat bareng teman. Sebenarnya janjian jam 6 berangkat, itupun kalau bisa bangun pagi, tapi alarm nggk ngaruh ke telinga, sehingga ane sendiri baru melek jam 6.18.
Bangun dari tidur, tiba2 saja ane lihat langit masih gelap, serasa mau hujan, peluk guling lagi dah. Beberapa detik kemudian ane bangun lagi, kapan solat subuhnya kalau gitu. ya udah, ane langsung mandi trus solat subuh pagi-pagi. Realita yang sering dialami, apalagi tinggal bersama orang yang nggk solat sama sekali.
Oke...
Mandi, solat subuh beres, ngaji habis solat absen dulu, biar bisa cepat berangkat.
Ngeeenggggg....
Ane berangkat secepat mungkin agar tidak telat sampai di masjid Menawi. Saat melewati jalur yang berseberangan dengan lokasi sholat ied di Kota Serui, Ane lihat jamaah sudah mulai berdatangan ke lapangan alun2 Serui, yang mana lokasi tersebut bukan pilihan untuk melaksanakan sholat, melainkan 40km lagi menuju Menawi. Tujuannya simpel saja, pengen ngerasain bagaimana sholat ied ditempat-tempat yang jauh, apalagi disana islam masih menjadi minoritas.
Ane terus melaju....
Perjalanan ke Menawi cukup jauh, normalnya 1.30 menit, karna jalur yang dilewati turun naik, tanjakan terjal, dan tikungan tajam. Selain itu, banyaknya lubang serta genangan air membuat ane harus berfikir dua kali jika harus memacu kendaraan dalam kecepatan tinggi. Tapi disaat jalur lurus dan kering, ane dapat memanfaatkannya untuk menambah kecepatan.
45 menit lebih cepat dari waktu normal. Walau banyak lubang serta jalanan yang tidak bagus, Ane sampai ke masjid lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Masjid masih sepi, hanya ada tiga minibus dan tujuh motor yang sudah parkir. Kemungkinan ini akan telat, seperti yang terjadi saat sholat jumat. Kenapa ane bilang, karena solat jumat di masjid Menawi bisa lebih lambat 30 menit dari Kota Serui, walau berada di waktu yang sama.
Ane masuk ke dalam masjid, kemudian melihat kesegala arah, banyak pandangan mata melihat yang melihat, Ane juga bingung, mungkin asing kali ya, karena ane juga bukan tinggal di Menawi kali. Tapi, kondisi tersebut nggk bakal bikin semangat luntur, malah bersyukur, karena Ane dapat langsung berinterasi dengan orang2 yang belum pernah dilihat sebelumnya. Selain itu, silaturahmi juga lebih seru, dengan adanya salaman bergilir yang menjadi tradisi setelah ceramah selesai. Tradisi salam-salaman yang dilakukan dalam Masjid.
Ane melihat uda boy yang sedang zikir sembari memegang jempol kaki, lagi kesemutan tu
"Da," salam dulu.
"Oh ya,"ujar da boy....
"Blm mulai kah ?" perlahan mulai duduk disebelah da boy.
"Blm, masih menunggu yang lain, "
"Nunggu siapa da ?"
"Org2 kampung msih banyak yang mau datang lagi," sembari da boy menunjuk kearah mobil pick up yang tengah parkir.
Hmmm...
Pantesan belum, ternyata mulainya sholat ied jika jamaah dari kampung sekitaran Menawi sudah datang semua. Keren juga, menurut ane, saling menghargai dan mau menunggu jamaah adalah cara yang baik untuk merayakan idul fitri bersama.
Bruuummm. Bunyi pick up lagi, rombongan jamaah yang baru datang, berlokasi 30km dari Menawi, mobil pick up yang sudah disain dengan atap yang berdiri tegak, menghindari panas matahari. Ane segera bersiap sholat, ternyata masih belum, masih ada jamaah yang akan datang, ujar pengurus masjid yang sedang membacakan pengumanan dekat mimbar.
Jam 7.50 , solatpun dimulai.
Lebih lama mulainya dari solat id dikota. Ane pun balik dari Masjid menawi jam 8.30
Tolesansi tidak hanya dimiliki oleh masyarakat yang berbeda agama, toleransi dan mau menunggu jamaah dari kampung yang berlokasi jauh juga sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat sekitar.
Ramadahan kali ini makin bermakna.
Nb : di Panduawi kamanap, arah yapen barat masih ada lo, tahun lalu. Tunggu aja e
Wednesday, February 20, 2019
Monday, October 29, 2018
Kerajinan Box Baju Kotor dari Simcard
Sisa simcard banyak sekali ditemukan dimana-mana. Bentuknya yang unik dan tipis sering digunakan jadi mainan kunci. Selain gantungan, simcard juga dijadikan box untuk menyimpan barang-barang kecil ringan, namun mimin punya ide lain, yaitu dengan menggunakan 394 biji simcard untuk membuat box penyimpan baju kotor sebelum dicuci. Selain simcard sebagai bahan utama, lem 3 detik (sebutan lem yang mimin beli di pasar) sebanyak 3 biji menjadi alat pemersatu masing-masing simcard.
Pembuatannya cukup mudah, hanya tinggal menempelkan kartu dengan pola garis lurus. Agar dinding box lebih tegap, kartu dibuat menjadi dua lapis. Pada bagian alas, 5 lapis kartu ditempel agar alas lebih tebal sekitar 1 cm. Dengan ketebatalan seperti itu, lem bisa diletakkan lebih banyak untuk memperkuat dinding box.
Setelah alas dan dinding menyatu, bagian sisi box ditempel. Dan terakhir, tutup box dibuat dengan cara yang sama seperti membuat dinding box. Tapi, satu kartu ditempel tegak pada bagian tutup box.
Bukit Berbatu Kamanap, Yapen, Papua
Berkunjung ke tempat baru dengan suasana yang berbeda tentunya menghasilkan pengalaman yang tak terlupa. Unik dan berbeda dari yang lain menjadi pilihan si pecandu wisata alam. Anugrah tuhan yang tercipta dari hasil pembangunan jalan raya layak diacungi jembol, entah berasal dari ledakan atau galian, tempat seperti bisa dikatakan hasil alam yang dibiarkan, namun memiliki nilai keindahan yang tak ternilai.
Beberapa hari yang lalu, Gue berkunjung ke bukit bebatuan yang berjarak 100 m dari Bandara Stefanus Rumbewas, Kepulauan Yapen, Papua. Lokasinya mudah dijangkau karena berada di jalan lintas menuju bandara. Perbukitan bebatuan ini juga banyak memiliki spot foto yang keren, namun harus berhati-hati saat melintas. Banyaknya batuan runcing bisa saja membuat ban kendaraan bocor dengan mudahnya. Selain batuan, lubang-lubang kecil dengan berbagai ukuran luas sesekali bisa memperngaruhi perjalanan.
Jika kalian berkunjung ke Serui dengan menggunakan pesawat, tidak ada salahnya berkunjung ke tempat ini, lokasi yang menyimpan pesona alam yang indah.






