footer social

Pages

Sunday, January 5, 2020

Minggu Ketujuh, Nenek Kuat Sebagai Pemicu


Salam walking guys
Minggu pagi, gue berjalan-jalan menuju kawasan Desa Sayang, Jatinangor. Lebih banyak pengalaman baru walau perjalanan hanya melewati jalan di sekitaran daerah pendidikan ini. Selalu ada guru yang memberi pelajaran baru, gue menyebutnya sebagai ‘aspal hitam di tepian jalan’.
Gue mulai melangkahkan kaki sekitar jam 5.40 pagi, sesaat setelah solat subuh dikerjakan. Berangkat dari sekre UKM barat kampus, gue mengawali perjalanan dengan melewati jalan depan atm center kampus. Gue berharap, ada pelajaran baru yang bisa diperoleh dari setiap langkah.
Suasana pagi dengan udara yang sangat sejuk mengiringi jalan-jalan pagi. Warga yang belum banyak keluar rumah memberi gue kesempatan merasakan bebasnya jalan alternatif Jatinangor - Rancaekek. Beberapa momen menarik bisa dipetik saat jalan yang baru diberi aspal ini sepi dari penduduk yang akan pergi ke Pasar Dadakan Unpad.
Saat berjalan menuju persimpangan brimob, gue melihat cafe yang biasa gue kunjungi masih buka.
"Uda, kemana tu?", teriakan pemilik cafe yang masih belum tutup sampai pagi ini.
"Haha, walking-walking kamana-mana", ujar gue sambil jalan.
"Sip-sip da", sang pemilik cafe lalu masuk kembali ke dapur.
Perjalanan dilanjut, sampai depan tempat bermain futsal. Gue masih merasakan santainya perjalanan dengan jalur yang menurun. 300 meter kemudian, gue sampai di kantor tempat gue bekerja dulu. Membangun perusahan kecil bersama, sampai akhirnya gue keluar karena  memiliki prinsip yang jauh berbeda dengan CEO perusahaan.
Selesai melewati kantor, gue sampai di sebelah TPU Jatinangor. Gue melihat ke bagian kuburan, ntah apa yang terjadi, gue merasakan hal aneh di dekat pembatas TPU. Bunyi-bunyian aneh di rerumputan membuat imajinasi horor muncul. Langkah kaki dipercepat dan "taaarr" bunyi ban truk meletus dari kejauhan. "Astaga", ucap gue sambil mengehela nafas.
Suasana yang masih sepi mengisyaratkan gue agar jalan lebih kencang dari biasanya, minimal sampai di dekat komplek perumahan elit di Jatinangor. Sampai di jembatan perbatasan antara Desa Cikeruh dan Sayang, gue berhenti dan menenangkan pikiran serta jiwa yang tak karuan setelah berjalan dengan tempo yang cepat sekitar 200 meter menuju jembatan.
Setelah jiwa dan pernafasan kembali normal, gue melanjutkan perjalanan menuju daerah Desa Caringin. Gue mengambil belokan kanan dari simpang empat yang ada dilewati. Kekiri menuju Jatiroke, ke depan terus menuju rancaekek dan kekanan menuju ke tempat sarapan pagi yang selalu menjadi tempat favorit.
Jalan mulai ramai dengan mulai bertambahnya warga yang berjualan di tepian jalan. Lahan sawah yang tidak terlalu luas, setidaknya memberikan penglihatan baru bagi gue di Caringin. Momen menarik diabadikan sesaat gue melihat nenek melintasi jalan kecil yang berada di tengah-tengah pesawahan.
“pagi neeek”, sapa gue pada nenek berbaju merah dengan rantang yang dibawa untuk suaminya. Nenek berjalan dengan punggung yang sudah membungkuk. Walau nenek sudah susah berjalan sambil membawa makanan, senyuman saat beliau membalas sapaan dari gue serasa memberi gue sebuah kode untuk terus olahraga setiap hari.
Ada semangat baru yang gue dapat dari si nenek. Gue mengambil fotonya beliau dari kejauhan sebagai inspirasi pagi bagi gue. Pelajaran berharga penuh makna di kawasan yang penuh kesejukan di pagi, jam 6.30 WIB.
Setelah mengabadikan momen berharga tersebut, gue melewati jalan sedikit menanjak. Peluh mulai menguasai tubuh dan gue memerlukan air untuk menyegarkan badan.
"Punten a'", sapa gue untuk pejalan kaki yang sedang melintas.
"Mangga, manga, mangga", ujar si aa yang sedang berjalan searah dengan gue.
Sampai di penghujung jalan, gue mengambil arah kanan menuju tempat makan pagi, lontong padang dengan asesoris sepeti bakwan, sala lauak, pastel, keripik dan pisang goreng. Sebelum sampai di tempat makan, gue melihat puluhan ibu-ibu sedang yoga bersama depan salah satu supermarket, Jatinangor.
Begitu banyak orang yang ingin memperbaiki performa tubuh agar tetap prima menjalani hari-hari. gue harus lebih bersemangat agar fisik dan jiwa lebih sehat bugar setiap hari.
Let’s go to the new street


Monday, August 5, 2019

Perjalanan ke Panturan, Yapen

      Selalu ada cerita menarik dalam setiap perjalanan yang dilalui. Jalur yang belum diketahui bagaimana kondisi serta teksturnya menjadi tantangan tersendiri bagi ane pribadi. Pergi tanpa ada seorang yang tau merupakan cara yang tepat untuk memberi sebuah kejutan.

