footer social

Pages

Friday, June 30, 2017

Salam tradisi ala Masjid Darussalam Serui

Satu lagi hal unik yang gue lihat di kota serui, sebuah tradisi yang mungkin sudah sering dilakukan oleh banyak umat muslim di Indonesia.  Ya, salam salaman di dalam masjid yang sudah menjadi kebiasaan bagi warga sekitar Serui.
Tradisi ini dilakukan oleh para pria saja setelah solat jumat di minggu pertama setelah hari raya idul fitri. Tidak ada paksaan dari pengurus masjid, hanya saja pengumuman  disampaikan langsung oleh pengurus masjid yang berbunyi,
“Asalamualaikum wr wb, seperti yang sudah menjadi tradisi di Kota Serui. Jum’at pertama saat bulan syawal kita mengadakan halal bihalal. Mari bapak-bapak para jamaah untuk berdiri dan membentuk lingkaran. Kita akan saling bersalam-salaman agar segala kesalahan atau kekhilafan yang tampak atau tidak tampak oleh orang lain di sekitar kita bisa dimaafkan”.
Begitulah kutipan yang Gue dengarkan sebelum berdiri dan bersalaman dengan sesama jama’ah yang melaksanakan Sholat Jum’at. Karena sudah menjadi kebiasaan yang dilakukan di Masjid Darussalam Serui, maka setelah pengumuman diberikan, jama’ah langsung berdiri dan membentuk lingkaran besar.
Salam-salaman mulai dilakukan
Selain langsung pulang, jama’ah yang tidak mengikuti salam-salam juga disebabkan mereka langsung menjalankan sholat sunnah ba'da  zuhur.
Gue berfikir, mungkin pengurus mengadakan salam-salam langsung sebelum sholat sunah ba’da zuhur agar jama’ah tidak langsung pergi setelah solat sunah, maka dari itu salaman dulu, baru solat sunah kemudian.
Gue sangat respect dengan penampakan yang terlihat tadi. Tetap menjaga solidaritas walau menjadi minoritas di negeri timur bagian atas.


