footer social

Pages

Monday, January 6, 2020

Lustrum 6, pelajaran berharga untuk mereka


Satu kesempatan sekali lima tahun, cerita lama yang ingin selalu gue jadikan motivasi, baik dalam berkarya ataupun managemen diri.
Pagelaran Lustrum VI, acara yang dinanti banyak pasang mata, terutama bagi mahasiswa minang yang berada di kawasan Bandung, Jawa Barat. Gue sebagai salah satu senior di Unit Pecinta Budaya Minangkabau Universitas Padjadjaran mengambil kesempatan untuk mengeksplor diri serta mengaplikasikan sebagian kemampuan dari Lustrum V yang diikuti 5 tahun lalu ke Lustrum VI yang diadakan tanggal 12 Mei 2017.
Berawal dari sekedar iseng melihat-lihat situasi latihan, akhirnya gue terjun langsung membantu panitia serta penampil. Segala hal yang terekam dalam kamera video gue coba tuliskan dalam blog ini, semoga bisa menjadi modal yang baik bagi yang membacanya. “Palito nan Takalam”, maha karya dari insan mahasiswa yang nantinya ditampilkan sebagai penutup rangkaian Lustrum VI UPBM UNPAD.
Gue mulai dari persiapan,
Tanggal 4 april 2017 menjadi awal uji coba pagelaran Lustrum VI. Banyak perbaikan serta evaluasi disana sini. Belum ada yang bisa diharapkan dari semua divisi, namun semangat serta motivasi terus diberi agar penampil memperoleh proses yang baik selama latihan. Selain itu, perlu adanya dorongan penuh dari hati penampil itu sendiri, seperti disiplin dalam waktu latihan serta saling menghargai terhadap keputusan yang dibuat bersama.
Penampilan terdiri dari 4 divisi, diantaranya tari, musik, randai, dan drama. Semua yang ditampilkan sesuai dengan alur drama yang disajikan. Untuk hasil Pra Uji Penampilan atau UP, tidak ada bedanya dengan sinkronisasi yang dilaksanakan setiap hari sekre rabu, kamis dan jum’at. Banyak latihan yang harus dilakukan jika ingin menuai hasil yang sempurna saat pagelaran nantinya. Penampil masing-masing tim tidak ada yang full. Salah satu tim sampai-sampai hanya 40% yang datang mengikuti UP.
“seperti inikah yang akan kalian tampilkan,”ujar salah satu senior yang datang melihat pra UP. Pelatih hanya bisa diam dan memaklumi perkataan dari seorang uni yang pernah tampil di Lustrum V lalu. Saat evaluasi, kebanyakan penampil termasuk panitia menunduk dan seolah-olah tidak tahu apa yang terjadi.
Hasil dari pra UP akan menjadi evaluasi bersama yang nantinya akan diperbaiki untuk UP 1 yang akan dilaksanakan 2 hari  kemudian. Terus dikejar dan tinggalkan rasa lelah dan buat semangat baru dalam setiap pergerakan.
UP 1
Jalannya persiapan cukup menyita perhatian alumni serta sesepuh UPBM, banyak waktu yang dibuang karena kelalaian panitia maupun penampil. Ketidaktahuan masing-masing panitia menjadi faktor penyebab tidak terkodinasinya penampil. Selain panitia, penampil hanya diam saat logistik yang dibutuhkan tidak dibawa oleh panitia. Saat baru ditanya oleh uda dan uni, semuanya kalang kabut mencari.
“alat ini yang bawa si ini da. nggk, semuanya panitia yang bawa. Iya, alat nggk dibawa penampil”, ujar panitia dan penampil saat beberapa uda uni bertanya sebelum melihat UP 1.. Saling menyalahkan menjadi solusi akhir dari kesalahan yang dilakukan oleh semua panitia ataupun penampil.
UP 1 yang sebenarnya dimulai dari pukul 19.30, ngaret selama beberapa menit. UP akhirnya dimulai pukul 19.42 di waktu kamera video. Antusias dari penampil sangat terlihat saat persiapan dilakukan oleh panitia serta pengurus. Rekaman yang gue ambil seakan terasa seperti kejadian lima tahun yang dilakukan besama rekan-rekan lustrum V. huft… jadi ingat masa lalu.
Pertunjukan dimulai.
Bunyian talempong dari ritim pertanda Tari Galombang Pasambahan dimulai sebagai pembuka seluruh rangkaian acara. Selama berlangsungnya penampilan, masih banyak kesalahan yang terjadi, baik itu dari musik dan tari. Posisi berdiri yang banyak salah serta banyak gerakan tambahan yang seharusnya tidak diperlihat oleh penampil galombang. Namun, bagi gue semua bisa dimaklumi dengan persiapan serta latihan yang masih belum maksimal.
Bunyi talempong sebagai tanda masuk ketua umum, ketua UPBM dan pembimbing menjadi awal pagelaran dimulai. Randai mulai memasuki panggung pagelaran, tepukan dan hentakan membuat suasana pagelaran semakin menarik ditonton.
Legaran demi legaran dilakukan dengan sempurna kecuali pada bagian akhir yang masih harus diperbaiki. Pandangan mata yang tajam sebagai ciri khas randai tidak terlihat selama UP 1 berlangsung. Namun, bagi gue, tim yang konsisten selama UP berlangsung adalah randai itu sendiri. Terlihat dari beberapa latihan yang mereka lakukan sampai jam 3 pagi. Hasil tidak akan ingkar terhadap usaha yang dilakukan.
Selain randai, beberapa penampil drama masuk ke dalam lingkar yang ditutup randai. Lingkar kecil dibuka, kemudian menampilkan drama dengan empat orang tokoh yang mulai mengeluakan kemampuan drama masing-masing. Sesekali instruksi diberikan oleh pelatih masing-masing divisi. Kejadian seperti ini seharusnya tidak terjadi pada UP 1, pada rangkaian kegiatan UP 1 sampai Gladi Kotor nanti, seharusnya penampil dibiarkan saja oleh pelatih dalam mencerna isi konten dalam acara.
Target dari UP 1 hanya sebatas penampil paham dengan apa saja roundown yang telah disusun oleh sutradara. Tapi, target yang seharusnya terlaksana malah berantakan dengan grasak grusuk penampil selama pagelaran. Posisi bediri dari tim tari yang masih banyak perlu diperbaiki menjadi bukti kurangnya latihan selama rangkaian lustrum berlangsung.
Panitia terhadap penampil masih terlihat belum singkron. Bloking masing terlihat dimana-mana, masih terlihat seperti malam sinkronisasi yang ditampilkan di tempat yang berbeda dari yang biasa. Musik sebagai pengiring masih terdengar tidak menunjukkan sikap seorang penampil. Alat komunikasi masih terlihat selama UP 1 berlangsung. Perlu adanya tindakan tegas dari kordinator yang menangani musik secara keseluruhan.
Salah satu yang menjadi perhatian dari uda dan uni yang melihat adalah Tari Piring. Tari yang dikenal dengan kecepatan serta gayanya yang khas berubah menjadi tari yang jelas dan seakan menggabungkan tiga tari menjadi satu.
Seorang uda datang kepada gue yang sedang merekam,
“ri, kok tarinya kayak gitu,” tanya uda yang menjadi penampil Lustrum IV.
“yang mana da,”
“tari piring dong, itu gerakan seperti mengambi gerak tari pamenan, piring klasik, dan modern, siapa yang ngajarin,? uda tersebut semakin geram dengan tari yang telah dia kreasikan lima tahun lalu. Dengan mudahnya pelatih piring mengambil begitu saja beberapa bagian dari tari piring yang telah ada.
