footer social

Pages

Thursday, June 20, 2019

Pergi ke Lapas, Yuk

Ane teringat kisah lama ketika menjadi volounteer di Lapas Anak Sukamiskin Bandung. Tempat yang mengajarkan banyak hal, salah satunya peduli terhadap ketidakpercayaan diri anak. Banyak pengalaman yang ane dapati selama berada dikomunitas yang berdiri sejak pertengahan 2014 yang lalu. Berbagi, bersyukur, kebersamaan menjadi hal yang tidak akan hilang dari identitas komunitas Lapas Anak Berbagi.

Lapas Kelas 3A merupakan tempat yang dihuni oleh orang-orang yang melakukan kesalahan, baik itu kecil atau kesalahan yang lebih besar. Lapas anak Bandung memang dikhususkan untuk anak-anak yang melakukan tindakan pidana, seperti mencuri, balapan liar, prostitusi dan yang lebih parah yaitu pembunuhan. Setiap anak yang melakukan tindakan tersebut sebenarnya bukanlah dari hati mereka sendiri, melaikan faktor lingkungan dan emosi yang masih labil yang dimiliki. Anak-anak lebih cendrung khilaf dalam melakukan perbuatan mereka, terkadang hanya karena masalah sepele mereka bisa melakukan tindakan yang anarkis dan brutal terhadap orang lain.

Setiap anak yang melakukan tindakan yang salah sebenarnya belum berhak di renggut kebebasannya, terlebih lagi mereka hanya mengikuti apa yang disuruh oleh teman mereka sendiri. Pola pikir mereka yang masih belum jelas sangat gampang dipengaruhi untuk melakukan tindakan yang buruk yang sebenarnya tidak ingin mereka lakukan. 

Ketika mereka telah melakukan tindakan yang salah dan kemudian di jebloskan ke ke lapas, mereka cendrung pesimis dalam hidup dan merasa tidak berguna bagi orang lain. Saat mereka pesimis tentang kehidupan mereka, disanalah proses pembinaan oleh pihak lapas di lakukan untuk membentuk karakter mereka menjadi lebih baik, seperti pengajian, pengajaran karya seni, olahraga dan kegiatan pendukung lainnya yang mendukung mereka untuk bisa lebih percaya diri lagi saat berada di lingkungan luar dan bertemu masyarakat luas. 

Selain itu, banyak komunitas-komunitas sosial yang menjadi fasilitator bagi anak lapas, memiliki tujuan yang sama agar mereka tetap kepada jalur yang benar. Perlu adanya sosok yang menjadi panutan bagi mereka, salah satunya adalah rekan-rekan komunitas sosial dari berbagai kalangan. 

Kebanyakan kita yang lebih beruntung daripada anak lapas malah menghindar dan tidak peduli terhadap mereka yang juga termasuk anak dan kader bangsa. Kita sebagai warga yang baik seharusnya tidak mengucil anak-anak yang seperti itu, kita seharusnya lebih memperhatikan mereka agar mereka lebih percaya diri dengan kemampuan mereka. Banyak anak-anak lapas yang memiliki kemampuan lebih dalam belajar atau berkarya sesuai dengan apa yang mereka inginkan. 

Dari segi lingkungan, Lapas anak bukan seperti sel, atau penjara yang sering terlihat di film-film. Semasa ane berpatisipasi disana, ane melihat lapas anak ibarat sebuah pesantren kecil. Ada masjid, sekolah, dan beberapa ruang yang dijadikan sebagai tempat belajar seni. Tapi, lapas tetaplah tempat yang masih tertutup. Batasan-batasan tiap ruang dibatasi oleh tetali-tetali yang memiliki tinggi hingga 4 meter.

