footer social

Pages

Friday, June 14, 2019

Aku Bukan Sendiri

Akan tiba masanya, dimana hidup hanya kamu rasakan sendiri. Tiada yang dirasa pantas untuk nememani hari demi hari yang dilewati, meski waktu juga tidak akan pernah lagi kembali menyapamu.

Lingkungan selalu menjadi penyebab, lingkungan selalu menjadi akibat, dan lingkungan selalu menjadi tempat pembelajaran yang tidak akan bisa disalahkan walau dirimu berubah, entah itu menjadi baik atau kembali menuju mimpi buruk yang tidak hilang walau dirimu pergi.

Proses kehidupan selalu dimulai dari awal,

"dimulai dari nol ya, Pak,"

kamu yang memulai dan kamu yang harus mengakhirinya. Lari, bukanlah solusi dari banyaknya permasalahan yang terjadi. Namun, menyelesaikannya dengan bijak, penuh ketenangan, dan menerima segala hasil dengan cermat adalah bukti bahwa kedewasaan kian mendekati umurmu kian bertambah.

Selangkah demi selangkah, solusi dari setiap keluhan yang kamu rasakan akan terjawab dengan cermat, sesuai dengan kondisi serta keadaan yang setiap hari selalu berubah. Lambat laun, proses hidup yang sebagaimanapun dilalui, pastinya akan menjadi sebuah makna besar yang biasa disebut dengan "HASIL".

Kenali dan bersikap sewajarnya dalam menentukan arah tujuan. Lakukan start dengan bagus guna mendapatkan finish yang mulus.

Ingat selalu, jika kesendirian itu tidak ada. Selalu ada kebersamaan, dan jangan mudah mengatakan,

"Aku Bisa Sendiri"

Selalu ada zat yang menemani yaitu, Tuhan.

Pemilu Jadi Pilu

Yang penting cerita,

Rabu, 17 April 2019 ...
Hari, dimana warga negara Indonesia mengikuti pemilihan umum, presiden dan wakil presiden, anggota DPR-RI, anggota DPRD Provinsi, anggota DPRD Kabupaten/Kota, anggota DPD. Termasuk ane, bukan untuk dipilih, tapi ikut memilih, alhamdulillah.

Saat ini, ane sedang berada di Serui, Kepulauan Yapen, Papua. Pulau tempat  ane bekerja disalah satu toko elektronik  serta lokasi ane mengikuti pemilu serentak 2019.

Awalnya ane cukup bingung bagaimana harus mencoblos, ke Serui sebagai pendatang yang masih berkartu tanda penduduk Padang membuat ane jadi ragu bisa atau nggk mengikuti pemilu.

Sebagai seorang yang sudah mengikuti pemilu di dua tempat yang berbeda dengan KTP yang sama. Ane udah paham, jika ingin mengikuti pemilu, tinggal datang saja ke TPS dengan membawa formulir A5 sesuai dengan arahan panitia KPU. Namun, yang terjadi disini sangat berbeda, nggk ribet ataupun nggk berbelit-belit. Ane cukup bawa KTP kemudian pilih TPS yang didinginkan. Terdengar gampang to, jelassss... this is real place....

Beberapa sahabat, baik yang baru atau yang tinggal bertahun-tahun di Serui juga mengikuti hal yang sama. Tapi, mereka yang sudah lama tinggal disini nggk mengikuti pengumunan yang telah dibuat panitia, semisal nama mereka ada di TPS 10, namun mereka lebih memilih di TPS yang lebih dekat dengan lokasi rumahnya. Aneh terdengar, tapi ini nyata adanya. Yang bikin ane takjub bukanlah kebebasan teman-teman ane memilih, tapi,

"Kok bisa, teman ane memilih di tempat yang tidak seharusnya ?"

Bagi warga asli atau yang sudah lama tinggal disini, pastinya mempunyai surat undangan memilih dari panitia.

Sedikit bocoran, ane juga undangan, namun bukan nama sendiri, melainkan nama orang yang diundang atau dapat surat tapi golput.

"Sampai disana su paham to,"

Namun, disini ane tidak akan menceritakan proses mendapatkan undangan secara detail, melainkan cerita sedikit mengenai suka duka pemilu di kota Serui.

--------------
Beruntungnya, pagi sampai selesai ashar toko tutup, jadilah ane berleha-lehan sampai TPS buka.

Ane berkesempatan memilih, tapi masih nunggu waktu yang tepat, karena pengen pergi bareng teman-teman.

Setelah selesai bersiap, kami berangkat ke TPS yang lebih dekat dengan rumah. Jam 10 pagi, orang-orang masih belum ramai datang ke TPS, malas gerak ?,ane juga nggk tau.