Thursday, June 29, 2017

Takbiran ala Serui Papua

Lebaran minggu lalu menjadi salah satu akhir ramadhan yang menarik bagi gue. Betapa tidak, kegiatan yang di dominasi oleh umat muslim sangat didukung oleh mayoritas umat kritiani di Serui ini, sehingga waktu perhelatan pada malam hari itu sulit dilupakan.luapan emosi dan kesenangan menyambut hari nan fitri terasa lebih mengasikkan.
Takbiran, acara di malam menjelang tutupnya bulan ramadhan. acara yang dinanti oleh seluruh umat muslim Indonesia terutama di Serui. Berbagai macam cara dilakukan agar semuanya bisa mengikuti pawai, atau bisa disebut konvoi takbiran, mengelilingi Serui sampai keseluruhan isi kota terjamahi dengan bunyi yang bersumber dari toa, speaker, serta suara anak-anak yang berkumandang,
"Allahhu akbar, allahhu akbar, allahhu akbar, allahhu akbar, laaaa ila haillaullah hu allahhubakbar, allahhu akbar walillah ilham”.
Sebelum konvoi mulai berangkat, sambutan diberikan oleh Bupati. Ceramah, serta semangat kemenangan juga diberikan oleh seorang ustad yang diundang langsung oleh Bupati, dan terakhir adalah pelepasan langsung oleh kepala kepolisian Serui yang akan memandu langsung jalannya konvoi takbiran.
Konvoi akan dimulai dari alun-alun kota. Gue melihat, sekitar 30 lebih kendaraan roda empat dan 50 lebih kendaran roda dua mengikuti takbiran. Jumlah kendaraan yang banyak dan beberapa kendaraan memaksa masuk melewati jalan yang akan dilalui oleh konvoi, membuat pihak kepolisian kewalahan menangani lalu lintas kota.
Sekitaran jam 8.30 malam, Bupati melepas kepergian konvoi berkelilig kota. Lambaian tangan dari Bupati dan warga yang berada di alun-alun serta teriakan "allahu akbar" menyertai keberangkatan rombongan konvoi.
Perjalanan dimulai dengan melewati jalan yang berbelok ke kanan dari alun-alun ke Jalan Hasanuddin. Beberapa kali mobil gue berhenti, karena beberapa warga melintasi jalan yang akan dilalui konvoi. Warga yang tidak mengikuti konvoi kebanyakan melihat dari depan rumah masing-masing, menyanjung dan meneriakkan kalimat takbir ke arah mobil yang melintas.
Saat melintasi jalanan yang berbelok kiri menuju Jalan Stefanus Rumbewas, seorang bocah berkata kepada Gue bahwa daerah yang akan dilalui berikutnya akan lebih berbahaya.
"kenapa emang," ujar Gue saat mengabadikan momen takbiran dengan kamera video.
Beberapa orang, mulai dari anak-anak sampai warga yang tidak senang dengan takbiran akan melemparkan telur bahkan batu ke arah mobil yang mengikuti konvoi. Selain itu, peserta konvoi yang berada di atap dan berdiri di mobil kolbak akan menjadi sasaran empuk mereka.
Hal yang disampaikan oleh bocah yang merupakan teman keponakan Gue ini ternyata nyaris benar, beberapa orang di jalur dilewati konvoi banyak terjadi kegaduhan yang menyebabkan sesekali mobil berhenti mendadak melihat warga yang tiba-tiba datang dari arah berlawanan ataupun samping kendaraan.
"breeemm," bunyi knalpot keras dari salah satu anak-anak yang mengiringi jalannya konvoi.
Entah itu warga asli atau memang anak nakal yang sengaja mencari perhatian. Namun,  apa yang dia lakukan tidak ada yang mengacuhkan. Konvoi tetap berjalan begitu saja, sampai akhirnya, saat gue menoleh kebelakang, anak yang memakai motor berbunyi keras tersebut dihadang oleh pihak kepolisian yang berdiri di tepi jalan, "dia diamankan itu ri," kata kakak yang yang menjadi operator soundsystem.
Sampai di ujung Jalan Stefanus Rumbewas, konvoi belok kanan masih dengan nama jalan yang sama. Jemaah di masjid yang berwarna hijau terang tersebut mengumandangakan takbir kemenangan.
Dalam perjalanan yang berlangsung rapi tersebut, ada beberapa kendaraan yang berhenti mengisi bahan bakar eceran. Namun, ada juga yang sengaja membawa bahan bakar dengan derijen besar yang langsung dimasukkan kedalam saluran bahan bakar yang dibuka dengan sekali pukulan. Walau banyak guncangan dan beberapa tetesan bahan bakar terbuang, namun semangat untuk tidak berhenti dan tidak tertinggal dari konvoi lain bisa diacungi jempol. gokiieelll...
Sampai di persimpangan, konvoi melanjutkan perjalanan dengan belok ke sebelah kanan jalan memasuki di Jalan Hasanunddin.
Konvoi terus melewati bundaran dan belok kiri menuju jalanan tepi bandara lama Serui. Dalam perjalanan tersebut, rinai hujan mulai membasahi konvoi yang rata-rata menggunakan mobil kolbak dengan full soundsytem yang berada di belakangnya. Beberapa mobil sudah mulai gugur dan menghentikan perjalanan yang menyisakan setengah putaran lagi.
Hujan semakin deras dan Gue beserta peserta konvoi juga gugur, demi menyelamatkan soundsystem. Walau begitu, beberapa mobil kolbak yang membawa terpal sendiri tetap melanjutkan perjalanan. Hampir semuanya berhenti dan memasang penghalang air hujan yang membasahi penumpang di belakangnya, kecuali minibus yang tetap melaju dan memperbesar volume speaker, agar suara takbiran tidak hilang begitu saja.
Sementara itu, Gue yang masih penasaran dengan takbiran ala Serui ini menuju toko sepupu dan mengendarai motor mengejar konvoi yang terus melaju.
Rekaman video tetap berjalan seperti biasa, tangan kanan pada gas motor dan tangan kiri memegang kamera video yang tetap menyala. Sampai di alun-alun kota, ternyata yang gue lihat berbeda dan tak seperti diawal cerita sebelumnya.
Tidak ada deretan mobil dan tidak ada lagi pihak kemananan yang bertugas. Semua seperti normal sedia kala, entah melanjutkan perjalanan atau memang sudah mulai kembali ke rumah masing-masing. Saat gue bertanya kepada salah satu penjual yang berdagang di dekat alun-alun, penjual tersebut malah acuh dan tidak tahu dengan peristiwa besar yang terjadi di dekat warungnya. Selain itu, Gue juga bertanya kepada penduduk lain yang berada di alun-alun, ada yang bilang belum selesai dan ada yang bilang sudah selesai.
Gue mulai bingung, kepada siapa lagi akan bertanya. Disaat yang sama, Gue melihat beberapa pihak keamanan yang mengatur barisan konvoi sedang duduk di posnya.
Gue merasa bangga walau hanya sebentar mengikuti konvoi, namun setidaknya Gue menyadari, tidak semua orang yang care terhadap agama. Kita tidak bisa memaksakan sesuatu terhadap mereka. Entah itu mereka islam atau non islam, mereka yang tidak mengikuti konvoi ada yang menghargai ada juga yang tidak peduli sama sekali.
Sebagai pendatang yang baru merasakan puasa dan lebaran pertama di papua, gue tetap salut dengan solidaritas di kota bahkkan pulau ini.  Semoga semangat ramadhan terus menghiasi wakamsi (warga kampung sini) dan wakamtang (warga kampung pendatang).