        Kemaren, ane pergi dengan motor metik ke salah satu pantai cantik di Pulau Yapen. Berangkat dari jam 6.30 pagi, dan sampai 2 jam kemudian.

        Ane sebenanrnya masih ragu, berangkat atau tidak. Masalahnya, beberapa orang yang ane tanya selalu memberi jawaban sama terkait jalur menuju Pantura atau Pantai Utara, Yapen. 

         Ada yang mengatakan,
"Pendakiannya sangat tinggi, belum lagi jalurnya yang tidak sepenuhnya aspal,"

"Jalurnya jauh sekali, masuk hutan keluar hutan, jika ingin kesana sebaiknya isi bensin penuh, karena tidak ada yang jual bensin ditepi jalan,"

"Motor yang cocok hanya motor tinggi, jalurnya tidak rata dan banyak batu-batu,"
Namun, dari beberapa pernyataan yang disampaian, ane pikir nggak ada kelebihan yang membuat ane sendiri menjadi tertarik untuk berangkat kesana.

        Yang namanya tanjakan, pasti ada turunan. Yang namanya jalanan dalam hutan, pasti ada sesuatu yang membuat penasaran. Dan, yang namanya jalur bebatuan, nggak mungkin juga cuma motor tinggi yang bisa libas itu jalan. Keseimbangan yang pastinya dapat menyelesaikan perjalanan jauh dalam kondisi apapun itu.

        Tiga minggu sebelumnya, Ane mencoba pergi ke Pantura dengan motor KLX punya om. Namun, perjalanan terpaksa dihentikan, karena sudah siang. Selain itu, persiapan ane terbilang sangat kurang, seperti kondisi motor yang kurang enak dikendarai, dan bensin motor yang ane rasa tidak cukup sampai kesana.

           Ane sempat bertemu dengan seorang pengendara yang kebetulan sedang berhenti.

          "Siang pace," ujar ane turun dari motor.
          Ane lihat, doi sedang beristirahat sembari duduk santai menyender di sebelah kiri motornya.

          "Lagi santaikah," basa basi dikit boleh lah.

          "Iyo," ketus pace.

          "Ngomong-ngomong, om mau ke pantura jugakah?" 

         "Ah, masih jauh, saya mau ke Jobi, sesudah pantura itu,"

         "Hmmm, tapi jalurnya samakah dengan ini ?"

        "Iya to, satu jalur saja, tapi kalau saya, ada sekitar 30 menit lagi sampai ke Jobi dari Pantura," jelas pace.

Pace yang memberi info terkait jalur ke Panturan
         Hmmm, setelah pace memberi sedikit informasi jika perjalanan yang akan ane tempuh masih 2 jam perjalanan lagi. Ane memutuskan untuk kembali pulang. Selain itu, penjual bensin yang tidak ada juga membuat ane ragu akan berkendara sampai pantura.

Akhirnya, hari yang dinantipun tiba.

         Ane pergi ke pantura dengan motor metik 150cc, bahan bakar full, dan kondisi motor yang ane rasa 99% siap untuk dibawa berjalan jauh.

Esok harinya.

        Pagi, jam 6.30 pagi. Dalam kondisi cuaca yang terbilang meragukan karena awan masih gelap, ane memberanikan diri pergi ke Pantai Utara. 200 ribu ane rasa cukup untuk bekal pergi ke lokasi yang belum pernah dilalui sebelumnya.

        Sebelum sampai di pantura, ane terlebih dahulu melewati jalan Menawi yang masih belum tertata rapi dengan aspal yang belum sepenuhnya diberi. Setelah sampai di Menawi, Ane belok kiri disimpang empat menuju jalan lurus Konti, dari situ perjalanan ane masih amam terkendali. Namun, ane masih meragukan kondisi bahan bahan bakar, apakah cukup sampai ke pantura atau tidak sama sekali.

        Dari jalan lurus Konti, Ane mulai memasuki jalur yang menanjak dengan banyaknya kerikil yang sesekali membuat ban motor slip. Beruntung, ane masih bisa bertahan dalam jalur yang juga berliku dengan banyak lobang.