“iya da, saya juga nggk tahu, kan saya nggk ngerti tari juga,” seorang uni datang dan menyambung pembicaraan kami berdua, “iya, itu plagiat namanya itu,” uni tersebut juga menjadi penampil Lustrum V dan mengetahui seluruh tari yang ada di UPBM, apalagi uni yang bertubuh mungil memiliki kemampuan lebih dalam seni budaya. Selain menari, beliau juga bisa randai dan musik. Hal yang wajar menurut gue ketika uda dan uni tersebut tidak menyetujui adanya tari piring yang dirubah dengan cara mengambil beberapa bagian dari tari piring yang sudah ada.
            Gue kemudian menyarakan kepada uda tersebut agar langsung berbicara dalam forum evaluasi atau langsung kepada pelatih tari piring. Hal tersebut gue lakukan agar gue aman sendiri dari pertanyaan aneh yang akan ditanyakan lagi oleh uda uni yang akhirnya pergi ke bagian tepi gedung UP 1, hehehe
Saat evaluasi berlangsung, saran yang gue berikan kepada uda dan uni tersebut ternyata benar-benar terlontar saat evaluasi. Berbagai jawaban serta alibi berputar-putar selama evaluasi dari pelatih, “iya itu kan baru uji coba da, kami tidak akan menggukan gerakan itu kok da, ini karena mau UP 1 saja kami menggukan gerakan tari seperti tadi,” jawaban dari pelatih tari piring yang ditanya oleh uda penampil Lustrum IV.
Semua akan terlihat baik pada waktunya,
Pada akhir acara yang seharusnya berjalan lancar dan mulus, malah terhenti secara mendadak dikarenakan waktu yang membatasi peminjaman tempat. Panitia yang juga dikejar waktu harus konsisten dengan keputusan yang mereka buat sendiri.
Kesadaran dari penampil masih perlu ditingkatkan dan dicermati. Persiapan dari panitia harus lebih matang agar tidak terjadi kesalahan yang memperlambat dimulainya persiapan.
Pembanyak latihan untuk semua penampil. Belum bisa ditampilkan tapi masih bisa diusahakan jika ingin sekali memperoleh hasil yang lebih. Kesimpulan yang gue tarik sendiri selama berlangsungnya UP 1. Semoga lebih baik lagi dek.
Latihan Sinkronisasi
Tari & musik, tgl 12 april
Pada malam ini, dua divisi masih banyak kekurangan dalam latihan. Divisi tari mulai menunjukkan perubahan yang besar dalam sektor apapun, sehingga kesalahan besar yang dulu sering terjadi, kini makin lama semakin hilang. Sebaliknya, musik yang seharusnya bisa menyeimbangkan permainan tari malah menunjukkan hasil yang kurang maksimal. Tidak banyak perubahan sehingga banyak terjadi evaluasi yang terkesan menekan divisi musik untuk lebih baik dalam latihan. Semua selesai dengan pekerjaan rumah yang masih tertunda.
“Rasa tidak senang pasti ada karena terlalu banyak di salahkan oleh tim lain, namun hal tersebut yang akan memacu semangat serta motivasi tinggi bagi kita semua,” ujar kordinator musik.
Drama & Musik, tgl 13 april
Semuanya berjalan dengan lancar. tapi pada kesempatan latihan yang seharusnya diberikan, hampir semua penampil tidak memaksimalkan waktu yang yang ada. Latihan drama masih kurang maksimal karena kurang fokusnya penampil saat mengucapkan isi naskah.
Musik yang terlalu berleha-leha dengan tidak adanya disiplin saat latihan menyebabkan segala lagu yang dimainkan tidak terdengar merdu. Padahal sebelum latihan seharunya ada ‘rall’ pemanasan untuk musik, namun kesempatan seperti itu tidak dimaksimalkan oleh masing-masing personil musik sehingga permainan menjadi berantakan. Kebanyakan penampil musik duduk langsung ketika tidak memainkan musik, hal tersebut menyebabkan banyaknya miss komunikasi saat tim musik diminta memainkan beberapa musik pengirim.
Grasak grusuk, “mana stik aku, mana stik aku,” kalimat yang sering terdengar dari tim musik saat memulai permainan dari lagu satu ke lagu yang lain.
Saat sesi evaluasi, forum menyayangkan kelakuan penampil yang tidak disiplin saat berlatih. Menyalahkan keputusan dari jadwal yang diberikan panitia serta pengurus yang hanya memberikan beban kepada panitia."Kita jangan menyalahkan sistem yang dibuat oleh panitia, kita yang mengikuti sistem yang diberikan sesuai dengan kebutuhan dan timeline pagelaran. Sadar diri untuk mengikuti latihan sesuai dengan waktu yang ada", ucap salah satu penampil musik sekaligus penutup sesi evaluasi.
Malam semakin larut dengan gue yang langsung pindah ke divisi randai
Selesai evaluasi pukul 00.30 malam, empat orang anak randai latihan untuk silat. Pelatihnya berasal dari anggota randai 2011. Latihan langsung dikordinir oleh kordinantor. Sebagai kordinator, dia mengerjakan tugas dengan baik tanpa ada beban fikiran, itupun menurut gue sih …
Sebagai seorang pecinta korea, naluri korea selalu timbul walau sedang mengkordinir latihan silat tengah malam. Walau sibuk memperhatikan penampil randai latihan silat, tarian korea serta gerakan yang ditonton dari youtube selalu diiringi oleh kordinator. “ai takata, ai takata”, eh maaf itu dari jepang.
Tgl 14 april
Latihan yang diharapkan lancar hanya berjalan apa adanya atau biasa saja. Semangat  kurang dengan fisik yang terlalu lemah disibukkan dengan tugas kampus yang melimpah. Fasilitator tidak memanfaatkan waktu sebaik mungkin, walau penampil meminta untuk latihan, fasilitator malah tidak mendukung semangat penampil yang mulai serius terhadap latihan.
Satu waktu, ada perubahan tari yang membuat pelatihti tim musik tidak senang.
“musik tarinya ada yang dirubah da,” ujar kordinator.
“enak banget, main ubah-ubah aja tu anak,”
“santai da, itu belum pasti kok,” Hal tersebut memicu kemarahan pelatih yang sudah lelah melatih malah hasil latihan tidak digunakan dengan maksimal. Perubahan sangat banyak sehingga harus ada perombakan signifikan di bagian musik.
Datang menuju pelatih tari, “kawan, nggk kayak gini caranya, jangan main ubah gitu aja dong, kita udah latihan sebaik mungkin, kalian malah ngubah musik,” tegas pelatih musik.
“ya santai dulu pak,” sambil bercanda, pelatih tari menepih pundak pelatih musik.
“apaan sih,!”
Gue bak pahlawan kemalaman datang dan menasehat kepada mereka berdua, “hal yang wajar jika kreasi kita nggk jadi dipakai boy, namanya juga latihan, saling memahami dong. Kamu juga tong, kan kamu tahu gimana bermain musik toh, malah ngubah sesuai keinginan kamu sendiri, beritahu dulu baru dicobain. Cobalah saling berkreasi dengan memaksimalkan waktu yang ada, pastikan dulu baru lapor ke musik, nih tim kamu tong. Udah !, sekarang bubar, lakukan sesuai dengan selera dan jangan lupa baca, bismillah,” ceramah singkat dari seorang yang kerjaannya hanya merekam dan melihat tim musik yang sedang latihan. Maklum … seniorrr
Drama dan Randai juga mulai latihan mandiri dengan memaksimalkan waktu yang diberikan. Kebanyakan tidak puas dengan fasilitas yang diberikan pengurus sehingga banyak panitia yang salah tanggap dengan jobdesk yang dilaksakan.