Ane kemudian pergi ke TPS 16 bermodalkan KTP, ternyata permintaan ane ditolak, karena yang didahulukan itu adalah orang-orang yang sudah mendapat surat undangan. Padahal ane lihat dalam ruang TPS, ada yang bermodalkan KTP. dari mana ane tau ?, karena ane sendiri lihat pendatang yang melambayaikan tangan sembari menunjukkam KTP nya sendiri.

Okelah kalau gitu,
Ane kemudian kembali ke tempat teman-teman ane yang lain, ternyata mereka juga belum bisa nyoblos. Alasanya satu aja, siapa yang datang lebih dulu, itulah yang berhak lebih cepat nyoblos, mau pakai KTP atau undangan, sama saja. Ane fikir, semua TPS memiliki peraturan sendiri, ya kali...

Azan pertanda waktu zuhur telah masuk, ane pergi ke masjid dan mencoblos setengah jam setelah sholat zuhur, karena panitia juga butuh istirahat.

Sholat selesai,
Waktu menunjukkan pukul 13.10 WIT, ane kembali ke TPS 16. Sampai disana, TPS malah dibentengi oleh beberapa orang panitia, lebih banyak dari sebelumnya.

"Siang om, masih bisa milihkah ?"

Kening om panitia sedikit berkerut, "nanti dulu, ko tidak lihat orang ramai didalamkah?" Om balik nanya.

Jawaban si om salah, bukan itu jawaban yang ane butuhkan.

"Lihat, om," menunjuk ke arah peserta yang manunggu giliran.

"Kitong disini su lama ale, belum makan juga, ko datang, tiba-tiba ingin masuk saja, nanti sudah, jam 2.30,"

Ya sallammm, keburu toko buka dong, soalnya ane sendiri akan buka toko jam 4, kalau jam 2.30 milih, buka toko bakal semakin lama.

"Om, ayolah," ane coba bujuk si om yang udah mengelus-elus perutnya.

"Nanti toko nggk buka, saya dapat marah lagi dari bos, belum lagi orang-orang tidak bisa belanja jadi, satu ini aja om e," pinta ane sembari menyodorkan surat undangan, ane terpaksa menggunakan surat undangan orang lain, karena kalau KTP ane rasa si om akan semakin tegas menolak permintaan ane.

Ane kemudian diizinkan masuk TPS, syukurlah...

Ane duduk paling belakang, serbari menunggu giliran, ane memperhatikan ke sekeliling ruang TPS, mana saksi dan mana yang pemilih tidak ada bedanya, sama ribut.

Dalam ruang TPS momen-momen menarik turut serta menambah suka duka mengikuti pemilu di negeri orang.

45 menit berlalu,

Orang lain yang datang setelah ane ternyata mudah saja masuk ruang TPS
Ane jadi bingung, untuk masuk ke dalam ruangan saja, ane musti pintar-pintar ngomong dan memberi alasan kepada panitia agar dikasih izin. Namun, lain halnya orang yang datang secara bersamaan, dengan mudahnya mereka langsung masuk ke ruangan, menunggu giliran memilih.

Saat seorang ibu berjilbab dalam menunggu paling belakang, tiba-tiba saja seorang panitia menyuruh beliau maju beberapa kursi.

"Haji, silakan dulu Haji," ujar panitia sembari menyantap kuenya.

Ibu haji berbaju biru dongker dengan heran mengikuti instruksi yang diberikan.

Salah seorang bapak kemudian langsung berdiri, sambil mengunyah pinang,

"Ah, tidak bagus seperti itu, bu haji harus antri juga to sama kito orang," penyataan yang dilontarkan kepada panitia. Yang lain pada nggangguuk doang, termasuk ane sih.

"Tidak apa-apa bapak, si ibu juga sendiri saja perempuan disini, nanti kena asap rokok, bahaya lagi," ketus om panitia.

Si om nggk nyadar kali ya, ane juga udah mulai terganggu karena asap rokok dari depan, belakang, samping kiri, dan kanan. Ane udah sesak duluan, tapi masih bisa ditahan.

Bapak-bapak yang lain juga ikut menyindir, namun si ibu mah cuek aja, duduk di depan, kemudian beberapa saat kemudian langsung memilih. Trus ane.... bisa diam saja, mau instastory lagi, hp udah mati. Jadilah ane cuman duduk, menunggu giliran, dan ane akan memilih pada giliran yang ke 25 nya.