         Oh iya, Ane lupa ngasih tau kalau ane tetap merekam perjalanan dari awal sampai akhir, lo...
Ane menggunakan kamera smartphone untuk merekam setiap perjalanan. 

Oke mari kita lanjut...

        Dari sebelah kanan jalan, ane lihat mobil jeep tersandar ditepian jalur dengan kaca depan yang sudah retak. Penutup kap terlihat penyok, bemper depan patah pada bagian kirinya, serta ban depan kiri yang sudah tidak terlihat. Tertimbun tanah, ane juga nggak tau. Kondisi seperti itu tentunya mengingatkan ane akan bahaya yang datang tidak tau kapan datang dan dimana akan terjadi.

        Ane berhenti sekitar 10 meter dari mobil. Turun dari motor dan mengambil beberapa gambar. Ya, sekalian buat dokumentasi.

        Ada bekas gesekan ban dengan jalan yang ane temukan, sepertinya ragi ban mobil yang sudah tipis tidak bisa menahan banyaknya kerikil2 kecil sehingga mobil tetap melaju walau sudah direm oleh pengemudinya. I think so...

     Ane melanjutkan kembali perjalanan, dimana pemandangan dari tingginya jalan sesekali mengganggu penglihatkan, karena sayang juga jika pemandangan indah dilewati begitu aja.
Ketika memasuki jalur dalam hutan, jantung langsung berdetak kencang. Suara hewan sesekali membuat ane berfikir, apakah itu hewan buas atau tidak. Selain itu, hewan-hewan kecil kadang melintas melewati jalur yang ane lalui. 

        Waktu sudah menunjukkan pukul 7.30 pagi.

        Ane sudah berasa naik gunung. Lagi-lagi mata disuguhi dengan pemadangan yang sangat indah. Pegunungan terlihat sejajar dengan mata. Layaknya film 5 cm, ane melihat ujung gunung serasa dekat dengan posisi ane berdiri. Bisa dijangkau, tapi ane musti masuk jurang dulu.

         Perjalanan yang sudah memasuki jalur atas gunung ini sekaligus menyegarkan badan. Udaranya yang dingin membuat hati jadi lebih nyaman, tenang dan damai. Emang sih, ketika itu jalur memang tidak satupun kendaraan yang melintas. Ane bisa sekalian foto layaknya orang tidur, dan menggunakan berbagai macam gaya apapun itu.

         Setelah melewati jalur puncak gunung, ane mulai melintasi jalur dengan turunan yang curam. Selaik turunan, belokan tajam dengan jalanan yang masih belum aspal mulus membuat ane harus lebih hati-hati lagi menggunkan rem, baik itu depan atau belakang. Rem belakang tentunya lebih banyak digunakan. 

        Belokan demi belokan di jalan menurun selesai dilewati, beberapa saat setelahnya ane memasuki jalur dengan model yang sama, namun bagian tepi kiri kanan jalan banyak terdapat tumbuhan hijau yang ane rasa itu lumut. Ya, lumut yang bisa saja dengan mudah membuat ane terpeleset. Disaat itu juga kecepatan benar-benar ane turunkan, yang awalnya rata 40-60km/jam sekarang menjadi 20-30km/jam atau malah lebih lambat lagi.

Istirahat melepas penat
Jalur yang masih terasa mulus
Pemandangan, dan ini pemandangan ujung sana adalah selatan Pulau, Yapen
        Beberapa kilometer kemudian, ane sampai pada dua cabang jalan. Satu mengarah ke depan lagi, dan satu lagi mengarah ke kanan. Dua jalur yang sangat berbeda, jalur yang lurus masih berbentuk aspal kasar sedangkan arah kanan sudah aspal mulus. Ane berharap insting masih bekerja dengam tepat. Dengan mengucap, "Bismillah" ane langsung belok kanan.

        "Oke guys, ane berharap jalan yang ane pilih ini benar. Dan, mengantarkan pada target utama perjalanan minggu ini," ucapan ane saat merekam kembali perjalanan tanpa GPS.

        Jalan lurus panjang dengam aspal hitam mulus selesai dilewati, kemungkinan 5km saja dari belokan tadi. Ane melihat ke bagian kiri jalur, dan syukur alhamdulillah ane akhirnya sampai pada tujuan utama, yaitu Pantai Utara Kepulauan Yapen, Papua. Perjalanan lebih kurang 60 km ane lewati dengan banyak momen menarik mulai dari bawah sampai atas pegunungan. Lika liku perjalanan yang sesekali membuat ane nyaris tergelincir seakan mengajarkan agar terus berhati-hati memilih jalur yang dilewati. Layaknya kelok 44 di Sumatera barat, ternyata disana juga ada, tapi dengan jarak yang masih jauh antara belokan awal dengan lanjutannya. 

Pantai Utara Yapen
Selfie dikit boleh lah, ya
Ya, kenekatan mengantarkan pada titik terbaik yang memberikan berbagai macam kejutan.