Alhasil, masih banyak kekecewaan yang dialami oleh pelatih dikarenakan penampil tidak maksimal dalam memanfaatkan waktu yang diberikan. Evaluasi sudah banyak diawali oleh 2016 sebagai pemberi tanggapan serta saran. Masih kecewa …
UP 2
Jumat, 21 April menjadi malam disaat Uji penampilan kedua bagi Lustrum VI dilaksanakan. Masih banyak isi-isi konten yang perlu diperhatikan, mulai dari durasi, tempat penampil beristirahat, serta bagaimana alur cerita yang akan ditampilkan bisa berjalan dengan lancar.
Uji penampilan dimulai jam 7 malam. Semua logistik penampil telah dipersiapkan oleh panitia. Walau masih ada kesalahan yang seharusnya tidak terjadi, seperti panitia yang panik ketika barang yang dipakai oleh penampil tidak ada. Seharusnya hal tersebut bisa menjadi pemicu semangat untuk lebih baik lagi dalam bekerja. Tapi, yang terjadi malah kemarahan yang berujung pada perpecahan.
Salah satu kejadian, saat sound system mulai dipasang, waktu terbuang sia-sia karena panitia yang memasang pengeras suara tidak mengetahui detail pemasangan sound system. Faktor yang menjadi penyebab terjadinya kesalahan ada pada amplitudo, kabel penghubung yang menyatukan aliran listrik pada keyboard dengan amplitudo rusak, sehingga suara yang dihasilkan tidak terdengar sempurna, kadang hidup kadang mati. Setelah memakai kabel yang baru diberikan salah satu penampil, akhirnya amplitudo bekerja sesuai dengan yang diinginkan. Semua peralatan sound system beserta kabel yang terpasang disusun kembali agar tidak terjadi kerugiaan, karena sound system tersebut disewa dari UKM Drum Band kampus. 
Lanjut …
Semua divisi menampilkan pertunjukan masing-masing dengan konsep yang berbeda dari UP 1. Tari yang ditampilkan sedikit banyaknya telah dirubah dengan gerakan serta posisi baru. Masih terdapat evaluasi pada gerak serta kuda-kuda yang menjadi tumpuan, namun semua itu bisa diantisipasi dengan baik sesuai dengan konsep baru yang diselesaikan oleh tim sendiri.
Pada divisi drama, terdapat banyak sekali kesalahan yang disebabkan belum hafalnya dialog yang diberikan. Akibatnya, percakapan dari masing-masing pemain hanya berisi dialog-dialog kosong dengan bahasa yang jauh berbeda dari naskah yang diberikan. Begitu juga kostum yang menjadi petunjuk bagi penonton untuk mengetahui karakter pemain tidak digunakan sebagaimana mestinya, tidak ada perbedaan si A menampilkan karater seperti ini dengan si B yang menampilkan seperti itu. Silat yang ditujukan untuk memperlihatkan pertarungan yang menarik terkesan seperti Smackdown yang ugal-ugalan.
Walau masih banyak yang perlu diperbaiki, drama masih tetap bersemangat dalam memperbaiki penampilannya saat UP 2. Salah satu pemain yang mengalami kaki terkilir tetap menjalankan tugasnya walau untuk berjalanpun masih sulit. Rasa nyeri bukan menjadi penghalang baginya yang berperan sebagai komandan. Setiap perubahan yang terjadi akan selalu menjadi pelajaran terbaik bagi divisi drama yang terus memperbaiki diri.
Diwaktu yang beriringan, randai yang mengadakan legaran sebanyakan 5 – 6 kali tetap semangat saat awal legaran ditampilkan. Satu orang penampil randai tidak ikut karena harus mengisi sebuah kegiatan di UKM lain yang diikutinya. Meski begitu, randai tetap dianggap melanggar aturan dengan tidak menampilkan semua penampil. Sebaiknya semua anggota tetap mengingatkan satu dengan yang lainnya. Walau hilang satu, maka akan menyebabkan buruknya formasi penampilan, saat satu pasang melakukan gerakan yang seirama, dia yang hanya sendiri terlihat aneh saat melakukan gerakan tanpa ada pasangan.
Divisi musik yang menjadi pengiring masih belum sadar dengan tindakan yang dilakukan. Banyak diantara penampil yang tidak mengindahkan peraturan yang diberikan kordinator untuk tidak memain handphone.
“hp lagi, hp lagi,” teriak kordinator kepada pemain musik.
(braakkk) bunyi talempong jatuh saat seorang penampil berdiri dari lantai dan mengenai tempat talempong. “eh, maaf un, hehe”, kordinator lalu marah dan mengacuhkan penampil tersebut.
Saat malam tiba, kordinator masih tampak belum memaafkan kesalahan maul, penampil musik yang memiliki skill bagus di musik.
Maul datang tiba-tiba kepada kordinator,
“un, maafin maul ya,”
“maaf apa maul,” ujar kormus (kordinator musik)
“ya, udah jatohin alat musik,”
“ah bodo amat ah,” ujar kormus yang kemudian langsung pergi meninggalkan maul yang mulai diam karena merasa bersalah.
Seluruh teman-teman musik melihat maul dengan tatapan jutek, Maul terus terdiam dan meminta saran kepada gue yang sedang duduk santai bak di pantai sembari memainkan gitar.
            Gue langsung menasehati maul dan memberi tekananan keras kepada maul yang sudah menjatuhkan alat musik yang sensitif. Maul semakin berkecil hati dan hanya melihat teman-temannya latihan. Maul tidak lagi menyentuh talempong dan hanya diam memainkan stik yang dipegang.
Kormus datang, Maul langsung meminta maaf dengan segala kesalahannya yang berakibat fatal menurutnya. Kormus hanya diam dan terus membiarkan meminta maaf kepadanya.
Air matapun tak terbendung lagi, Maul mulai mengeluarkan air mata yang akhirnya menyentuh hati kormus. Kormus mulai memberi kode kepada anggota musik yang lain. (nyanyian terdengar dari jauh menuju Maul) “happy birthday to you (3x), selamat ulang tahun Maul,” ucap kormus kepada Maul yang heran dan tidak menyangka akan dikerjai oleh teman-temannya sendiri. Walau begitu, segala konflik yang terjadi tadi sebenarnya tindakan yang tidak disengaja Maul sehingga tim musik memperoleh bahan untuk mengerjai Maul yang berulang tahun.
Kejadian yang terjadi setelah UP 2 tersebut setidaknya menyegarkan pikiran tim musik dalam canda dan tawa. Walau begitu, hasil evaluasi harus tetap dicermati bersama oleh tim musik agar permainan semakin meningkat.
Semangat baru semakin membuahkan hasil dengan persentasi penampilan sudah 60 %. Tidak banyak yang berubah, tapi harus tetap merevisi hasil penampilan yang berantakan, agar pada uji penampilan berikutnya bisa berjalan sesuai dengan yang direncakan.