Happy Eid Mubakak
Takbiran ala Serui Papua
Parkir Konvoi
Takbiran ala Serui Papua
Sambutan dari Bupati Serui
Takbiran ala Serui Papua
Persiapan dari kepolisian

Tuesday, June 27, 2017

Pantai Almaera di Serui Papua

Berkunjung ke banyak pantai di Pulau Yapen, tidak lengkap rasanya jika belum mencoba luasnya Pantai Almaera. Pantai yang berdekatan dengan Pantai Albukarai ini memberikan pengalaman yang berbeda dari pantai-pantai lainnya.  
Lokasi pantai berada di sebelah kanan jalur lintas Bandara menuju Kota Serui. Tidak ada gerbang yang pasti menandai keberadaan pantai indah ini. Gue yang saat itu pergi dengan sahabat lama, berhenti di tepian jalan yang hanya bisa dilalui oleh satu motor saja. Namun, jika pengunjung datang menggunakan mobil, jalan masuk untuk mobilpun ada dan itu hanya pas dilalui satu mobil saja.
Pengunjung yang datang sekitaran jam 2 siang, akan melihat langsung pasir pantai dengan air laut yang sedang surut. Surutnya air laut bisa menjadi peluang bagi pengunjung untuk membawa kendaraanya ke bibir pantai, tapi tetap berhati-hati, bisa saja kendaraan masuk lubang dan menyebabkan ban masuk ke dalam pasir yang masih
Suasana pantai yang nyaman memberikan kenikmatan tersendiri bagi pengunjung yang datang silih berganti. Uniknya pantai disini, ada beberapa gunungan pasir di bibir pantai, sehingga jika air laut pasang, gunungan pasir tersebut tidak tertutup semua. Spot untuk berfoto juga bisa dimanfaatkan untuk hasil gambar yang berbeda.
Dari kunjungan gue yang hanya berkisar 20 menit, salah satu analisa gue adalah tempat seperti ini tidak dikelola dengan baik. Sampah masih bertebaran di area pantai, menyebabkam keindahaan pantai berkurang. Selain itu, untuk gerbang masuk pantai yang menandakan identitas dari lokasi pantai itu sendiri, perlu adanya penataan yang jelas, minimal gerbang masuk yang menandai pantai-pantai di Pulau Yapen.