Wednesday, June 26, 2019

Minggu ke empat, Hanya Dugaan

Salam walking guys
Kemaren, gue memperoleh pelajaran yang menarik untuk dijadikan bahan untuk mawas diri. Peristiwa tak terlupakan gue peroleh saat berjalanan-jalan dari gerbang Cileunyi menuju kampus di Jatinangor. Seorang bocah kelas 1 SMA yang mengingatkan gue pentingnya perhatian orang tua untuk anaknya.
Saat perjalanan yang menempuh jarak 3,7 km, tepatnya di pertigaan jalan antara arah menuju Jatinangor ke kanan dan Cibiru ke kiri, Gue mendapati seorang remaja yang juga berjalan kaki dengan baju yang kusam.
Lagi jalan santai, gue bertemu lagi dengan remaja tersebut didepan SPBU Jatinangor. Seolah-olah kami berjalan beriringan menuju arah yang sama. Saat melewati jalan raya depan IPDN Jatinangor, gue mempercepat langkah agar bisa mendahului dia yang masih sibuk melihat ke belakang, mencari mobil yang bisa ditumpangi.

Sedang asik mendengar lagu,

“a’ mau kemana?“, tanya bocah SMA yang tersenyum melihat gue tersenyum.

Giu berhenti, “oh, saya mau ke kampus mas”,
“mas, mau kemana emang”,
“mau ke Sumedang sih”, ujar mengangguk.

“ooohhh”, Gue terus berjalan beriringan.

Saat perjalanan menuju kampus, gue terlalu melihat pakaian remaja berkulit coklat yang sudah terlalu kusut.

Gue berfikir, apa yang terjadi dengannya?

Kenapa dia bisa berjalan ke Sumedang?

Dan, apakah dia benar orang yang sedang berjalan kaki atau sedang iseng-iseng mencari korban untuk dipalak?

“a’,kenapa jalan juga ya”, sambil melihat gue yang terlihat lelah berjalan.

Dia yang saat itu membawa tas kecil masih terasa segar, namun gue melihat raut wajah yang terlihat lelah dan lungkai, seperti ada sebuah masalah yang hinggap pada dirinya.

"Tadi soalnya turun di depan rumah sakit AMC, mau naik angkot juga malas, dan pengen jalan juga sih ke nangor," jelas gue.

Sekitar 50 meter sebelum sampai di gerbang kampus,
“mas, kok bisa jalan ke Sumedang?, tanya gue penarasan,

”ya, nggk punya uang a”,

“kok bisa?” tanya gue bingung.

“saya habis main ke rumah teman”
Gue semakin penasaran, langkah gue perlambat sambil memegang pundak remaja tersebut.
“emang bawa uang awalnya dari Sumedang berapa ya mas”,
“25.000 rupiah a”,
“nekat juga”, sanggah gue pada remaja yang terlihat semakin lelah.
Gue mengeluarkan uang sebanyak 12.000 rupiah, kemudian memberikannya kepada remaja tersebut,

“eh, nggk usah mas”, gue menahan tangannya agar tidak mengembalikan lagi uang yang telah diberikan.

“Ambil, ambil, saya ikhlas kok”
“tapi mas mahasiswa, perlu duit”,

“aman kok” tegas gue.

Uang gue akhirnya diterima. Beberapa saat sampai di gerbang, gue memberikan pertanyaan yang tiak bisa dia jawab,

“orang tuanya nggk tau kalau masnya pergi”, dia langsung menunduk saat pertanyaan terakhir gue berikan.

“tau kok”, muka rada cemas, seperti ada yang disembunyikan. Nggak tau itu apa, yang jelas gue nggak mau menduga-duga.

Pernyataan gue sembari melihat matanya, “tapi, orang tuanya tau nggk kalau mas nya kesini jalan kaki terus nebeng sama orang lain ke Bandung”,

“nggk mas”, pungkas remaja yang semakin menghindari pertanyaan gue.
Dia kemudian langsung melanjutkan perjalanan menuju Tanjung Sari, kemudian naik angkot menuju Sumedang. Percakapan kami masih gantung, gue masih bingung, kenapa mukanya langsung terlihat pudar dan gue merasa dia punya masalah yang berat.

Sampai malam menjelang, gue menceritakan kejadian yang dialami tadi kepada teman di kampus bernama Sulaiman, panggilannya Man.

Man berkata,
" Hal tersebut memang sudah banyak terjadi pada beberapa remaja, mungkin mereka sedang mengalami masalah dalam keluarganya sehingga bisa melakukan tindakan sesuka hati dan mengikuti nafsu jahat yang mendekati. Semua kembali kepada masing-masing diri, jika kamunya sudah terbiasa berbuat baik kepada sesama, maka perbuatan memberi uang seperti yang kamu lakukan tadi tidak akan terlalu kamu fikirkan baik buruknya. Entah saat itu kamu sedang ditipu atau memang sedang berhadapan dengan orang yang sedang membutuhkan pertolonganmu”.