Selesai menampilan hasil latihan, semua saling mengevaluasi. Gor yang biasa dipakai hanya dibatasi sampai jam 12 malam saja, sementara masih banyak uda uni yang ingin memberikan evaluasi terkait penampilan yang disajikan. Alhasil, tempat evaluasi di pindah ke ruang bersama yang berada sekitar 500 meter dari lokasi UP 2. Semua hasil evaluasi dicatat dan selesai jam 2 malam.
Pada UP 3 yang dijadwalkan tanggal 3 mei tepatnya hari rabu, semua berakhir tragis dengan hujan yang mengguyur pentas pagelaran. Lokasi yang tidak sesuai untuk diadakannya UP menjadi karma bagi panitia yang tidak siap melaksanakan rangkaian kegiatan yang seharusnya diadakan jam 7 malam akhirnya di undur sampai jam setengah 9 lebih 30 menit malam..
Entah tuhan yang memberi peringatan atau memang langit yang marah karena melihat semua anggota tidak memiliki disiplin dalam melaksanakan acara. Uda uni sangat menyayangkan terjadinya cuaca buruk tersebut, terlebih ketika melihat alat musik yang dibiarkan basah oleh rintik hujan. Alat musik yang dibasahi hujan tampak tidak mempengaruhi gerak cepat dari panitia. Kebanyakan hanya melongo, sampai pada akhirnya seorang alumni datang dan meneriaki panitia,
“woi panitia mana nih, alat musik basah tau nggk”? teriak keras dari senior musik yang sedang mengambil beberapa terpal untuk menjadi payung bagi anak musik terutama alat-alatnya.
“kayu ini bisa dipakai da,” ujar sekretaris umum yang sedang mengambil bambu.
“oh oke, tapi ini kepanjangan,” cakap senior musik yang semakin terlihat menahan amarah.
(kraaakkk) bunyi kayu yang dipatahkan senior. Semua melihat ke arahnya yang semakin bringas tanpa melihat area sekitar.
“santai da, santai,”
“apaan sih, santai-santai, tau nggk tu alat musik basah,
“iya da, kita tahu,”
“trus, diliatin aja ?, eh, lustrum bukan akhir UPBM ya, kalian musti tau itu, saya ngebantu bukan karena acara atau kalian, ini karena alat musik saya bela-belain seperti ini, seharusnya saya disana, bareng uda uni alumni,”
Sekum seakan sadar dengan apa yang terjadi, dia hanya tersenyum menahan amarah senior tersebut. Walau begitu, sekum yang terlihat tenang ini tidak bisa disalahkan juga. Kesadaran dan gercep panitia perlu diperhatikan dan lebih ditingkatkan lagi. 
Salah seorang panitia yang ikut membantu mengalami luka yang cukup parah saat menahan bambu yang nyaris jatuh ke salah satu penampil. Reflek, panitia yang menahan kayupun tergelincir, celana robek pada bagian selangka dan “aaaakkhh”, teriak panitia yang kemudian langsung kabur. Tujuan hanya satu, kembali ke kosan mengganti celana dengan yang baru kemudian kembali lagi ke lokasi UP 3.
Lanjut kerja …
Empat kayu berhasil dipatahkan dan panitia mengangkat kayu yang sudah berbentuk payung besar untuk dibawa menuju penampil yang masih sibuk memainkan alat musik karena tari pasambahan masih berlangsung.
Hujan semakin deras, UP 3 akhirnya dibatalkan dam dilanjutkan dengan evaluasi. Seperti yang telah diperkirakan, akan ada emosi yang terluap dari uda uni yang menyaksikan dan memperhatikan pergerakan panitia dan penampil.
Salah seorang uda ternyata menyangkan adanya bambu yang dimiliki oleh anak sastra dipatahkan begitu saja untuk membuat payung besar tersebut. Senior musik yang saat itu tidak mengatahui sama sekali orang yang memiliki bambu tersebut hanya bisa dan tetap memberi klarifikasi kepada panitia yang berada di tempat duduk yang sama.
“saya tidak akan mematahkan bambu tersebut kalau hujan tidak membasahi alat-alat yang sensitif terhadap air,” ujar senior yang menundukkan kepala saat berbicara dengan panitia advance.
UP dilanjutkan dengan tempat dan waktu yang belum diketahui…
UP 3
Jam 1 siang tanggal 7 Mei di Aula Gedung Satra menjadi waktu dan tempat diselenggarakannya UP 3. Musik, salah satu tim yang masih banyak kekurangan sudah datang dari jam 9 pagi menuju aula. Sementara itu, tim randai latihan di depan air terjun Fakultas MIPA, tari di lantai 4 gedung perpustakan Fakultas Geologi dan drama di unit kegiatan teater Fakultas Satra.
Siang mulai menjelang, waktu sudah menunjukkan jam 12 lebih. Logistik pagelaran mulai dimasukkan, serta para penampil maupun uda uni yang menyaksikan mulai memenuhi Aula Gedung Sastra. Agar tidak terjadi kesalahan yang menyebabkan jadwal UP diundur, panitia bergerak cepat, tepat jam 1 siang lewat, UP 3 dimulai. Niceeee …
Menurut gue, semua divisi menunjukkan peningkatan yang bisa dikatakan hampir sempurna. Penonton mulai merasa terhibur dengan penampilan yang disajikan. Salah satu yang membuat tawa penonton tidak berhenti adalah penampil drama yang berasal dari seorang pemain randai berkulit eksotis. Dialog serta gerak tubuh dilakukan tanpa ada kesalahan sedikitpun.
Kalimat,“ma kunci den,” menjadi viral saat ucapan tersebut terlontar dari mulut penampil yang juga menjadi icon di angkatannya.
Tepuk tangan penonton tak hentinya berbunyi sedari mulainya tari galombang pasambahan.
Selain dari drama yang mulai menunjukkan peningkatan yang signifikan, tari semakin  menarik perhatian panonton dengan gerak serta formasi yang berubah, terutama salah satu tari yang terlihat sangat kompak dengan hentakan kaki yang keras dan serentak. Sementara itu, randai masih menyimpan rahasia dibalik daun yang dipegang pada tangan kanan kiri serta musik yang belum memperlihatkan bagian penutup musik ensambelnya.
Semua rahasia disimpan oleh masing-masing divisi tersebut menjadi hak mereka, walau menurut gue tidak baik dilakukan karena tidak memperlihatkan propesionalisme saat latihan, tapi gue sendiri juga melakukan hal yang sama saat UP 3 Lustrum V. Saat penonton menunggu ensambel yang akan didengarkan, tim musik hanya memainkan kurang dari setengah permainan musik ensambel dan menutup permaianan dengan teriakan,”selesaaaaiii”. (bunyi rall) ….
Tim tetaplah tim, mereka tetaplah mereka dan gue hanya seorang yang hanya memberikan pengarahan sesuai dengan tingkat kemampuan yang dimiliki. Pada akhirnya, semua berjalan lancar pada UP 3. Kesalahan dan ketidakberuntungan saat UP 3 yang diundur saat 3 mei lalu dibayar setimpal dengan raihan peningkatan yang semakin membaik.
Gladi Kotor di Pusat Studi Bahasa Jepang
Gladi kotor akan dilaksanakan dua hari menjelang penampilan Lustrum VI. Sekitar jam 7 malam di Pusat Studi Bahasa Jepang Fakultas Satra. Suasana gladi kotor dibuat sedemikian rupa sesuai dengan pagelaran yang akan ditampilkan.