Kemudian,

Dalam suasana menunggu, bapak bawel tadi ternyata sedikit geram, menunggu terlalu lama. Beliau menyalahkan TPS yang memberikan izin bagi pemilih yang bermodalkan KTP saja.

"Giliran masih lama lagi," beliau bicara sendiri dengan nada sedikit lebih rendah.

Teman sebelahnya menanggapi umpatan si bapak," masih banyak yang belum, tunggu saja,"

"Kitong nunggu sudah lama, belum juga dapat memilih," padahal beliau hanya menunggu 14 perserta lagi, sedangkan ane 25.

"Ini pendatang hanya pakai KTP saja, su bisa memilih, kitong pakai undangan disuruh menunggu juga, a*j**g,"

Sontak beberapa pendatang termasuk ane rada tersinggung mendengar ucapan beliau, tapi ya itulah yang terjadi disini. Sabar adalah solusi pasti. Dari pada mikiran perkataannya, mending nunggu aja dengan senang hati.

Perbedaan bukan berarti penyebab dari timbulnya suatu permasalahan. Kadang perbedaan tersebut yang lebih cepat menyelesaikan permasalahan.

Tepat kam 2.45 ane akhirnya memilih, mana yang nantinya terpilih, foto dialah yang nanti bakal dipajang di dalam ruang kelas SD, SMP, SMA, Kampus, dan lembaga-lembaga lainnya.

Nb,
Janjinya kotak surat datang jam 6 pagi. Tapi, jadinya datang jam 9 pagi.

Thursday, June 13, 2019

Nekad

"Selamat sore bro, mau info kalau malam ini promotor izin ibadah terawih pertama bro, isi pesan singkat dari sales salah satu merek hp baru terkenal di Indonesia, minta izin tarawih pertama untuk promotornya.
Ane fikir, mulia banget kebijakan perusahaan ini, meminta izin agar karyawan terutama promotor yang biasa stay di toko bisa ke masjid untuk tarawih.
Sekedar info aja sih, promotor ditoko tempat ane kerja nggk pernah sholat sebelumnya, bukan bermadsud menghina atau mencela, tapi ane berkata yang sebenarnya, benar adanya, dan ketika ane berkata, "saya sholat dulu e, nanti kamu setelahnya, oke,"
Dengan santai dia jawab,"saya nggk sholat,"
Oh tuhan, bahaya banget jawabannnya, semenjak itulah ane sering jaga pandangan, jarak, perkataan, jaga apa aja yang bisa dijaga, pokoknya jaga semua. Jomblo sih emang, tapi nggk dah kalau buat diajak halal. MODUUUUUSSSSssss....
Terlepas dari itu, ane nggk bahas tentang promotor sih, back to topic aja.
Sekedar formalitas atau memang sebuah ajakan agar promotor lebih mendekatkan diri pada Allah SWT, ane juga nggk tau.
Tapi, permintaan seperti itu nggk mungkin ane tolak, karena tujuannya baik. Perizinan yang baru pertama kali ane peroleh. Padahal sebelumnya, saat kerja ditempat lainpun, ane nggk pernah dapat pesan seperti itu, sampai-sampai agama dijadikan sebagai ajang buat pencitraan.
Keesokan hari
Pesan dari sales perihal izin buat tarawih untuk hari yang kedua ternyata nggk ada. Promotor juga terlihat santai dibelakang etalase, melayani pelanggan. Dari situ ane mikir, segitu banget kerja ya ni promotor. Kemarin, bela-belain bawa motor dari rumah, sebelum azan isya berkumandang, doi udah duluan pergi ke masjid, tapi masjid yang jauh dari pasar, nggk tau juga tu dimana tempatnya. Jam 9 malam, toko tutup, doi belum balik juga. Mungkin, tarawihnya 20 rakaat plus tadarus pertama juga. Ane kepikiran sampai disitu, soalnya dimasjid dekat pasar dan juga menjadi masjid terbesar di kota, tarawih selesai jam 8.45 WIT.
Tawarih pertama ane menjadi korban, seharusnya doi yang stay, karena permintaan dari sales tersebut, ane dah yang jadi korban.
Beberapa teman di toko ada yang mempermasalahkan kepergiiannya tarawih, karena dia juga karyawan toko seperti ane, tapi lebih mengikuti perintah perusahaan. Namun, ane mengganggap itu hal biasa yang dia lakukan, tanpa ada rasa seganpun pekerjaannya sebagai penjaga konter ditinggalkan begitu saja dengan alasan tarawih pertama. Maybe, itu prioritas utamanya. Gaji juga besar, wajar aja berani ngambil resiko.
Poin yang harus ane ambil adalah, wajibkan dulu yang wajib, dan lanjutkan dengan sunnah yang akan melengkapi pahala sebagai jalan menuju surga.
Kadang hal tersebut pernah dikasih tau untuk promotor, namun doi macam nggk peduli aja gitu. Hatipun juga sudah membatu untuk tidak solat wajib, melihat ane bawa sarung untuk solatpun dia juga belum tergerak mengikuti hati kecilnya yang pasti juga ingin solat.
Solat wajib dibikiarkan begitu saja lewat, tapi yang sunnah walau hanya sekali setahun, hmmm. Kala nggk dikasih ijin, mungkin promotornya bakal kesal sama ane. Karena, yang bertanggung jawab atas pekerjaannya adalah ane sendiri, dan yang bakal ditanya bos perihal ada atau nggknya ni cewek promotor dikonter ya, ane sendiri.
Setiap kebijakan selalu ada hukuman yang menanti jika itu dilanggar, hal tersebut yang membuat si promotor mau pergi ke masjid, yang biasa tidak pernah sama sekali ke masjid untuk ibadah, tau-tau pada malam itu juga dia pergi dengan jilbab yang tertinggal diatas etalase. Mungkin dia akan kembali mengambil jilbab, namun sampai toko tutup pun jilbab belum juga diambil, benarkah tarawih atau hanya pergi ke masjid saja, sekedar absen atau ....
Positif thinking dah kalau gitu.