Gue beranggapan, pernyataan teman gue tadi memberikan isyarat. Jika ingin berbuat baik, maka lakukanlah !, jangan menunggu dan jangan berdebat dalam hati.

Yang jadi pertanyaannya,"Apa yang telah terjadi ?"

Monday, June 24, 2019

3 Kunjungan Sebelum ke Pantai, Menawi, Papua

Berlibur ke tempat yang jauh dengan pesona alam yang masih asri membuat jiwa menjadi lebih tenang dan santai. Salah satu tempat wisata yang bisa dicapai dengan jalur yang terbilang sangat sepi ada di pantai pasir putih Manawi, Kepulauan Yapen, Papua.

Lokasi yang berada di jalur lintas menuju Dawai ini pastinya memberikan pengalaman tersendiri bagi pengunjung, Ane yakin 80%.

3 Kunjungan yang ane peroleh sebelum sampai di Pantai Pasir Putih, Menawi

1. Berkendara dengan sepinya jalan.
Maklum saja, didaerah yang masih jauh dari kata maju, atau berkembang, ane sering sekali merasakan situasi seperti itu. Jika ada kendaraan yang lewat, itu hanya mobil travel Serui - Dawai, kalau ada motorpun, kebanyakan yang bawa adalah orang asli Papua. Jalur yang memang jauh dari kota, dan sebagai penghubung daerah yang satu ke daerah yang lain memang menyimpan pesona yang bisa dilihat sekilas mata saja. Jika berhenti sebelum sampai tujuan, ane sendiri juga ragu.

2. Hutan di Kiri Kanan
Selain sepi, kadang bulu kuduk merinding dikala sore menjelang. Keadaan yang juga pernah ane rasakan ketika melewati jalur dari Batu, Malang menuju Surabaya setelah melewati Gunung Arjuna. Mungkin kalau lebih malam lagi ane melewati jalur tersebut, yang kelihatan mungkin hanya cahaya lampu motor.
Hutan yang lebat selalu dihiasi oleh binatang-binatang nan eksosis, manis, dan kadang bisa eksis jika ditelusuri lebih dalam lagi.

3. Pastinya, pemandangan indah
Hal seperti ini biasa terjadi ketika ane mulai keluar dari jalir hutan nan menanjak. Biasanya di ujung pendakian, ane memperoleh view yang bagus. Lumayan untuk nambah koleksi foto. Pulau-pulau kecil dengan tepian pasir putih serta birunya air seakan membuat rasa penat hilang, "Sungguh nikmat tuhan mana lagi yang kau dustakan."

Ane berkesempatan datang ke pantai yang memiliki biota laut cantik ini mengagumi indahnya wisata bahari yang masih sepi pengunjung. Selain dari jaraknya yang jauh dari ibu kota, belum ramainya promosi wisata di pulau menjadikan tempat wisata patut di kelola dengan baik. Selain itu, jalur lintas menuju pantai memang tidak ada ojeg yang bisa mengantar, kebanyakan orang-orang pergi dengan menggunakan kendaraan pribadi, dan itupun motor

Saat berangkat dengan menggunakan motor, jalan yang mendaki dan menurun dari Serui menyebabkan bahan bakar motor cepat habis. Sangat disarankan untuk mengisi penuh tangki motor atau membawa bahan bakar cadangan agar sewaktu-waktu bisa bermanfaat saat Spidometer sudah menunjukkan E (empty).

Jangan lupa bertanya kepada penduduk sekitar jika ragu dengan lokasi pantai yang minim petunjuk arah. Ane yang sebenarnya yakin dengan jalur yang ditempuh, terkadang masih bertanya kepada penduduk yang tengah lewat di tepi jalan agar tidak ada lagi keraguan saat menuju pantai.

Mari Bangun Usaha

Coba Berwirausaha
Banyak cara yang bisa dilakukan untuk menjadi orang sukses dalam berwirausaha. Anda tidak harus mengawalinya dengan modal yang besar. Namun, memanfaatkan lingkungan sekitarpun juga bisa. Selain doa dan usaha, kreatifitas harus dimiliki oleh masing-masing individu.

Dalam sebuah seminar yang ane ikuti, ada beberapa hal yang bisa dijadikan ladang usaha pribadi ataupun kelompok.

Kamis, tanggal 24 Maret 2016. Seminar yang berjudul "Strategi Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR)" yang disponsori oleh Bank BNI di gedung Unpad Training Center sebagai wadah pelatihan menjadi seorang pengusaha, serta adanya dukungan penuh dari pemerintah Kota Bandung untuk Jawa Barat yang lebih baik.