Selalu ada kenangan indah ketika ane ingat dengan Komunitas Lapas Anak Bandung. Selalu menginspirasi dan menjadi sosok motivator.
Sharing Pengalaman dengan Pemateri di Lapas Anak Berbagi

Tuesday, June 18, 2019

4 Manfaat Sampah, nomor 2 kayaknya bagus

Kita sebagai manusia selalu diberi akal dan fikiran oleh tuhan untuk menjalani setiap nafas kehidupan. Menjadi yang lebih baik dan berguna bagi semua orang adalah hal dapat membuat hati merasa lebih tenang, damai, bahkan akan muncul kata yang disebut BAHAGIA. Salah satu yang membuat keinginan tersebut terwujud adalah dengan melakukan kegiatan yang berhubungan dengan kreatifitas.

Maksud kreatifitas yang ane madsud adalah berkarya seni dalam memanfaatkan barang-barang yang tidak terpakai. Padahal, barang yang sudah tidak terpakai sebenarnya bisa dimanfaatkan menjadi apapun yang kita mau, misalnya tempat sampah atau fas bunga.

Berikut, 4 manfaat, jika bisa merubah sampah menjadi karya seni.
1. Mempercantik dalam atau luar rumah
Tampilan rumah yang terkesan itu-itu saja kadang membuat bosan, dengan memanfaatkan botol minuman seperti botol sirup, kecap, dan merubahnya menjadi pot bunga, setidaknya akan memperindah penglihat dirumah. Ane bikin waktu itu tempat setangkai bunga yang digantung di dinding garasi mobil.

Tempat Bunga Dinding

2. Mengurangi belanja mainan.
Biasanya, mobil-mobilan sadang mudah didapati hancur karena dilempar sama anak kecil, balita gitu lah. Dari pada hancur, trus beli lagi, mendingan dibikin aja mobil-mobilan dengan memanfaatkan kardus bekas, serta tutup botol air mineral untuk ban mobilnya. Bentuk, ukuran, model, warna dari mobil juga bisa disesuaikan dengan keinginan. Selain itu, anak juga bisa diajak berkreatifitas dengan hal itu. Itupun kalau anaknya mau.

3. Menambah mainan anak atau koleksi pribadi.
Anak lagi. Mereka pasti suka dengan benda kerena yang satu ini. Besi yang tak terpakai lagi tentu dapat digunakan, apalagi punya skill nge-las. Mau besar ataupun kecil tergantung dari jumlah besi bekas tersebut. Replika robot seperti transformer tentunya memiliki nilai seni yang tinggi, mana tau ada yang minat, kan bisa dijual juga.

4. Menambah assesoris ke pasar.
Nih, buat mama-mama kebanyakan. Jika dari susunan benang di rajut bisa menjadi tas, lain halnya tas yang dibuat dari plastik bekas makanan atau minuman instan. Ane sering lihat juga sih disini. Tas mulai seukuran hp, sampai ukuran segeda gaban alias sebesar ransel ada yang pakai, dibuat dari pelastik kopi, keren juga.
Semenjak berkecimpung di dunia persampahan 3 tahun yang lalu, ane melihat banyaknya potensi yang ditimbulkan oleh sampah, terutama dari sisa-sisa barang bekas.





Tidak hanya membuat sesuatu dari benda-benda yang tidak terpakai, menghias barang menjadi lebih indah dilihat juga menjadi salah satu cara kita untuk menghibur diri di ruangan sendiri. Hasilnya, dengan melihat ruangan yang penuh dengan hasil kreatifitas sendiri, kita bisa menjadi merasakan adanya nuansa yang berbeda di ruangan kita.
Jadi sampai kapan kita harus menunggu, selagi bisa melakukannya sekarang, kenapa tidak, ayoo lakukan ….!!!

Ane seriusss...

Monday, June 17, 2019

Terimakasih, Pak Dosen

Setiap pelajaran dalam suatu mata kuliah, biasanya ada quis, kemudian ujian akhir semester sebagai sarana untuk menilai seberapa mengerti mahasiswa-mahasiswi dengan ilmu yang telah diajarkan. Dan, ada nilai, baik dalam bentuk huruf atau angka sebagai bukti dari tes yang telah diberi.