Sesuai dengan jam yang ditetapkan oleh panitia, gladi kotor dilaksanakan jam 7 malam, masih  ngaret sedikit dari waktu yang ditetapkan. Penampil menggunakan pakaian yang akan ditampilkan saat pagelaran nantinya. Gue yang menyaksikan gladi kotor semakin bersemangat menunggu waktu dilaksanakannya pagelaran yang kurang dari 50 jam lagi.
Berlari kesana kemari, “mana kunci, mana kursi, kabelnya yang mana wei,” suara yang terdengar dari back stage aula PSBJ.
“tenang panitia, tenaaang,” teriak seorang uda dari bangku penonton.
Semunya terlihat berseliweran
Lagi, persiapan masih berantakan. Walau PSBJ memiliki soundsystem sendiri, namun keadaan seperti itu tidak dimanfaatkan oleh panitia untuk mempersiapkan gladi kotor sebaikmungkin. Selain itu, bangku untuk penonton belum tertata rapi, sampai-sampai uda uni dan rekan-rekan panitia maupun penampil mengambil sendiri bangku yang akan diduduki.
Penampilan saat gladi kotor akan menjadi gambaran jelas pagelaran yang akan dilaksanakan di Granus, tempat berlangsungnya Lustrum VI nanti. Penjaga pintu, penunggu tamu, termasuk tamu penting yang hadir juga didatangkan, walau tamu penting tersebut diganti dengan beberapa panitia saja. 
Gladi kotor dimulai, waktu yang sudah menunjukkan jam 7 lebih 30 menit malam. Kostum asli mulai digunakan oleh beberapa penampil.
Singkat cerita, hasil dari Gladi kotor cukup mengembirakan walau masih ada beberapa kesalahan pada penampil dan mobilisasi panitia yang masih terlihat jelas saat acara berlangsung.
Jam 11 malam lebih gladi kotor selesai, ditutup dengan evaluasi yang diadakan di sekre bersama. Rasa lelah penampil saat gladi kotor belum bisa diapreasiasi karena masih banyaknya kesalahan kecil namun berakibat fatal pada penampilan. Salah satunya terjadi pada tim tari, salah satu penampil  melakukan gerakan yang berbeda teman-temannya yang lain.
Contoh lain, tim musik juga melakukan kesalahan yang sangat fatal. Ensambel yang akan dimainkan tiba-tiba terdengar buruk oleh suara salah satu pendendang. Hal tersebut terjadi karena mixer yang dipakai saat itu tidak berfungsi dengan baik.
Saat evaluasi, suara pendendang tersebut dianggap gangguang oleh uni yang mendengar ensambel musik, “sebaiknya suara itu dihilangkan saja, sangat mengganggu,”jelas uni yang bertugas sebagai pelatih tari.
Sang pendendang juga berkelih dari tanggapan uni tersebut, “itu terjadi bukan karena saya uni, tapi mic yang tidak bekerja dengan baik,”
“kalau salah ya tetap salah,”
“iya, tapi bukan dari suara saya, susah banget dijelasinnya,”
Selesai evaluasi, pendendang tersebut menangis karena tidak terima dengan evaluasi yang tidak semesetinya terjadi. Banyak curhatan yang disampaikan kepada rekan satu timnya, tangis dan sakit hati menjadi hal buruk yang didapat saat malam itu. Kabar tersebut gue dapat dari agen gue sendiri, siapa dia ?, haha. Hanya gue dan tuhan yang tahu …
Disaat yang sama, pelatih musik tertua datang, “solusi dari permasalahan tersebut adalah latihan”, ujar beliau. Latihanpun dilanjut pada esok hari sebelum hari H. semua tim melakukan hal yang sama, latihan walau sudah diberikan istirahat oleh panitia pada hari kamis itu.
Wajar rasanya, jika penampil tidak puas dengan gladi kotor tadi malam, banyak yang melakukan latihan ulang demi kelancaran penampilan. tetap semangat menuju hari H.
Persiapan Menjelang Acara
Kamis malam, semua logistik yang diperlukan dibawa dengan mobil pinjaman. Mobil yang diperoleh dari Departemen Kesejahteraan Anggota atau biasa disebut Kesta. Sore hari, beberapa tim dari panitia sudah mulai mempersiapkan alat-alat yang diperlukan seperti alat yang dibutuhkan tim dekorasi, makeup sampai alat yang dibutuhkan oleh masing-masing tim yang akan tampil pada acara esok harinya.
Sekitar jam 7 malam gue berangkat bersama dengan partner yang dulunya menjadi koodinator musik. Gue ingin melihat persiapan dari panitia serta tim yang membantu terlaksananya acara.
(bruuummm) suara motor dihidupkan, 
“yuk neng, berangkat,” motorpun digber secara pelan-pelan sampai memasuki jalan bypass Soekarno-Hatta, Bandung.
“udaaaaa, santai dikiiitt weeiii,” teriak partner yang dibonceng.
Motor sudah mencapai kecepatan maksimal. Tak butuh waktu lama, gue sampai di Granus 15 menit setelah berangkat dari Jatinangor. Tim dekorasi terlihat sudah memasang beberapa properti, mulai dari bagian luar serta dalam Granus.
Sampai tengah malam, panggung beserta dekorasi yang lain belum selesai. Beberapa orang panitia sudah mulai terlelap, namun masih ada yang bersemangat mendekorasi panggung. Terbesit hati membantu panitia dekorasi, mata yang mulai mengantukpun ditahan. Skill kreatif mulai ditunjukkan saat waktu masih menyisakan kurang dari 15 jam menuju acara. Entah kenapa, awalnya gue hanya melihat malah turun dan terlibat langsung dalam kepanitiaan bersama tim dekorasi. Tapi, gue masih bersyukur, setidaknya masih berguna bagi orang lain, cieee…, pesan moral.
Istilah mahasiswa sekarang, mata sudah 5 watt, yang artinya mata sudah mengantuk berat dan tidak bisa dibendung lagi. Badanpun mulai tertungkup di sebuah sofa yang digunakan nantinya untuk tamu undangan. Sekitar satu jam tertidur, gue dibangunkan oleh seorang panitia yang membawa cat, pesanan untuk dekorasi. Baru teringat saat sebelum tidur gue meminta panitia membeli cat yang dibutuhkan untuk memperindah dekorasi di beberapa properti panggung. Gue berifikir, cat akan dibeli saat pagi jam 7, namun karena panitia terlalu bersemangat, cat tersebut dibelikan saat jam 3 malam dan gue juga tidak tahu darimana mereka mendapatkannya. Mungkin pintu toko bangunan seseorang telah digebrak sehingga cat tersebut diperoleh bersamaan dengan hantu dan kawan-kawan dinas malam. ya kaleee…
Badan terasa bergoyang, “da, ini catnya,” saat seorang panitia memberikan cat merah dan hitam kepada gue ketika tertidur pulas. “hah, oh iyaa,” walau terkejut, namun tangan reflek menerima cat yang diberikan panitia dan gue langsung berdiri, mulai mencat kembali.
Sekitar setengah jam berlalu, “allahhu akbar Allaaaahhhu akbar,” bunyi suara azan dari masjid kampus. Disaat yang sama, kegiatan cat mencat gue selesai dilakukan disertai dengan perasaan riang dan mata yang fresh kembali.
(kruuuett) bunyi perut yang minta diisi kembali. Gue teringat bubur enak di kawasan Dago atas, walau mahal setidaknya bubur tersebut akan membuat perut terasa nyaman dengan beberapa toping di kiri kanan mangkuk.
Seorang panitia terbangun dan berdiri seperti zombie yang lapar, ternyata panitia tersebut adalah Al, panitia sekaligus menjadi penampil pada pagelaran nanti.