Bank BNI yang menjadi salah satu instansi yang ikut mendukung program pemerintah ini, memberikan cara bagaimana masyarakat bisa ikut program KUR. Calon pengusaha tidak butuh waktu lama untuk pencairan dana, cukup datang ke Bank BNI dan mengikuti segala prosedur yang telah ditetapkan. Sasaran KUR yaitu usaha yang menghasilkan nilai tambah dan mampu meningkatkan pendapatan. KUR juga telah diatur dalam Permenko No.8 tahun 2015 tanggal 19 Oktober 2015 (Penyempurnaan dari Permenko No. 6 tahun 2015 tangga l5 Agustus 2015).

Dalam hal ini, Kredit Usaha Rakyat memberikan dana pinjaman bagi tiga jenis KUR yaitu, KUR Mikro dengan dana yang di pinjamkan mencapai 25 juta Rupiah, KUR Ritel dengan dana pinjaman mencapai 500 juta rupah serta KUR TKI dengan dana yang mencapai 25 juta rupiah untuk Tenaga Kerja Indonesia yang ingin mencoba peruntungan menjadi seorang pengusaha di negeri orang. Semua telah diatur dalam undang-undang  sehingga dalam ketetapannya bunga yang diberikan untuk pengembalian modal tersebut sebesar 9%.

Dalam KUR ini, beberapa sektor usaha yang dapat dimodali yakni Pertanian, Perikanan, Perdagangan, Pengolahan, Jasa dan Industri Kreatif. Sektor Industri Kreatif berasal dari pemanfaatkan kreatifitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dan meningkatkan daya cipta individu tersebut. Sektor industri kreatif meliputi periklanan, arsitektur, pasar seni dan barang antik, kerajinan, desain, fesyen, video, film dan fotografi, permainan interaktif, music, seni pertunjukan, penerbitan dan percetakan, layanan komputer dan piranti lunak, radio dan televisi, riset dan pengembangan serta kuliner yang tidak pernah ada habisnnya.

Proses untuk mendapatkan KUR terbilang mudah dan cepat, calon debitur yang ingin meminjam modal diwajibkan membuat sebuah proposal untuk usaha yang akan dijalani. Kemudian, berkas proposal tersebut dapat di rekomendasikan oleh kampus yang bekerja sama dengan Bank yang mensponsori kegiatan KUR. Kemudian, proses kredit dan keputusan kredit dari pihak pemberi modal dan akad kredit. Selesai akad kredit, maka dana langsung bisa diproses dan dapat digunakan sebagai modal usaha yang nantinya akan di kembangkan oleh masing-masing pelaku usaha.

Dalam hal ini, KUR juga memiliki syarat yang harus di penuhi oleh calon penerima modal dengan  kriteria, usaha yang dijalankan minimal 6 bulan dengan usia pelaku usaha minimal 21 tahun atau sudah menikah, tidak tercantum dalam daftar DHN dan permasalahan SID Bank Indonesia serta menyerahkan dokumen berupa tanda pengenal secara keseluruhan.

Pada tahun 2016 target yang dicapai oleh KUR nasional sebesar 100 triliun atau 3,3 kali kipat dari target tahun 2015 dengan target debitur lebih kurang 4,48 juta debitur, untuk wilayah Bandung sebesar 1,1 triliun dengan realisasi per posisi 22 maret 2016 sebesar 222,81 Milyar dengan 832 debitur. Untuk mendapatkan modal yang besar memang di perlukan usaha yang besar pula untuk mewujudkannya. Kemudian usaha yang dilakukan dengan dana pinjaman tersebut akan tetap dipantau dan dibina sampai usaha tersebut bisa berjalan dengan lancar dan sesuai dengan target KUR terlebih untuk pelaku usaha tersebut.

Bandung merupakan kota dengan kreatifitas yang tidak ada habis-habisnya. Kita sebagai warga Bandung atau mahasiswa yang berkuliah di Bandung seharusnya bisa memanfaatkan momen ini sebelum nantinya kita balik ke kampung halaman. Banyak hal yang bisa diperoleh dari kota ini, baik itu kreatifitas, pendidikan, fashion atau wisata. Untuk usaha yang ada di Bandung ini, yang mendominasi dan paling banyak di cari oleh para pengunjung yaitu kuliner, fesyen dan kerajinan. Tiga usaha tersebut sampai sekarang masih banyak berdiri dan menjadi sasaran bagi para wisatawan yang mengunjungi Bandung. Tidak salah jika kita bisa memanfaatkan peluang tersebut menjadi sebuah usaha yang nantinya bisa membuat hidup kita lebih baik.

Wisausaha yang ditargetkan di Bandung untuk tahun 2016 ini sebanyak 100.000 pelaku usaha. Jumlah yang sangat banyak untuk mengurangi angka pengangguran di kota ini. Adanya pelatihan yang diberikan oleh pemerintah kota serta kampus yang ikut berpatisipasi menfasilitasi pelatihan ini, maka peluang untuk menjadi seorang pengusaha tersebut terbuka lebar bagi kita.