Agar memperoleh hasil yang baik, tentu ada cara yang baik pula dalam prosesnya. Setiap mahasiswa, memiliki cara tersendiri untuk memperoleh nilai yang sempurna. Mulai dari cara yang mudah sampai lebih rumit dilakukan. Tujuannya hanya satu, agar dosen memberi nilai A. Ane bilang mudah, yaitu dengan menghalalkan segala cara, seperti nyontek, lihat buku atau istilah sekarang disebut dengan buka jimat. Namun, apakah cara tersebut bisa memberi dampak yang baik bagi mereka ?

Belajar rajin, mengisi lembar jawaban tanpa membuka buku atau menyontek akan memberi kepercayaan diri tinggi bagi si mahasiswa. Sebagai seorang yang terpelajar, mahasiswa harus mengerti pentingnya dampak buruk tersebut terhadap dirinya. Tapi, jika belajar dengan rajin kemudian mengisi jawaban dengan membuka buku plus ujung-ujungnya nyontek, itu namanya “bodoh”, bahasa minangnya “bengak”.

Si Anton misalkan, terkenal sebagai mahasiswa yang rajin, ke kampus selalu tepat waktu, dan tugas selalu dibuat sendiri. Namun, saat ujian berlangsung, demi memperoleh hasil sempurna, Anton memastikan jawaban yang dibuat tersebut dengan cara membuka kertas kecil yang disebut dengan jimat. Semua rumus dikertas berukuran 10 x 10cm telah dibuat tadi malam sebelumnya. Cara kotor yang dilakukan tentunya dapat merusak citranya sebagai mahasiswa rajin. Tapi, sekali lagi, agar nilai diperoleh sempurna, cara seperti itu tidak akan dianggap buruk baginya, melainkan dapat membantunya lulus dengan cepat.

______
Pengalaman (jangan ditiru)
Ane pernah mendapat pelajaran yang sangat berharga dan tak terlupa sampai sekarang. Seorang dosen yang sangat positif tingking, mata kuliah yang diajarkan adalah mekanika B, kenapa B, karena yang sebelunya ada Mekanika A. Ketika itu ane emang sengaja buka buku saat ujian berlangsung. Ane nggk buat contekan karena nantinya akan buat ane bingung sendiri, mending buka buku sekalian, semisal catatan kawan yang rajin dipinjam untuk lihat proses menjawab dari soal-soal yang diberikan. Lebih efektif dan tidak membuang-buang kertas, ujung-ujungnya global worming.

Prinsip ane saat ujian, "Berani berbuat benari bertanggung jawab," siap dengan nilai jelek jika ketahuan, dan yang pasti
duduk berdekatan dengan teman sepermainan, bukan dengan orang yang terlalu pintar, karena yang terlalu pintar cendrung pelit ngasih contekan, tapi mau nanya jika lagi kesulitan, giliran nanya balik, eh malah pura-pura nggk tau.

30 menit waktu berlalu, it's show time...
Perlahan demi perlahan, catatan yang telah diduduki sesikit demi sedikit dikeluarkan. Mata fokus melihat lembar jawaban sementara tangan kiri membolak balik halaman buku sesuai dengan soal yang tersaji. Ane belum lihat pergerakan dosen sedikitpun dari tempat duduknya.

Suasana ujian masih tenang,
"Uyuuung, uyung," panggilan dari teman yang dibelakang kanan ane. Kalau yang duduk dibelakang biasa tinggal tendang-tendang bangku ane aja sih. Tangan kanan dilambaikan, tapi bukan ke atas melainkan ke bawah, pertanda belum selesai atau SABAAAARRRS.

NB : masih ada proses nyontek yang lain, tapi buat yang ini, satu aja dulu.