Wednesday, June 12, 2019

Tolong Pertemukan Kami, Bu Guru

Guru tanpa tanda jasa, tanpa ada paksa dan terus berbagi suka cita dengan murid yang akan menjadi kebanggaan bangsa.

Cerita dari seorang langganan toko yang berprofesi sebagai guru sekolah dasar di perkampungan, orang sekitar pasar menyebutnya daerah pantura (Pantai Utara) kepulauan Yapen, Papua. Salut buat Mace, nggk sempat nanya nama sama nomor telepon. Selain guru, beliau juga menjadi distributor, dan orang kepercayaan dikampungnya untuk berbelanja ke kota. Beberapa persoalan warga diselesaikan olehnya dengan lancar. Perjalanan dari kampung yang sangat jauh sudah biasa dijalani hampir setiap minggunya.

Siang itu,

Mace datang bersama warga kampung lain ke toko tempat ane bekerja. Beliau membawa selembar kertas berisikan daftar barang-barang yang akan dibeli. Termasuk persediaan makanan instan seperti mie ataupun bumbu-bumbu makanan instan lainnya. Hal tersebut tampak jelas ketika melihat beliau merapikan kertas dan mencentang barang yang sudah dibeli dengan bulpen toko yang sebelumnya udah dipinjam.

"Anak, boleh dudukkah?" sembari mengipas-ngipas kertas ke wajahnya. Maklum saja, suhu di pasar saat itu sedang panas.

"Oh, iya, silakan mace," ujar ane yang saat tengah melayani pelanggan yang akan meminta lagu, dan game android.

"Berapa semua," kata pelanggan, sebut saja namanya Yosep.

"20 abang," jawab ane.

"Belanja disini senang e, bisa dapat lagu tambahan, video, gamenya banyak lagi," suara mace yang terdengar kecil.

Yosep pergi setelah bersalaman dengan ane. Mungkin karena ngasih lagu dan game lebih banyak atau karena ada faktor lain, ane juga nggk tau. Biasanya, kalau seorang pelanggan puas dengan servis yang diberikan, baik itu dari harga, bonus, sampai sabar saat melayani, mereka pasti menyalami. Biasa gituuu...

Untuk mengisi waktu kosong karena belum ada pelanggan lagi, ane menonton film melalui laptop, bukan film melainkan video balap-balap motogp.

Serasa ada yang memperhatikan, ane melihat ke segala arah, ternyata mace sedang memperhatikan video yang ane tonton.

"Bagus ya filmnya," ucap mace menyandarkan dagu ke atas kaca etalase.

"Ah, cuman balapan saja mace," sanggah ane.

"Beli berapa laptopnya tu ?" menjentik-jentikkan ujung jadi ke kaca etalase.

"Enam juta mace, tapi udah lama," jelas ane.

"Masih ada jual laptop seperti itu,"

Ane kemudian meletakkan laptop yang masih menyala ke atas kursi, mengarahkan pandangan mace langsung ke laptop-laptop yang dijual di etalase yang berada dibelakang ane.

"Waw, banyak juga e," ucap mace.