Banyak hal yang telah diberikan oleh pemerintah Kota Bandung dalam membantu warganya untuk mencapai kesejahteraan salah satunya dengan aplikasi yang di buat oleh pemerintah kota Bandung untuk warga yang ingin melakukan usaha serta dengan aplikasi GAMPIL Bandung merupakan nama aplikasi ini juga berfungsi sebagai penyedia layanan untuk mendaftarkan izin usaha yang mereka miliki.

Dalam mensejahterakan penduduknya. Selain pemerintah, lembaga perguruan tinggi seperti kampus juga berperan aktif dalam menyediakan layanan untuk melakukan beberapa pelatihan baru-baru ini. Salah satu kampus yang telah melakukan kegiatan ini yaitu Unpad, kampus yang telah berdiri dari tahun 1957 ini, ikut andil bagian membantu warga Jawa Barat terutama Bandung untuk menjadi pengusaha, Unpad Training Center menjadi tempat untuk pelatihan bagi para calon pengusaha agar tercipta para pengusaha yang nantinya juga mengurangi tingkat pengangguran di Jawa Barat.

Begitu banyak dukungan yang diberikan kepada kita untuk menjadi sukses dalam bidang usaha. Setiap hal yang ingin dilakukan sebaiknya diiringi dengan niat yang kuat tidak hanya keinginan semata. Kita sama-sama belajar dalam hal ini, tidak ada kata terlambat dalam usaha dan belajar. Setiap yang dilakukan adalah pelajaran dan evaluasi dalam kehidupan, yakinkan diri untuk bisa bahagia dikemudian hari karena kita makluk tuhan yang memiliki kreatifitas tinggi.

Sunday, June 23, 2019

Dermaga Bintang, Bukit Moko

Jalan-jalan ke kota Bandung memang mengasyikan dan banyak tempat-tempat wisata yang seru dinikmati. Salah satu wisata seru tersebut ada di bagian ujung kota Bandung. Puncak Moko atau sekarang sering disebut Dermaga Bintang. Lumayan, waktu ane kesana cukup sepi, karena datang pagi-pagi, jadi bisa sepuas-sepuasnya tu ngambil gambar, plus cuci mata.
Sebelum sampai di puncak moko, ane cukup banyak lihat pemandangan hijau dengan area perasawahan yang tertata rapi pada bagian kanan jalan. Maklum aja, ketika melewati jalur moko, ane fikir udah jalan di atas gunung sih. Sekitar 30 menit perjalanan ditempuh dari bawah, alias dari persimpangan jalan raya. Anggap aja ane berangkat dari Saung Angklung Ujo, soalnya jalur masuknya sama saja.
Sampai di area Dermaga Bintang, ane kala itu bawa motor dikenakan biaya parkir seharga 2.000 dan mobil seharga 5.000 rupiah saja. Di area parkiran, ada cafe yang menyediakan tempat duduk santai untuk melihat pemandangan Kota Bandung. Namun, pengunjung diharuskan membeli makanan, kemudian baru bisa masuk area untuk melihat pemandangan. Harga masing-masing makanan mahal juga sih, tapi kalau pengen melihat pemandangan indah lagi, pemandangan itu ada di depan cafe.
Jika ingin memasuki Dermaga Bintang, ane dikenakan biaya sebesar 10.000 rupiah sepuasnya. Setelah bayar tiket, ane melanjutkan perjalanan ke dermaga bintang, menanjak dengan kemiringan yang cukup bikin kaki lelah.
Sampai di atas dermaga bintang, ane musti hati-hati lagi, tingginya dermaga bintang seakan membuat ane melayang karena angin dipagi cukup kencang. Saat itu, mendung juga menyertai kunjungan walau hanya sebentar saja. Beberapa kali ane coba buat naik pagar pembatas, tapi gagal. Ane coba lagi, tapi angin semakin kencang, dan ane putuskan untuk kembali ke kosan. Selain berkunjung ke dermaga bintang, di puncak moko juga terdapat wisata hutan pinus yang menyenangkan. Pengunjung nantinya akan dimanjakan dengan susunan pohon pinus yang tertata rapi.
Nikmati terus wisata indonesia dengan segala fasilitas yang tersedia dan berikanlah info yang selengkapnya untuk bersama.
Menuju Dermaga Bintang


Tangga ke Atas Dermaga Bintang

Keliling Area Dermaga Bintang, Moko


Friday, June 21, 2019

4 Hikmah dari Lapas

Kehidupan terasa lebih indah jika bisa berbagi satu sama lain. Saling memberi dalam hal apapun selagi tujuannya baik, tentunya akan memperoleh hasil yang baik pula. Tidak pandang status sosial, semua orang pantas diberi apresiasi tinggi jika dia mampu memberi motivasi kepada siapapun yang merasakan dampak positif atas apa yang dia sampaikan. Ane merangkum kembali kisah lama yang baru teringat kembali, perihal anak lapas yang telah memberi ane banyak pelajaran berharga dalam hidup. 