Saat seru-serunya melihat tulisan-tulisan nan rapih, berisikan semua rumus yang membuat sebenarnya cukup pusing melihatnya, tiba-tiba saja Pak Dosen datang,

"Ehhmmmm," gemuruh suara dosen.

Sontak, ane langsung mendongak,"iya, pak,"

Namun, dosen hanya diam dan terus berjalan mengawasi mahasiswa.

Ane bingung kenapa lembar jawabannya tidak diambil. Setelah ujian, ane menghampiri dosen yang di ruangannya. Berharap permintaan maaf ane diterima, karena untuk matkul ini, ane nggak siap dapat nilai jelek.

"Tok tok tok," pintu digedor.

"Asalamualaikum, Pak," ujar ane harap-haral cemas.

"Walaikumsalam, ada apa?" cakap dosen yang tengah ngemil rujak.

"saya mau tanya pak, tadi bapak liat saya buka buku pas ujian ya pak ?, kok bukunya nggak diambil, pak,"

"Untuk apa nanya itu, belum ada lo mahasiswa yang nanya seperti itu,"

"Iyaaa, mana tau ngaruh sama nilai, tapi saya lihat bapak membiarkan saya gitu aja,"

Dengan senyum santai, beliau yang dua tahun lagi bakal pensiun menjawab dengan tenang,

"ya, ngapain juga saya ambil lembar jawabanmu, itu caramu memperoleh nilai dan keberhasilan selama kuliah sama saya," ujar dosen.

Ane langsung terdiam,
"Jangan kaget begitulah, santai aja," tutup dosen, kemudian keluar ruangan.

"Oiaa, piring rujaknya bawa ke kantin, sekalian bayarin, ya. Itu aja hukuman buat kamu," tambah beliau.

" whaat .... ???," disuruh bayar rujak.

Semua ada proses dan cara tertentu dalam menyelesaikan tantangan yang datang. Terimakasih kampusku.

Sunday, June 16, 2019

Minggu ke enam, Bangun Plak ...!!!

Salam walking guys
Hati gue bertanya-tanya, kemana kaki akan melangkah setelah turun dari bus nanti. Sontak terbesit nama “Koplak” panggilan akrab teman gue yang bertempat tinggal di Sekeloa, sekitar 2 kilometer dari kampus Unpad Dipatiukur, Bandung. Perjalanan dimulai setelah gue membayar tarif bus sekitar 8.000 rupiah.

Saat turun dari bus, gue langsung dihampiri oleh angkot berwarna putih.

“teeetttt,” bunyi bus yang nyaris menabrak angkot yang tiba-tiba langsung berbelok kiri dan berhenti di tepi jalan depan kampus.

“pak, maju ke depan lagi pak,” kata supir bus.
Angkot tidak bergerak sedikitpun, “teeeettttt,” klakson bus semakin keras sehingga membuat gue menutup telinga. Gue jadi memperhatikan sifat dari supir angkot yang tidak mau berpindah, seolah-olah tidak mendengar klakson bus.

Sebagai warga Indonesia yang baik, alangkah mulianya jika saat mencari uang, kita tidak merugikan orang lain. Bus akan segera berangkat, namun karena ada angkot yang tidak bergerak maju, sehingga bus tidak bisa memutar balik menuju halte penumpang.

Beberapa langkah gue berjalan, gue melihat kondektur bus berjalan menuju angkot yang tengah santai menunggu penumpang.
“Makasi mang,” ucap kondektur bus.

Akhirnya, permasalahan selesai setelah pak kondektur bus datang, meminta baik-baik agar supir angkot mau beranjak dan mengarahkan kendaraan agar bus bisa lewat. Sementara itu, gue langsung melanjutkan perjalanan menuju ke jalur yang ramai kendaraan depan SPBU Dipatiukur, belok kanan menuju Jalan Sekeloa, jalan yang sedikit menanjak.