Tiba-tiba saja mace masuk ke dalam konter. Ukuran konter sebesar 3 x 4 meter, yang di kelilingi etalase hp. Etalase depan, ada hp, sebelah kanan speaker bluetooth, kiri jam tangan, dan belakang etalase ada kamera yang berukuran kecil, sedikit memberikan ruang untuk masuk ke konter bagi yang ingin masuk.

Mace duduk langsung dikursi rekan ane yang kebetulan sedang istirahat saat itu. Beliau menonton dengan seksama video balap-balap yang sedang berlangsung. Beberapa menit kemudian video selesai, mace kemudian bertanya bagaimana cara menonton di laptop.

Penjelasan selesai, ane juga sedikit memberikan pengarahan kepada mace perihal teknologi yang kian maju setiap saat. Wawasan ane yang secuil setidaknya mampu membuat mace terpukau, salah satunya ketika ane mengatakan bahwa beberapa komponen yang tersimpan pada laptop juga ada pada smartphone yang ane pegang. Dengan kapasitas yang terbilang kecil, namun setidaknya dapur pacu pada program, serta softwarenya dapat membuktikan betapa pesatnya teknologi komunikasi zaman now.

Mace sangat antusias mendengar apa saja yang ane sampaikan terkait smartphone dengan aplikasi youtube yang tengah menyala saat itu. Saat SP dipedang mace, beliau tidak sengaja menekan beberapa huruf yang mengarahkannya pada tontonan bertema lukisan alam yang dibuat dengan menggunakan cat semprot biasa. Layaknya komentator, kami berdiskusi bagaimana suasana alam nan cantik itu bisa dibuat begitu saja dengan menggunakan cat seadanya.

"Hmmm, kok bisa begitu ya ?" tanya mace yang semakin fokus menonton.

"Pintar juga yang buat itu gambar e," tambah mace

Mace menyimpulkan sendiri video yang telah ditonton, dengan bahasa yang sangat mudah dimengerti, layaknya seorang guru BK yang memberi pengarahan pada murid. Penasaran juga dengan profesi mace, seketika itu ane langsung nanya.

"Mace gurukah?"

Kepala mendongak ke atas, yang artinya,"iya,"

"Iya, saya ngajar di Pantura sana,"

Ane pikir nggk ada sekolah disana, kalau tempat sejauh itu ane yakin pasti ada anak-anak IM (Indonesia Mengajar). Program yang dicanangkan oleh kementrian pendidikan, tahun berapa ane juga nggk tau sih.

"Mace, disana ada anak-anak Indonesia Mengajarkah," penasaran.

"Ada to, setiap tahun ada yang datang, kemudian pergi lagi satu tahun kemudian," ketus mace.

"Ada ceweknyakah ," (MODUSSssss)

Mace langsung tertawa,"kenapa tanya cewek, nyari jodohkah," sindir mace...

Mangaaapp... aaaaa

"Ah, tra ada mace,"

"Kalau mau, datang aja ke pantura, nanti mama kenalkan e, dia tinggal di Palembang, tapi aslinya Padang," saran mace.

Wahhh, ane makin girang, pengen pergi kesana hari minggu, walau bulan puasa juga nggk masalah, yang penting ketemu.

Kata mace," Disana guru-gurunya banyak yang susah untuk memperoleh sinyal, jaringan susah, untung ada wifi sekolah, walau lambat, yang penting bisa "main wifi (istilah bagi pengguna wifi)".

Kalau difikir-fikir, wajar kalau mace bicara seperti itu, dampak dari buruknya jaringan diperkampungan juga dirasakan di kota.

Terlepas dari baik atau buruknya jaringan, ane berharap suatu hari nanti kesana. Ane pengen tau bagaimana kehidupan warga disana, jauh dari kota apalagi sinyal. Dan, semoga bisa ketemu dengan gadis Palembang, asli Padang yang diceritakan mace.

Tuesday, June 11, 2019

Bad Day Bikin Lu Lunglay

Malam itu, jam 9 lebih 30 menit, beberapa ruko, toko-toko kecil serta pedagang kecil sudah mulai menutup gerainya. Kembali ke rumah membawa hasil jualan yang sudah dilakoni sedari pagi tadi. Begitu juga ane yang bekerja sebagai karyawan disalah satu toko hp dipusat kota Kepulauan Langang. Seperti biasa, setelah tutup, ane langsung berangkat menuju rumah kawan, sekedar melepas penat, bercengkrama, tapi terkadang makan malam juga disana.

Sampai disana, salah seorang teman meminta film yang ane punya. Permintaan yang langsung disampaikan ketika mereka melihat ane sedang menyandang tas yang isinya laptop.