“woi, yuang, makan yuk,” al langsung membelalakan matanya,
“ha, boleh da, mau makan dimana da,?
Gue dan Al langsung pergi ke Dago, butuh waktu 15 menit menuju kesana karena saat pagi hari, Bandung sangat ramai dan macet.
Kebiasaan gue yang suka jalan-jalan timbul kembali. Selesai makan, Gue dan Al berkeliling Dago sampai memasuki komplek mewah di bagian Dago Timur. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi lebih sedikit, kami kembali menuju Granus dengan perut yang sudah tenang. Saat itu Al memperoleh kabar kalau penampil serta penampil sudah mulai bergerak menuju Granus dengan menggunakan mobil yang disewa dari kampus.
“Tung tang tung tang traaakkk…,” bunyi pukulan yang semakin terdengar jelas dari parkiran motor yang berjarak 50 meter hingga sampai ke dalam Granus. Panggung masih perlu ditata rapi dan properti yang dibutuhkan harus cepat dipasang.
Hampir 75 % penampil datang, Soundsystem yang sudah terpasang kemudian langsung dicoba oleh para pemain, begitu juga semua penari termasuk randai yang mencoba lantai panggung. Semua bekerja sama, tak terkecuali gue yang memegang kamera video, rekaman yang ingin gue jadikan dokumentasi pribadi dan bahan youtube, tapi sampai sekarang video yang gue miliki hanya beberapa saja di youtube, karena gue berada di daerah timur sini. Alibi ….
Sembari menunggu properti panggung terpasang, gue juga melihat properti untuk foto box belum selesai. Latar foto yang digunakan untuk penonton dibuat dengan metode lukisan, para pelukis gagah berani yang didatangkan oleh tim Pubdok.
Waktu jumat mulai masuk, segala kerjaan dihentikan dan bersiap sholat jumat. 30 menit selesai sholat jumat, panitia dan penampil mempersiapkan kebutuhan panggung yang belum selesai. Semua terlihat bersemangat, termasuk tim Black Man yang terdiri dari 6 orang pria perkasa dengan seorang kordinator manis sebagai pengatur setiap properti yang harus dibuat untuk acara nanti malam.
Jam semakin mendekati waktu acara, hujan deras menyertai kesibukan panitia saat mempersiapkan acara. “ayo ayo semangat,” ujar sutradara acara yang sudah memaksimalkan waktu untuk pagelaran Lustrum VI. Bagi gue, kepanikan belum terlihat dari panitia, seperti kordiantor humas yang masih memperlihatkan loyalitasnya sebagai pelatih musik. Kordinator logistik yang masih memperlihatkan senyum lebarnya saat dimintai beberapa barang untuk acara, dan kordinator-kordinator lain yang tetap konsisten menahan rasa lelah demi kesuksesan pagelaran.
Sekitar jam 5 sore, semua properti panggung selesai dipasang dan acara siap dilaksanakan sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Gue, sebagai salah satu senior yang terlibat dalam acara tidak menyangka akan turun langsung dan memberikan segala kemampuan yang dimiliki termasuk kreatifitas gue juga diadu disini. Misalnya, radio yang dibutuhan tim drama selesai hanya dalam waktu setengah jam. Benda tersebut menjadi benda yang tercepat yang pernah gue buat dari barang bekas. “The Power of Kepepet,” istilah yang keluar saat segala tekanan diselesai dengan tenang dan rapih.
            1 jam 30 menit, waktu tersisa untuk mempersiapkan semua. Agar tidak menimbulkan bau menyengat saat menonton pagelaran, gue membersihkan diri di toilet masjid kampus. “dimana ada air disitu uda akan mandi,” jelas gue kepada salah seorang penampil yang melihat gue membawa handuk keluar ruang make up panitia.
            Badan segar dan sholat selesai. Gue merekam kembali beberapa momen saat penampil berdandan ria di ruang make up. Semangat untuk memberikan penampilan terbaik diperlihatkan oleh penampil, tidak ada keraguan ataupun perasaan yang mengganggu jalannya acara. Semua tampak ceria dan mencurahkan segala tenaga dan upaya demi pagelaran yang tinggal menghitung menit lagi.
Selesai merekam, gue menuju tribun belakang dengan suasana gelap gulita. Terdiam hati saat melihat panggung dengan kreatifitas mahasiswa yang terbilang megah bagi gue, karena panggung tercipta berdasarkan konsep yang dibuat sendiri dari panitia. Gue melihat perbandingan besar yang terdapat pada saat gue terlibat di Lustrum V dengan Lustrum VI. perbandingan yang mengajari gue bahwa, “Kita sebagai senior tidak bisa menyamakan pemikiran yang dimiliki, walau menurut kita benar. Kita hanya bisa mengarahkan dan memberitahu, mana yang lebih baik dilakukan dan mana yang tidak lebih baik dilakukan. Berikan kebebasan terhadap mereka yang berkarya sesuai dengan nalar mereka sendiri. Ikutilah cara mereka, maka kau (senior) akan memperoleh perbedaan serta perbaikan dari apa (acara) yang akan kau selenggarakan”.
Seperti yang gue bilang di atas, gue memperoleh dua cara untuk mengadakan sebuah acara yang disebut pagelaran itu. Entah kapan gue akan memulainya, hanya gue dan tuhan yang tahu. Terimakasih atas semuanya dari gue kepada seluruh tim Lustrum VI yang memberikan banyaka pelajaran, serta tim Lustrum V yang terus memberi motivasi dan semangat tinggi untuk UPBM yang kita miliki.
Akhir cerita … Salam LUSTRUM ! yo LUSTRUUUUM…
Ligthing on ! … to be continued … 

It's show time






Sunday, January 5, 2020

Minggu Kesembilan, Siang Terik nan Sejuk di Sekeloa Bandung


Salam walking guys
Hati gue bertanya-tanya kemana kaki akan melangkah setelah turun dari bus nanti. Sontak terbesit nama “zendi” panggilan akrab teman gue yang bertempat tinggal di Sekeloa, sekitar 2 kilometer dari tempat gue berdiri saat ini. Perjalananpun dimulai setelah gue membayar tarif sekitar 8.000 rupiah dan turun melalui pintu depan.
Saat turun dari bus, gue langsung disambut oleh angkot berwarna putih.
“teeetttt,” bunyi bus yang nyaris menabrak angkot yang tiba-tiba langsung berbelok kiri dan berhenti di tepi jalan depan kampus.
“pak, maju ke depan lagi pak,” kata supir bus.
Angkot tidak bergerak sedikitpun, “teeeettttt,” klakson bus semakin keras sehingga membuat gue menutup telinga. Gue jadi memperhatikan sifat dari supir angkot yang tidak mau berpindah, seolah-olah tidak mendengar teriakan bus.
Sebagai warga Indonesia yang baik, alangkah mulianya jika saat mencari uang, kita tidak merugikan orang lain. Bus akan segera berangkat, namun karena ada angkot yang tidak mau maju, sehingga bus tidak bisa memutar balik menuju penumpang.
Beberapa langkah gue berjalan, gue melihat kondektur bus berjalan menuju angkot yang tengah santai menunggu penumpang.
            “Makasih mang,” ucap kondektur bus.