Jagalah selalu pantai miliki negeri kita sendiri dan tetap meneceritakannya kepada orang lain agar pengunjung lain berdatangan, sehingga tingkat perekonomian warga semakin membaik.
Pantai Almaera di Serui Papua
Pemandangan Pantai
Pantai Almaera di Serui Papua
Gunungan Pasir

Pantai Albukarai Tersembunyi di Timur Indonesia

Salam berkendara guys,
Sebagai negara kepulauan dengan lautannya yang luas, Indonesia memiliki berbagai macam wisata bahari yang tidak ada habisnya. Lautan luas dengan berbagai macam keindahannya patut menjadi wisata alam yang harus dilindungi oleh warga negaranya.
Sore tadi, Gue pergi ke salah satu wisata pantai yang ada di bagian barat Kota Serui, Pulau Yapen, Papua. Pantai Albukarai, salah satu pantai yang terletak tidak jauh dari Pantai Sarwandori. Hampir sama dengan pantai-pantai lain di berbagai pulau di Indonesia, pantai luas ini memiliki keindahan yang bisa menyegarkan mata.
Lokasi pantai berada di jalur menuju Bandara Stefanus Rumbewas, Pulau Yapen. Jalur yang hanya bisa dilalui satu truk ini belum mulus alias masih terdiri dari aspal keras dengan batuan kecil yang sangat banyak di tepi jalannya. Papan nama pantai memang belum ada, namun pengunjung tidak akan sulit menemukan pantai tersebut. Pantai ditandai dengan rumah biru serta parkiran mobil yang berada langsung di samping jalan raya menuju Bandara.
Pantai menyediaka dua tempat rekreasi, Pemandian air tawar, air yang berasal dari pegunungan. Sedangkan satu pemandian lain berada di bibir pantai itu sendiri. Saat air surut, jarak bibir pantai dengan tempat duduk pengunjung hanya 1 meteran saja. Tapi, jika air sudah pasang, air pantai bisa menggenangi tempat duduk pengunjung.
Walau pantai yang satu ini terbilang indah pada pemandangannya, namun sampah masih bertebaran di berbagai tempat. Tempat sampah tidak tersedia, pengunjung yang ingin membuang sisa makanannya hanya bisa menaruh sampah yang ditumpuk ke dalam plastik besar, kemudian diletakkan di bawah pohon. Itupun kalau pengunjung yang sadar dengan kebersihan, sebaiknya jika ingin tidak ada sampah di pantai, ada baiknya membawa sampah itu sendiri ke tempat sampah yang tersedia.
Sebagai traveller, gue sangat berharap adanya dorongan dari pemerintah setempat perihal pantai yang belum terpublikasi secara maksimal. Hanya warga lokal serta pendatang yang menyadari adanya berbagai macam keindahan yang ada di Pulau Yapen Papua.

Happy Holiday
Pantai Albukarai Tersembunyi di Timur Indonesia
Pemandangan Pantai nan Surut Air
Pantai Albukarai Tersembunyi di Timur Indonesia
Sampah di Pantai
Pantai Albukarai Tersembunyi di Timur Indonesia
Sedikit Kesenangan di Air Laut