"Ri, ada yang baru, film balap-balap atau action gitu," ujar Da Zul yang sedang duduk santai mengisap rokoknya.

"Gampang itu mah, ada flashdisk, minimal 16gb ?"

Da zul kemudian kedalam rumahnya, ngambil fd 16gb.

Ane duduk didepan rumah Uda pong, lokasi rumah yang berada di depan kediaman Da Zul. Selagi menunggu flashdisk datang, ane melihat isi folder.

"Abang," teriak Susi, gadis kecil yang baru naik kelas 2 SD.

Susi datang membawa hp ayahnya, dengar dari mana kalau ane punya banyak film-film juga nggk tau, tiba-tiba saja datang, menyodorkan hpnya, meminta film kartun yang dia suka.

Saat film sedang ditransfer ke flashdisk, Susi terus mendesak, meminta dan sampai-sampai menarik bagian layar laptop.

"Weisss, jangaann," ucap ane sambil menahan tangannya.

Bibir langsung manyun, tapi tangan masih tetap memegang bagian atas laptop yang masih menyala.

"Kasih ke aku dulu filmnya," tangan Susi tidak lepas dari laptop, mungkin kalau lebih kuat menarik laptop, rusak sudah barang berharga yang membantu ane tamat kuliah.

Ane masih menahan bagian atas laptop agar tidak jatuh. Selagi menahan, datang lagi anak Da Zul, dua tahun lebih kecil dari Susi.

"Abang alman," gaya bicara yang masih cadel. Jika bicara, ane butuh translater khusus untuk mengerti apa yang dia ucapkan.

Tomi, panggilan anak laki-laki Da Zul, dia tiba-tiba datang dan menarik laptop ane sekuat tenaganya. Laptop nyaris jatuh dan sempat tersandar dibagian bawah kursi yang ane duduki.

"Iyaa, sabar dulu," ucap ane pada Tomi.

"Cekalanggg," tegas anak kecil berambut keriting pirang,

Situasi semakin runyam, Da Pong meminta ane mengutak-atik hpnya, mencari dimana lokasi penyimpanan video kartun milik Susi. Karena jenis hp yang digunakannya jauh berbenda, ane sedikit bingung mencari lokasi file yang dituju.

"Bentar, da," ane meletakkan hp Da Zul di bawah kursi, beliau hanya diam. Tak bersuara, melihat anaknya yang semakin bringas menarik laptop.

Dalam waktu yang sama, Budi yang mengumpulkan semua uang hasil jual beli mengabari bahwasanya ada yang kurang sebanyak Rp 130.000,-. Ane terkejut, karena sebelum pergi solat magrib uang yang dihitung itu semuanya pas, alias tidak kurang tidak lebih. Pekerjaan mentransfer data, menenangkan bocah-bocah, serta mencari lokasi penyimpanan film kartun belum selesai, Ane dengan cepat membalas pesan yang diterima.

"Bukannya udah pas ?" Jawaban pesan yang diterima.

5 menit berlalu, data di Hp Da Pong ditemukan, Da Pong mulai tenang. Pesan masuk lagi, dari Budi.

"Coba ke toko dulu, dong," Budi meminta.

"Cek lagi aja,"

Budi membalas lagi, namun dengan isi pesan yang semakin membuat ane harus ke toko.

Selagi berfikir apakah harus pergi langsung ditengah permasalahan atau tidak pergi sama sekali, Susi yang saat itu sudah lelah menunggu, kemudian menyerahkan hpnya, meminta ane mendownload film yang dia mau.

"Waduuhh," tunggu dulu, sayang. Antara kesal, tapi nggk boleh karena Susi terlalu kecil untuk dimarahi.

Susi pergi dari hadapan ane, entah kenama, ane juga nggk tau.

"Tomiii," Da Zul memanggil anaknya.

Tomi bergegas ke rumah, membatalkan niat ikut-ikutannya.

Transferan selesai, flashdisk sudah kembali ke tangan Da Zul. Setelah dibujuk oleh Da Pong, Susi yang ternyata ngambek di kamar, kemudian keluar rumahnya, diam tanpa sepatah katapun yang keluar dari bibir tipisnya.

Satu lagi tugas belum selesai, laptop tiba-tiba mati karena batrei sekarat. Sembari menunggu menyala laptop, pesan datang lagi dengan kabar uang pulsa hp sebanyak Rp 150.000,- hilang dari kotaknya. Saat itu juga ane befikir, bingung ingin menjawab seperti apa. 

"Plak," bunyi pukul tangan yang terdengar keras.