Langkah demi langkah dimulai.
Siang hari, terik matahari menemani perjalanan gue ketika menempuh jalan yang menanjak, kemudian langsung mengambil jalan pintas menuju jalur besar Jalan Tubagus Ismail Dalam. Badan mulai berkeringat, membasahi baju yang belum sempat dicuci. Walau begitu, kegelisahan belum menghampiri jalan-jalan siang yang semakin terasa panas.

Jalur seakan semakin sempit dengan macetnya jalan yang dilewati. Banyaknya mobil yang melewati jalan serta motor yang tidak mau memberi ruang menyebabkan macet sepanjang jalan sampai ke persimpangan menuju Jalan Tubagus Ismail Dalam.

Macet sudah terjadi sejak mobil sedan yang rendah tidak mau melewati polisi tidur dengan ketinggian sekitar 10 cm. Pejalan kaki serta warga yang memakai motor sudah membimbing jalannya mobil. Entah takut atau masih ragu melewati tanggul kecil, gadis yang membawa mobil tersebut tidak berani melewati tanggul yang sebenarnya bisa dilalui. Selain tidak berani melewati tanggul, dinding pagar yang berada di sebelah kiri mobil juga menjadi penyebab gadis tidak berani mengarahkan mobilnya ke depan. Tiba-tiba, seorang pemuda yang sedang membawa motor gede mengetuk kaca jendela mobil gadis tersebut. Gadis dalam mobil akhirnya mengikuti ajakan dari pemuda yang tersenyum sambil mengatur arah berjalannya mobil agar tidak tergores oleh dinding pagar.

Mobil sedan akhirnya berhasil melewati polisi tidur serta dinding yang hanya berjarak 5 cm dari bagian kiri mobil. Pemuda yang juga sedang pergi menggunakan motor gedenya terus melintas di depan mobil sedan. Bak seorang putri raja, gadis tersebut terlihat seperti dikawal oleh pemuda tersebut sampai di ujung penglihatan gue.

Semua kendaraan kembali melanjutkan perjalanannya, serta gue terus berjalan menuju persimpangan menuju Jalan Sekeloa Raya. Sejuknya udara yang berada di satu pohon membuat gue berhenti sejenak sebelum sampai di kosan Koplak. Sembari melepas lelah, gue mendengarkan lagu ala-ala pantai sehingga gue nyaris tertidur di bawah pohon tinggi tersebut.

Badan mulai segar kembali, Gue sesegera mungkin beranjak dari pohon karena cuaca mulai gelap, kemungkinan hujan akan membasahi gue beberapa menit lagi. Sampai di persimpangan kosan Koplak, Gue melihat banyaknya kendaraan warga di sekitar, namun tidak ada keramaian seperti yang dirasakan di kampung halaman. Komplek perumahan yang selalu ramai oleh ibu-ibu rumah tangga yang selesai berbelanja dan bercerita. Gue berfikir, mungkin kebanyakan ibu-ibu di wilayah ini adalah wanita karier, sehingga jarang bersosialisasi dengan teman-teman sekitar. Gue juga tidak bisa menebak, hanya bisa menduga dan tidak ingin berfikir buruk.

20 meter berlalu dari perumahan, Gue sampai di Kosan Koplak di Jalan Tubagus Ismail lV. Tanpa salam, layaknya rumah sendiri, duduk langsung dan browsing pakai laptopnya. Kebetulam si Komplak bangun hanya untuk membuka pintu kosan, karena yang datang adalah tamu dari kejauhan.

Walau hanya sebentar, perjalanan ini tetap memberi pelajaran berharga bagi gue untuk tidak berfikir buruk tentang apa saja yang terlihat. Alangkah baiknya inisiatif lebih cepat dilakukan daripada hanya melihat orang lain mengalami kejadian yang tidak bisa ditangani sendiri. Kita sebagai manusia merupakan makluk sosial yang saling membantu dan memberi apapun satu sama lainnya.