Sunday, June 25, 2017

Minggu Ketiga di Jalan Sepi Sebagai Petunjuk Arah

Salam walking guys,
Pada perjalanan gue yang ketiga ini, lokasi yang berbeda dilewati, serta adanya jalan baru yang gue tempuh sebagai jalur alternatif ke jalan aspal yang lebih besar di kawasan Cikuda, Jatinangor..
Gue memulai start jalan dari UKM barat kampus menuju Fakultas Kedokteran, kemudian langsung mengarah ke Fakultas Keperawatan, dari Fakultas Keperawatan, sebuah pemandangan indah terlihat di Gedung Dekanat Fakultas.
Selesai melewati Gedung Keperawatan, gue berjalan menuju Gedung Lab baru di pusat kampus Unpad Jatinangor. Gue melihat bangunan baru dengan arsitektur yang berbeda dari bangunan lainnya. Warna cerah dan bentuk lorong yang unik banyak mengundang mahasiswa serta warga sekitaran Jatinangor mengabadikan diri di sisi bangunan unik tersebut.
Rasa penasaran mengajak gue untuk mengelilingi gedung tiga tingkat tersebut. Selesai melewati Gedung Lab, Gue langsung mengambil arah kiri, tepatnya jalan aspal yang berada di belakang Fakultas Ilmu Komunikasi. Jalur lurus sepanjang 100 meter menuju bundaran depan rektorat dilalui dengan rasa lelah yang belum sama sekali terasa. Sampai di Bundaran, Gue langsung mengambil belok kanan menuju bangunan lama Fakultas Pertanian.
Memasuki bagian depam gedung, gue melihat arah menuju jalan yang tidak terlalu bagus, masih banyak kerikil besar dan kecil yang dilewati. Sebuah taman indah terpampang jelas di depan mata, luas lahan sawah yang menjadi tempat berkumpul kerbau dengan burung pipit diatas punggungnya. Suasana alam tersebut mengingatkan gue saat berada di kampung halaman, Solok.
Gue berhenti dan melihat area persawahan, sangat banyak karunia tuhan yang telah memberikan kenikmatan mata saat melihat hijaunya alam, Indonesia. Betapa indahnya sang kreator alam membuat alam ini, pandangan mata tidak bisa lepas menuju hutan di bagian ujung sawah.
Lika liku jalan dilewati. Terdapat pohon bambu yang berada di bagian kanan jalan. Setiap langkah kaki yang menginjak dedaunan menghasilkan suara, sesekali suara tersebut beriringan dengan desiran pohon bambu yang terkena angin. Gue hanya berfikir positif dengan jalanan yang dilewati saat waktu masih menunjukkan jam 8 pagi.
Setelah melewati jalan yang dirasa aneh tersebut, Gue melihat ada sekitar lima anak-anak yang bermain di kolam ikan, sehingga mengejutkan perjalanan saat melintasi bagian depan rumah mereka.
"Ye ye ye, awas a,” sorak sorai anak-anak yang sedang main air. Gue langsung menghindari permainan anak-anak yang sedang berjelanjang bulat tersebut.
"weii, jangan lempar-lempar air dek”, anak-anak tersebut mengabaikan perkataan Gue. Sesegera mungkin Gue langsung berlari dari siraman air bocah-bocah girang yang saat itu langsung ditegur oleh Ibunya.
Gue melanjutkan perjalanan dengan baju yang sedikit basah. Jalan mulai menanjak mencapai kemiringan 45 derajat. Keringat mulai bercucuran dengan kaki yang mulai terasa berat saat melangkah.
Lelah, capek, letih dan lesu mulai datang. Beruntung, puncak jalan menanjak terlihat, demi sampai lebih cepat di atas jalan yang belum tahu bentuk jalannya, Gue berlari dan akhirnya sampai pada jalan besar yang sering dilalui saat berkendara ke Gunung Manglayang.
Sampai di ujung jalan menanjak, Gue menghela nafas dalam-dalam dan menenangkan diri sambil mendengarkan lagu. Musik disko menyegerakan langkah sampai di persimpangan menuju kolam renang yang biasa didatangi. Gue membayangkan, seandainya berenang langsung di kolam tersebut, mungkin tubuh akan serasa segar kembali. Tapi, apa mau dikata, pemikiran tersebut hanya khayalan biasa yang tidak akan terjadi.
Perjalanan balik ke UKM Barat tempat gue tidur semalam dimulai.
Gue melewati jalur berbeda dari jalur yang sebelumnya. Gue menempuh Jembatan Cincin yang sudah terkenal di Jatinangor. Tingginya jembatan membuat gue merasa ngeri saat melihat ke bawah jembatan.
Jembatan cincin menjadi saksi sejarah penjajahan yang terjadi di Indonesia. Satu cerita yang gue dapat, saat malam hari, katanya ada sosok makluk halus suka berdiri di tepian jembatan.
 "Wuiiss, suara angin berhembus saat gue melintas sendiri di jembatan.
“ah, bodo amat lah,” sembari berjalan lebih cepat dengan bulu kuduk yang berdiri.
Walau masih belum terlalu siang, imajinasi gue terlalu capat membawa gue memikirkan hal negative tentang Jembatan tersebut.
“Bodo amat, bodo amat,” langkah semakin dipercepat.
Selesai melintasi Jembatan tersebut, Gue berbelok ke sebelah kanan menuju gerbang kecil kampus. Gue masih ingat kata Biro Sarana dan Prasana kampus ketika gue menjabat sebagai staf di organisasi mahasiswa setahun yang lalu.
Hasil percakapan setahun yang lalu
“gerbang kampus kita itu buanyak banget ri.” kata bapak kepala biro.
“ada berapa emang pak,” tanya gue dengan penasaran.
Si bapak menyebut dengan menunjuk jari jemarinya,
“ada sekitar 6 – 7 gerbang, kebanyakan jalan tikus,” ujar bapak. Pembicaraan yang ditulis dalam laporan sewaktu berada di Organisasi tersebut.
Gue memasuki gerbang kecil menuju Fakultas Satra. Jalanan sangat ramai, serta masyarakat sudah mulai meramaikan jalur lintas fakultas satu ke fakultas yang lainnya.
Selesai melintasi jalur yang berada depan Sakultas Satra, gue melewati bundaran yang berada dekat tanjakan cinta kampus. Perjalanan selesai dengan rasa lelah yang dibasahi air minum penyegar dahaga.
Hal baru gue temukan saat perjalanan ketiga ini adalah adanya jalur baru yang  didapatkan dari jalan lintas Cikuda menuju kawasan kampus. Jalan yang baru tetap memberi cerita baru dengan suasana serta budaya penduduk yang baru diketahui. Akan ada hal menarik saat sebuah perjalanan pagi memberi banyak inspirasi.
Let’s go to the new street