Akhirnya, permasalahan selesai setelah pak kondektur bus datang, meminta baik-baik agar supir angkot mau beranjak dan memajukan kendaraan agar bus bisa lewat. Sementara itu, gue langsung melanjutkan perjalanan menuju ke jalur yang ramai kendaraan depan SPBU dan belok kanan menuju Sekeloa melewati jalan yang sedikit menanjak.
Langkah demi langkah dimulai.
Siang hari, terik matahari menemani perjalanan gue ketika menempuh jalan yang menanjak, kemudian langsung mengambil jalan pintas menuju jalur besar Jalan Sekeloa. Badan mulai berkeringat membasahi baju yang belum sempat dicuci. Walau begitu, kegelisahan belum mengahampiri jalan-jalan siang gue yang semakin terasa panas.
Jalan terasa semakin sempit dengan macetnya jalur yang dilewati, banyaknya mobil yang melewati jalan serta motor yang tidak mau memberi ruang menyebabkan macet sepanjang jalan sampai ke persimpangan menuju Jalan Sekeloa.
Macet sudah terjadi sejak mobil sedan yang rendah tidak mau melewati polisi tidur ketinggian sekitar 7 -`10 cm. Pejalan kaki serta warga yang memakai motor sudah membimbing jalannya mobil. Entah takut atau masih ragu melewati tanggul kecil, gadis yang membawa mobil tersebut tidak berani melewati tanggul yang sebenarnya bisa dilewati. Selain tidak berani melewati tanggul, dinding pagar yang berada di sebelah kiri mobil juga menjadi penyebab gadis tidak berani menjalankan mobilnya. Tiba-tiba, seorang pemuda yang sedang membawa motor gede mengetuk kaca jendela mobil gadis tersebut. Gadis dalam mobil akhirnya mengikuti ajakan dari pemuda yang tersenyum sambil mengatur arah berjalannya mobil agar tidak tergores oleh dinding pagar.
Mobil sedan akhirnya berhasil melewati polisi tidur serta dinding yang hanya berjarak 1 – 2 cm dari bagian kiri mobil. Pemuda yang juga sedang pergi menggunakan motor gedenya terus melintas di depan mobil sedan. Bak seorang putri raja, gadis tersebut terlihat seperti dikawal oleh pemuda tersebut sampai di ujung penglihatan gue.
Semua kendaraan kembali melanjutkan perjalanannya, serta gue terus berjalan menuju persimpangan menuju Jalan Sekeloa. Sejuknya udara yang berada di satu pohon membuat gue berhenti sejenak sebelum sampai di kosan Zendi. Sembari melepas lelah, gue mendengarkan lagu ala-ala pantai sehingga gue nyaris tertidur di bawah pohon tinggi tersebut.
Badan mulai segar kembali, Gue sesegera mungkin beranjak dari pohon karena cuaca mulai gelap dan akan turun hujan beberapa menit. Sampai di persimpangan kosan Zendi, gue melihat banyaknya kendaraan warga di sekitar, namun tidak ada keramaian seperti yang dirasakan di kampung halaman. Komplek perumahan yang selalu ramai oleh ibu-ibu rumah tangga yang selesai berbelanja dan bercerita. Gue berfikir, mungkin kebanyakan ibu-ibu di wilayah ini adalah wanita karier, sehingga jarang bersosialisasi dengan teman-teman sekitar. Gue juga tidak bisa menebak, hanya bisa menduga dan tidak ingin berfikir buruk.
20 meter berlalu dari perumahan, Gue sampai di Kosan Zendi dan memanggilanya agar membuka pagar kosan. Walau hanya sebentar, perjalanan ini tetap memberi pelajaran berharga bagi gue untuk tidak berfikir buruk tentang apa saja yang terlihat. Alangkah baiknya inisiatif lebih cepat dilakukan daripada hanya melihat orang lain mengalami kejadian yang tidak bisa ditangani sendiri. Kita sebagai manusia merupakan makhluk sosial yang saling membantu dan memberi apapun satu sama lainnya.

Minggu Kedelapan, Kenapa Harus Berhenti Walau Sudah Hilang


Salam walking guys,
Lokasi baru dengan suasana berbeda dapat memberi pelajaran dalam sebuah wacana yang akan dikerjakan. Semakin panjang jalur yang ditempuh, maka akan semakin banyak pula cerita yang akan dituliskan. Minim pengetahuan bukan berarti sebuah kekurangan yang bisa dijadikan alasan.
Minggu pagi, Gue melintasi jalur yang sudah pernah dilalui dua hari yang lalu. Gue mengetahui jalur tersebut saat berkendara sore. Waktu yang dilewati untuk melintasi jalur ini cukup lama, satu jam lebih diperlukan agar gue bisa sampai kembali ke tempat tinggal. Namun, hal menarik sudah pasti banyak didapat setelah memperoleh pelajaran dari sebuah kaca mata penglihatan.
Setelah melewati gerbang kampus, gue langsung menuju belokan sebelah kiri menuju Desa Hegarmanah. Persimpangan masuk desa berada dikanan jalan, terdapat gerbang serta tulisan nama desa pada tiang berwarna putih. Gue langsung masuk ke persimpangan, jalanan yang menurun mempercepat langkah kaki, harus berhati-hati agar tidak jatuh saat menginjak jalan pasir.
Jalan menurun selesai dilewati, gue mengambil belokan ke kiri setelah melewati gerbang perbatasan desa. Gue langsung disambut dengan jalanan menanjak yang mengarah ke kiri. Setelah melewati jalan menanjak tersebut, gue serasa disambut dengan pemadangan lepas sawah hijau yang indah.
Jalanan menanjak disertakan belokan panjang dengan kemiringan yang tinggi membuat nafas gue sesak, gue memutuskan untuk berhenti di atas batu besar tepian sawah, duduk memandangi pematang sawah yang luas dan menikmati udara yang masih sejuk.
Saat melihat area sekeliling sawah dengan apartemen yang terlihat sangat tinggi, gue melihat seseorang keluar dari balik dinding. Seorang ibu membawa beban yang banyak melewati gue dari depan. “punten,” sapaan si ibu saat gue masih duduk santai.
Gue melihat banyaknya bawaan ibu yang berbaju putih, serasa ingin membantu tapi badan tak kunjung bergerak menolong ibu yang sedang berhenti di tengah jalan. Gua masih duduk sembari mendengarkan lagu rock sementara itu si ibu berbaju putih masih berdiri sambil melepaskan pegal-pegal di badan. Setelah dua putaran lagu di android selesai dimainkan, seketika itu suara kresek terdengar jelas saat si ibu masuk ke kosan yang berada 5 meter dari tempatnya berdiri.
Walau jarak ibu berhenti dari kosannya sangat dekat, gue seharusnya bisa membantu beliau mengangkat barang bawaannya ke kosan tempat beliau kerja. Tapi, hati hanya bisa berkata “ayo lakukan,” namun tangan tak kunjung mengeluarkan tenaganya karena masih ada rasa malas yang menghentikan gerak tersebut.
Setelah melewati jalan persawahan, gue langsung masuk desa sukawening. Tidak ada hal yang lebih baik ketika sebuah renungan pagi saat melihat bapak dengan anaknya bermain bersama di taman depan rumah. Gue teringat ketika ayah membawa kelapangan untuk bermain bola bersama, namun setelah memasuki dunia pendidikan, apalagi setelah kuliah ini, gue sangat jarang bertemu apalagi bermain dengan beliau yang semakin bertambah umur.