3 Faktor Kesuksesan, Banyak Belajar dari Nomor 3

Fokus pada diri sendiri menjadi hal yang harus dilakukan oleh setiap individu. Berpegang teguh sesuai dengan apa saja yang dinginkan. Mau menerima pendapat orang lain tanpa menolak, setidaknya mempertimbangkan terlebih dahulu usulan yang sebenarnya memberikan efek yang baik untuk kemajuan diri sendiri.

Setiap pekerjaan yang disukai sebaiknya diselesaikan semaksimal mungkin. Jika dilakukan setengah-setengah, akan menimbulkan kemungkinan buruk yang terjadi. Mengedepankan kepentingan sendiri tanpa ada pihak lain yang terganggu juga menjadi hal yang baik dilakukan agar tujuan bisa segera tercapai.

3 faktor yang menyebabkan seseorang tidak fokus terhadap kesuksesannya, antara lain :

- Banyak keinginan (wacana), tapi tidak di kerjakan.
- Terlalu banyak mikir dari pada aksi.
- Tidak bisa mempertimbangkan pendapat yang di berikan banyak orang.

3 faktor tersebut bisa di tanggulangi dengan cara :
- Lakukan, dan jangan banyak bicara
- Aksi, kerjakan sekarang juga.
- Pandailah memilih mana pendapat yang sekiranya masuk akal dan sesuai dengan jalan fikiran serta hati.

Hal-hal demikian sebenarnya tidak terlalu sulit dikerjakan. Jika, kita bisa melakukannya dengan tenang dan cepat bertindak. Lambat bertindak membuat kita lebih sering masuk ke lubang yang sama. Kekuatan untuk menjadi lebih baik dan bisa berguna bagi orang banyak akan menambah semangat untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya.

Bahagia, Mungkin Kesuksesan yang Sempurna

Kebahagiaan merupakan satu hal yang selalu diusahakan oleh setiap orang. Makanya ada yang sampai bilang,

"lu kemana bro,"

"Nyari kebahagiian."

Hasilnya selalu berbuah kepada indahnya hidup yang di jalani. Life is simple, setiap hal positif adalah keberkahan baginya, hanya dia yang merasakan hal itu dan mencoba membagi kebahagiaan tersebut kepada orang banyak.

Memperoleh posisi kerja sesuai dengan yang diingikan merupakan cara untuk menikmati kebahagiaan yang di harapkan. Terkadang, seorang lebih memilih materi untuk menghasilkan kebahagiaan, materi yang banyak memang tidak luput dengan kemewahan.

Namun, apakah hal itu yang akan terus di cari tanpa mementingkan apa yang seharusnya dibutuhkan oleh diri sendiri ?.

Memperkaya diri untuk mencari kebahagiaan tidak serta merta membuat diri bahagia, akan ada hal yang dipikirkan kemudian di balik kebahagiaan tersebut.

Ane juga menjadi salah satu orang belajar dengan hal itu, Tahun 2016 yang lalu, Ane bekerja sebagai Financial Consultant, bekerja sebagai pialang yang mencari nasabah yang menginvestasikan uangnya, agar bisa di kelola dan nantinya akan mendapatkan untung yang sangat besar dari investasi tersebut. Seiring berjalannya waktu, ane terus berfikir apakah akan terus disini, bekerja tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Ane mendapatkan semua hal yang berbau perkatoran, mewah serta hidup layaknya seorang yang bisa membeli kebahagiaan dengan uang. Beberapa bulan berlalu, Ane belum merasakan kebahagiaan yang dicari kecuali kesenangan yang hanya di peroleh sesaat, itupun kalau ada sesuatu yang membuat senang bukan bahagia.