Tahun 2014-2015, Ane diberi kesempatan bergabung dengan Komunitas Lapas Anak Berbagi. Ttahun itu juga ane pertama kalinya memasuki kawasan Lembaga Pemasyarakatan Anak Kelas 3A di Sukamiskin, Bandung.

Begitu banyak pembelajaran yang ane peroleh dari berbagai sumber, untuk itu ane menyusun dalam 4 poin penting ketika ane berkegiatan di Lapas Anak.

1. Bersyukur

          Kata pertama yang terlintas dipikiran adalah syukur. Saat seumuran mereka, ane kadang juga ikut kegiatan seperti itu. Ya, balap liar. Mereka yang disana, ada yang tertangkap ketika balapan liar. Kegiatan seperti seakan mengingatkan ane pada kejadian kelam dulu, hanya saja ane sedikit beruntung ketika ane tidak mengalami kejadian sama seperti yang mereka dapati.

         Ketika mereka yang berumur 12-19 tahun sudah mendekam dibalik jeruji karena berbagai persoalan yang mereka perbuat, ane merasa beruntung ketika umur segitu tidak mengalami kejadian pahit seperti itu. Peranan orang tua selalu ane dapati 24 jam, sedangkan mereka, ada yang tidak dapat perhatian seperti itu. Karena itulah, lingkungan yang tidak pantas mereka ikuti akhirnya menjerumuskan mereka pada kekhilafan.

2. Berbagi

          Kegiatan yang berlangsung hampir dua tahun juga mengingatkan ane betapa pentingnya berbagi kebaikan kepada sesama. Tidak hanya kami di komunitas, mendengar cerita mereka yang mempunyai berbagai cita-cita besar pembalap, polisi, tentara, cheff, bahkan ada yang ingin menjadi gubernur di masa depan turut memberikan pelajaran berharga bagi kami yang seharusnya bisa melakukan sesuatu yang lebih besar lagi bagi negeri.

          Pengalaman buruk yang mereka katakan sebenarnya bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk dapat berbagi dengan yang lain. Ketika kepercayaan diri kendur karena bully-an dari orang luar, disaat itulah kami, volounteer datang memberi motivasi, materi, pengalaman yang semoga disuatu saat nanti bisa digunakan.

          Seorang bocah pernah berkata,"lebih baik saya kembali ke lapas, daripada harus dibuli di kampung halaman sendiri," kerjadian tersebut dialami oleh hampir seluruh anak lapas yang telah bebas.

3. Bersama

          Dalam berbagai kegiatan, seperti pemberian materi futsal oleh pelatih yang kami minta langsung dari mantan pemain PERSIB, anak-anak lapas sangat antusias saat mendengar materi yang diajarkan, beberapa dari mereka ada yang sampai mengajak kami bermain futsal. Walau nafas nggak sekuat mereka, setidaknya dengan bermain bersama, kegiatan kami menjadi lebih bermanfaat bagi mereka.

          Tempat tinggal mereka dilapas bulanlah dibalik sel jeruji, melainkan semacam asrama layaknya pesantren. Kebersaaman mereka terbentuk oleh kegiatan posifit seperti sholat berjamaah, mengaji, sampai mendengarkan ceramah di masjid lapas. Suka duka dijalani, hingga yang memisahkan mereka hanya kebebasan dari lapas.

4. Berkreatifitas

         Dalam hal ini, merekalah yang banyak memberi kami berbagai macam ilmu, terutama saat ane melihat sendiri karya seni yang mereka selesaikan dari berbagai macam barang-barang yang tidak terpakai. Satu hal yang nggak bisa ane lupa, ketika seorang anak lapas mengajarkan ane membuat lampion dari benang. Materinya memang dari volounteer, tapi ide agar ane membuat usaha tersebut terinspirasi dari satu bocah yang saat itu tiba-tiba saja berteriak,
"ieu' usaha aing," atau
"ini usaha saya,".

          Beberapa hari berlalu, ane coba membuat, dan akhirnya terjual. Namun, usaha tersebut tidak dilanjut, karena ane udah kerja ditempat lain, sehingga waktu terasa sempit untuk menambah kegiatan usaha tersebut.

           Pelajaran yang berharga tentunya diperoleh dari hal yang tak terduga, setiap orang yang dikira biasa, terkadang mereka menjadi seorang yang luar biasa, apalagi selalu memberi inspirasi buat kita. Siapapun mempunyai pribadi yang menginspirasi, tinggal bagaimana sikap tersebut menjadi tanda jati diri.

Kegiatan Senam di Aula, Lapas

Namanya juga, Bosssss