Pukulan tersebut dilakukan oleh Susi terhadap Tomi yang tengah saling berselisih kata. Sontak ane langsung kesal terhadap bocah kecil. Merubah mood yang awalnya sudah buruk menjadi semakin buruk. Seketika itu ane berfikir ingin pulang, lihat ke parkiran, tapi motor tidak ditempat.

"Ah, masa bodo, nggk ada juga nggk apa-apa dah," kesal dalam hati.

Ane kembali ke toko tanpa motor, tidak meloleh sedikitpun saat Uda Zal, dan Uda Pong memanggil. jalan kaki saja menuju toko. Ane bergegas ke toko karna penasaran dengan kejadian uang yang hilang. Cctv toko menjadi target utama.

Kemudian,
Sampai ditoko, Ane langsung menuju ruang cctv. Ternyata cctv mati dan baru ingat adaptornya rusak, kekemuninan besar rekamannya tidak ada sama sekali. Sebab, Ane ingin melihat, apakah ada yg mengambil atau ane yang salah ketika menghitung uang. Duduk sejenak depan komputer cctv, termenung, mengusap-usap kepala sembari memikirkan apa yang telah ane lakukan sebelumnya, dari pagi sampai malam itu.

"Ya sudah lupakan," memukul meja yang tak berdosa.

Sejenak pikiran ditenangkan. Ingin makan mie plus secangkir goodday es. Biasa cara ane ngilangin pusing, kesal, gelisah ya, makan. Mama Bon datang membawa mie super lezat yang telah ditambah telor setengah matang, agar makin nikmat, ane menaburkan sendiri bawang goreng instan sebagai topingnya.

"Kamu kenapa, dek ?" tanya mama bon.

"Nggk kenapa-kenapa mabo (panggilan mama boni)," sambil menyedu kuah mie yang sudah merah karena terlalu banyak sambel.

Mabo pergi, tapi sepertinya lupa dengan minuman yang diminta. Selesai makan, goodday es belum datang juga. Mood belum berubah, pedas belum juga hilang, airpun tidak ada. Kesal lagi, timbulan lagi amarah yang ternyata berada dilevel atas. Ane semakin muak dan ingin mengambil minuman itu sendiri, pergi ke dapur toko, air tidak ada. Galon digoyang-goyang, mana tau masih ada sisa air, malah terjatuh dan retak.

"Aaaaaggghhh," kesal lagi...

Ane kembali ke tempat mabo,
Datang dengan kepala sedikit ditekuk, "mabo, minta air ya,"

Mabo memberikan gelas, saat gelas diisi air, yang keluar malah teh panas.

"Waduh, salah ini, tehnya belum dipindah," kata mabo. Senyum-senyum sendiri ditengah keramaian pelanggan.

Ane langsung menuju ke kamar mandi, minum air yang ada di bak dengan ketinggian semeter. Sejuk, lega, dan segar. Itulah perasaan yang timbul setelah menikmati segarnya air bak mandi. Prinsip yang ane ikuti dari kawan kampung seberang, "Man Kuman Kamin, Nan Kuman Jadi Vitamin,".

Selesai, dan selesai, tepat pukul 23.55 hampir tengah malam. Ane ke kamar, dan sedikit menginstrospeksi diri, sekaligus memikirkan apa dosa yang telah dilakukan sedari pagi tadi.

Beberapa poin ane simpulkan.
- Setiap kejadian buruk yang dialami, biasa terjadi karena ada kesalahan yang kita buat sendiri. Sadar atau tidak sadarnya, tanpa kita sadari ada orang yang tersinggung oleh ucapan kita sendiri, maka berhati-hati dalam setiap perkataan yang terlontar dari mulut.

- Kadang, kita merasa memperoleh kesialan mulai dari pagi sampai malam layaknya cerita diatas, tapi apakah kesialan itu benar-benar ada ? Atau hanya karena tuhan ingin menguji, sehingga kesialan yang dialami berubah menjadi ujian atau test. Entahlah... berprasangka baik saja.

- Ibadah, semakin banyak ibadah yang dilakukan, maka akan semakin baik juga prasangka baik terhadap apa saja yang dialami.

Saturday, June 8, 2019

Ngejar Waktu Sholat Ied 40km dari Rumah

Lebaran kali ini, ane masih merayakannya di tempat yang sama, Kepulauan Yapen, Papua. Namun, lokasinya berbeda, dari yang sebelumnya Panduami, arah Yapen Barat. Nah, sekarang, ane nyoba pergi ke Menawai, arah yapen timur. 

Pagi itu, Ane berangkat jam 6.45, telat 45 menit dari waktu yang telah ditetapkan buat berangkat bareng teman. Sebenarnya janjian jam 6 berangkat, itupun kalau bisa bangun pagi, tapi alarm nggk ngaruh ke telinga, sehingga ane sendiri baru melek jam 6.18.