Seperempat jam berlalu, Gerbang Desa Sukawening terlihat. Gue meneruskan perjalanan dengan menembus jalanan besar yang berada depan Desa Cisaladah. Dari desa tersebut, gue bisa tembus sampai di kampus dengan melewati  jalan kecil yang menjadi jalur alternatif mahasiswa yang tinggal di Desa Cisaladah menuju kampus.
Jalur kecil tersebut berada dekat asrama mahasiswa. Gue mulai melewati jalan yang terdapat banyak cewek sedang asik bermain basket. Konsentrasi terganggu, kepala kadang menunduk tapi masih melihat mahasiswi tersebut. Sampai di gerbang asrama, gue melewati jalanan menuju fakultas sosial kampus yang sedang ramai oleh mahasiswa yang sibuk mencari bahan tugas kuliah.
Sampai depan fakultas kedokteran, gue berhenti di saung yang tidak jauh dari tempat gue tinggal. Hasil dari pelajaran yang gue dapat dari perjalanan tadi langsung ditulis. Beberapa kejadian masih teringat jelas dengan segala macam renungan didalamnya. Badan mulai gelisah dengan banyaknya nyamuk yang  mengigit kaki.
Gue mulai berpindah haluan menuju mahasiswa yang sedang latihan untuk menampilakan sebuah pageralan besar. Seorang gadis dambaan yang menjadi alasan kenapa gue langsung berpindah dari tempat duduk sebelumnya ke lapangan tempat tim gadis tersebut latihan. Gue berpura-pura tidak melihatnya, duduk diatas motor gede yang sedang parkir dan mulai menulis hasil dari jalan-jalan pagi ini.
Saat duduk santai motor, kaki yang kotor kemudian langsung dicuci dengan air botol kemasan yang dibeli setelah perjalanan panjang tadi. Android nyaris terjatuh dari atas motor, tangan secara reflek mengambil android lama yang telah berisi catatan dari tulisan yang telah dibuat.
“Tidaaakk,” ujar gue setelah melihat semua catatan yang telah dibuat hilang karena sentuhan telapak tangan. Gue merasa malas kembali menulis hasil perjalanan yang hanya tinggal disimpan dan dikirim ke blog.
Mungkin, ada hikmah yang besar gue peroleh setelah mengalami kejadian tersebut. Tidak ada yang lebih baik selain dari mencari perhatian terhadap wanita yang disukai. Entah doi melihat atau tidak juga belum tahu, kenapa harus berpura-pura rajin didepannya. Masih ada acara lain untuk mendekatinya. Hanya satu kata buat hari ini… “ah, nyesel,”

Minggu Ketujuh, Nenek Kuat Sebagai Pemicu


Salam walking guys
Minggu pagi, gue berjalan-jalan menuju kawasan Desa Sayang, Jatinangor. Lebih banyak pengalaman baru walau perjalanan hanya melewati jalan di sekitaran daerah pendidikan ini. Selalu ada guru yang memberi pelajaran baru, gue menyebutnya sebagai ‘aspal hitam di tepian jalan’.
Gue mulai melangkahkan kaki sekitar jam 5.40 pagi, sesaat setelah solat subuh dikerjakan. Berangkat dari sekre UKM barat kampus, gue mengawali perjalanan dengan melewati jalan depan atm center kampus. Gue berharap, ada pelajaran baru yang bisa diperoleh dari setiap langkah.
Suasana pagi dengan udara yang sangat sejuk mengiringi jalan-jalan pagi. Warga yang belum banyak keluar rumah memberi gue kesempatan merasakan bebasnya jalan alternatif Jatinangor - Rancaekek. Beberapa momen menarik bisa dipetik saat jalan yang baru diberi aspal ini sepi dari penduduk yang akan pergi ke Pasar Dadakan Unpad.
Saat berjalan menuju persimpangan brimob, gue melihat cafe yang biasa gue kunjungi masih buka.
"Uda, kemana tu?", teriakan pemilik cafe yang masih belum tutup sampai pagi ini.
"Haha, walking-walking kamana-mana", ujar gue sambil jalan.
"Sip-sip da", sang pemilik cafe lalu masuk kembali ke dapur.
Perjalanan dilanjut, sampai depan tempat bermain futsal. Gue masih merasakan santainya perjalanan dengan jalur yang menurun. 300 meter kemudian, gue sampai di kantor tempat gue bekerja dulu. Membangun perusahan kecil bersama, sampai akhirnya gue keluar karena  memiliki prinsip yang jauh berbeda dengan CEO perusahaan.
Selesai melewati kantor, gue sampai di sebelah TPU Jatinangor. Gue melihat ke bagian kuburan, ntah apa yang terjadi, gue merasakan hal aneh di dekat pembatas TPU. Bunyi-bunyian aneh di rerumputan membuat imajinasi horor muncul. Langkah kaki dipercepat dan "taaarr" bunyi ban truk meletus dari kejauhan. "Astaga", ucap gue sambil mengehela nafas.
Suasana yang masih sepi mengisyaratkan gue agar jalan lebih kencang dari biasanya, minimal sampai di dekat komplek perumahan elit di Jatinangor. Sampai di jembatan perbatasan antara Desa Cikeruh dan Sayang, gue berhenti dan menenangkan pikiran serta jiwa yang tak karuan setelah berjalan dengan tempo yang cepat sekitar 200 meter menuju jembatan.
Setelah jiwa dan pernafasan kembali normal, gue melanjutkan perjalanan menuju daerah Desa Caringin. Gue mengambil belokan kanan dari simpang empat yang ada dilewati. Kekiri menuju Jatiroke, ke depan terus menuju rancaekek dan kekanan menuju ke tempat sarapan pagi yang selalu menjadi tempat favorit.
Jalan mulai ramai dengan mulai bertambahnya warga yang berjualan di tepian jalan. Lahan sawah yang tidak terlalu luas, setidaknya memberikan penglihatan baru bagi gue di Caringin. Momen menarik diabadikan sesaat gue melihat nenek melintasi jalan kecil yang berada di tengah-tengah pesawahan.
“pagi neeek”, sapa gue pada nenek berbaju merah dengan rantang yang dibawa untuk suaminya. Nenek berjalan dengan punggung yang sudah membungkuk. Walau nenek sudah susah berjalan sambil membawa makanan, senyuman saat beliau membalas sapaan dari gue serasa memberi gue sebuah kode untuk terus olahraga setiap hari.
Ada semangat baru yang gue dapat dari si nenek. Gue mengambil fotonya beliau dari kejauhan sebagai inspirasi pagi bagi gue. Pelajaran berharga penuh makna di kawasan yang penuh kesejukan di pagi, jam 6.30 WIB.
Setelah mengabadikan momen berharga tersebut, gue melewati jalan sedikit menanjak. Peluh mulai menguasai tubuh dan gue memerlukan air untuk menyegarkan badan.
"Punten a'", sapa gue untuk pejalan kaki yang sedang melintas.
"Mangga, manga, mangga", ujar si aa yang sedang berjalan searah dengan gue.
Sampai di penghujung jalan, gue mengambil arah kanan menuju tempat makan pagi, lontong padang dengan asesoris sepeti bakwan, sala lauak, pastel, keripik dan pisang goreng. Sebelum sampai di tempat makan, gue melihat puluhan ibu-ibu sedang yoga bersama depan salah satu supermarket, Jatinangor.
Begitu banyak orang yang ingin memperbaiki performa tubuh agar tetap prima menjalani hari-hari. gue harus lebih bersemangat agar fisik dan jiwa lebih sehat bugar setiap hari.
Let’s go to the new street


Namanya juga, Bosssss