Saat itu, Ane belajar arti sebuah kebahagiaan yang dicari oleh seorang sahabat yang pernah sebulan bersama Ane, serta tiga sahabat yang masih mencari jati diri kemana kaki akan melangkah untuk kemudian hari, alias nyari kerja. Beberapa minggu sebelumnya, terakhir kami bertemu, salah seorag sahabat sebut saja namanya Putra, bilang kalau doi diterima di salah satu sekolah alam yang ada di Jakarta. Saat di tanya, kenapa ngambil kerjaan seperti itu, doi bilang karena lagi butuh duit saja.

Satu bulan berlalu, Ane masih melakukan rutinitas harian, kerja dan kerja. Pergi pagi, pulang malam. Ane memperoleh kabar, Putra diterima perusahaan yang bergerak dibidang pertanian di Kabupaten Cianjur.

Bukan bermadsud mencampuri atau sok sok an peduli, Ane merasa kalau doi memang lebih memilih bekerja di perusahaan seperti yang pernah di bilang saat kami pulang dari Lampung menuju Jakarta sekitar 3 bulan yang lalu. Padahal doi bilang, bakal senang bekerja sebagai guru, bertemu dengan anak-anak.

-----------
Tidak tau apa yang terjadi, beberapa jam kemudian doi ngasih kabar kalau tanda tangan kontrak di perusahaan tempat bekerja nanti dibatalkan, dan doi lebih memilih jadi guru dan bertahan disana. Satu hal yang membuat Ane terkejut terus senang membaca chatingannya adalah doi lebih milih menjalani profesinya sebagai guru dari pada perusahaan. Tapi, bukan berarti bekerja diperusahaan juga buruk, melainkan banyak juga yang bahagia, karena ada feedback berharga yang mampu membawa hidupnya ke arah yang setiap hari semakin baik.

Semua hal yang berbau kesenangan belum tentu membuat bahagia. Seorang sahabat fisika ane bilang, “sukses belum tentu bahagia tapi bahagia sudah pasti sukses”, sukses karena bisa menahan diri tidak bersikap arogan terhadap kekayaan yang dicari. Sampai sekarang Ane hanya bisa belajar dan terus belajar apakah Ane mati dalam keadaan sukses atau bahagia.

Saturday, June 15, 2019

8 Tipe Orang Saat di Tempat Makan, Nomor 3 Kayaknya Nggk Mungkin

Setiap orang memiliki cara yang berbeda-beda saat memesan makanan. Ada yang sambil menyapa penjual dengan terlebih dahulu memukul, kemudian memesan makanan. Ada juga yang diam, duduk dahulu, kemudian baru memesan.

Pagi sekitar jam 7, Gue pergi ke tempat makan favorit dikawasan Jatinangor, Sumedang. Sarapan lontong padang dengan berbagai macam cemilan menarik seperti, bakwan goreng, pisang goreng, sala lauak, mangkuak, pastel, dan keripik sebagai toping yang diletakkan diatas sepiring lontong. Nikmatnya sarapan pagi tidak hanya Gue rasakan sendiri. Banyak pelanggan yang rela antri untuk mendapatkan satu porsi lontong padang yang sudah berdiri sejak tahun 2007 silam.

Selama berada di tempat makan, banyak hal unik yang Gue lihat. Kadang, Gue sendiri tersenyum melihat tingkah laku pelanggan yang membuat Si penjual lontong lupa dengan pesanan yang diminta. Gue melihat, memahami, menganalisa serta menyimpulkan apa saja yang terjadi selama berada dua jam disana.

Ada 8 keunikan yang dilakukan pelanggan saat berada di tempat makan, mungkina kalian pernah mengalaminya.

1. Pelanggan yang sibuk dengan gadget ketika sedang makan.

Saat si perjual bertanya, kuah mau ditambah atau tidak, Pelangganpun tidak tidak mendengar dan terus asik bermain gadget. Penjual hanya bisa tertawa sambil memasukkan satu jenis kuah saja. Terkadang, pelanggan seperti itu biasanya menerima saja apa yang diberikan. Normalnya, makanan bisa dihabiskan dalam waktu 5 – 10 menit. Gadget ditangan sangat berpengaruh, sehingga makanan bisa selesai dalam waktu satu jam atau lebih.