Bangun dari tidur, tiba2 saja ane lihat langit masih gelap, serasa mau hujan, peluk guling lagi dah. Beberapa detik kemudian ane bangun lagi, kapan solat subuhnya kalau gitu. ya udah, ane langsung mandi trus solat subuh pagi-pagi. Realita yang sering dialami, apalagi tinggal bersama orang yang nggk solat sama sekali. 

Oke...
Mandi, solat subuh beres, ngaji habis solat absen dulu, biar bisa cepat berangkat. 

Ngeeenggggg....
Ane berangkat secepat mungkin agar tidak telat sampai di masjid Menawi. Saat melewati jalur yang berseberangan dengan lokasi sholat ied di Kota Serui, Ane lihat jamaah sudah mulai berdatangan ke lapangan alun2 Serui, yang mana lokasi tersebut bukan pilihan untuk melaksanakan sholat, melainkan 40km lagi menuju Menawi. Tujuannya simpel saja, pengen ngerasain bagaimana sholat ied ditempat-tempat yang jauh, apalagi disana islam masih menjadi minoritas.
 
Ane terus melaju....

Perjalanan ke Menawi cukup jauh, normalnya 1.30 menit, karna jalur yang dilewati turun naik, tanjakan terjal, dan tikungan tajam. Selain itu, banyaknya lubang serta genangan air membuat ane harus berfikir dua kali jika harus memacu kendaraan dalam kecepatan tinggi. Tapi disaat jalur lurus dan kering, ane dapat memanfaatkannya untuk menambah kecepatan.

45 menit lebih cepat dari waktu normal. Walau banyak lubang serta  jalanan yang tidak bagus, Ane sampai ke masjid lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya. Masjid masih sepi, hanya ada tiga minibus dan tujuh motor yang sudah parkir. Kemungkinan ini akan telat, seperti yang terjadi saat sholat jumat. Kenapa ane bilang, karena solat jumat di masjid Menawi bisa lebih lambat 30 menit dari Kota Serui, walau berada di waktu yang sama. 

Ane masuk ke dalam masjid, kemudian melihat kesegala arah, banyak pandangan mata melihat yang melihat, Ane juga bingung, mungkin asing kali ya, karena ane juga bukan tinggal di Menawi kali. Tapi, kondisi tersebut nggk bakal bikin semangat luntur, malah bersyukur, karena Ane dapat langsung berinterasi dengan orang2 yang belum pernah dilihat sebelumnya. Selain itu, silaturahmi juga lebih seru, dengan adanya salaman bergilir yang menjadi tradisi setelah ceramah selesai. Tradisi salam-salaman yang dilakukan dalam Masjid.

Ane melihat uda boy yang sedang zikir sembari memegang jempol kaki, lagi kesemutan tu

"Da," salam dulu.

"Oh ya,"ujar da boy....
"Blm mulai kah ?" perlahan mulai duduk disebelah da boy.

"Blm, masih menunggu yang lain, "
"Nunggu siapa da ?"
"Org2 kampung msih banyak yang mau datang lagi," sembari da boy menunjuk kearah mobil pick up yang tengah parkir.

Hmmm...

Pantesan belum, ternyata mulainya sholat ied jika jamaah dari kampung sekitaran Menawi sudah datang semua. Keren juga, menurut ane, saling menghargai dan mau menunggu jamaah adalah cara yang baik untuk merayakan idul fitri bersama.

Bruuummm. Bunyi pick up lagi, rombongan jamaah yang baru datang, berlokasi 30km dari Menawi, mobil pick up yang sudah disain dengan atap yang berdiri tegak, menghindari panas matahari. Ane segera bersiap sholat, ternyata masih belum, masih ada jamaah yang akan datang, ujar pengurus masjid yang sedang membacakan pengumanan dekat mimbar.

Jam 7.50 , solatpun dimulai.
Lebih lama mulainya dari solat id dikota. Ane pun balik dari Masjid menawi jam 8.30 

Tolesansi tidak hanya dimiliki oleh masyarakat yang berbeda agama, toleransi dan mau menunggu jamaah dari kampung yang berlokasi jauh juga sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat sekitar.

Ramadahan kali ini makin bermakna.
Nb : di Panduawi kamanap, arah yapen barat masih ada lo, tahun lalu. Tunggu aja e

Wednesday, February 20, 2019

Touring_Perjalanan ke Perbatasan Indonesia-Papua Nugini

Namanya juga, Bosssss