2. Pelanggan melahap makanan terlalu lama.

Masih berhubungan dengan gadget. Satu chatting satu kerupuk, atau satu chatting satu suap lontong. Kita memang disarankan mengunyah makanan sebanyak 33 kali. Tapi, saat gue perhatikan. Pelanggan bisa mengunyah sampai ratusan kali. Hebat juga, mungkin makannya sudah jadi air.

3. Pelanggan yang sibuk telponan saat memesan.

Pelanggan seperti ini yang biasanya membuat penjual kesal. Saat dia datang, pasti langsung ditanya oleh si penjual mau memesan apa. Si pelanggan hanya menunjuk makanan yang dipesan dengan telpon yang masih di telinga. Sebenarnya tidak masalah bagi si penjual selagi Pelanggan masih memesan. Tapi, ketika si Pelanggan batal memesan dan pergi begitu saja, hal tersebut yang membuat si penjual jadi kesal.

4. Pelanggan yang sibuk membersihkan meja serta mengusir lalat dari cemilan.

Pelanggan yang seperti ini patut dicontoh. Tidak perlu menunggu si penjual membersihkan meja. Si pelanggan dengan senang hati memberihkan meja dengan tisu yang tersedia. Setidaknya, hal tersebut bisa menjadi ladang amal bagi si Pelanggan.

5. Pelanggan yang mengacak cemilan.

Pelanggan seperti ini patut dikasih peringatan keras. Cemilan yang diletakkan di atas piring tidak sewajarnya diambil kemudian di letakkan lagi di tempat semula, terlebih tangannya tidak steril. Kita sebagai manusia harus bisa mengingatkan kesalahan yang bisa membuat orang lain merasa jijik dengan makanan yang sudah disentuk. Lebih baik langsung mengingatkan daripada membiarkan makanan cepat basi setelah tersentuh tanah.

6. Pelanggan yang banyak nanya.

Malu bertanya sesat dijalan, kebanyakan nanya makin bingung kemudian. Pernyataan yang Gue rasa cocok untuk si pelanggan yang kebanyakan nanya. Padahal masih banyak pelanggan lain yang ingin memesan makanan. Hal ini bisa membuat waktu seseorang terbuang karena menunggu si pelanggan yang lama menentukan pilihan.

7. Pelanggan yang sok tau mengenai harga.

Banyak penjual yang merugi ketika dagangannya habis tapi uang yang didapat tidak sesuai dengan perhitungan sebenarnya. Salah satu yang menyebabkan kerugian tersebut ada pada pelanggan yang menghitung sendiri harga dari seluruh makanan yang dibeli. Walaupun jujur, kalau harga yang ditawarkan oleh penjual lebih tinggi daripada yang dibayarkan oleh si Pelanggan. Maka, si penjual akan mendapatkan kerugian yang cukup signifikan. Pastikan dulu harga yang telah ditetapkan oleh si penjual. Apalagi jika kita sudah berminggu-minggu tidak makan disana. Harga bahan makanan semakin lama semakin bertambah sehingga membuat harga makanan yang sudah jadi menjadi lebih mahal daripada sebelumnya.

8. Pelanggan yang sibuk memperhatikan pelanggan lain.

Pelanggan yang satu ini, bisa saja memperhatikan orang lain karena memang pantas untuk diperhatikan atau memperhatikan pelanggan lain karena ingin membuat sebuah tulisan yang nantinya bakal menjadi inspirasi bagi orang lain yang membacanya.
Semoga bisa bermanfaat bagi kita semua, jadilah pelanggan yang baik bagi di penjual. Berprilaku baiklah kepada setiap pelanggan yang berada disekitar tempat makan. Dan, jangan lupa berdoa sebelum dan sesudah makan.

Namanya juga, Bosssss