Saturday, June 24, 2017

Selamat Idul Fitri di Serui

Siang guys,

Sebelumnya, Gue mengucapkan selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan bathin. Semoga kita semua menjadi makhluk tuhan yang selalu diberkahi dan diberi karunia yang berlimpah di hari kemenangan. Kali ini, Gue mencoba sedikit bercerita mengenai lebaran ala kaum minoritas di Serui, Pulau Yapen, Papua.

Minggu, menjadi hari penting bagi umat Kristen untuk melaksanakan ibadahnya. Dan, sekarang merupakan hari penting juga bagi kaum muslim di Indonesia, karena Idul Fitri juga berada di hari yang sama dengan ibadahnya umat Kristen. Walau begitu, masing-masing pemeluk agama tetap kusyu melaksanakan ibadahnya.

Sholat diadakan di bandara lama, karena kota Serui kecil dan penduduk muslimnya juga hanya berjumlah ratusan. Maka, semua umat muslim menjalankan sholat ied di tempat yang sama. Dengan penjagaan yang ketat, gangguan dari luarpun tidak terjadi.

Selesai melaksakan solat ied, kaum muslim di Serui kembali ke rumah masing-masing dan menjalankan tradisi berkunjung ke tetangga. Tidak ada kemegahan, tidak ada kemewahan, yang ada hanya kesederhanaan dalam menikmati lebaran.

Nuansa bahagia tetap gue rasa, sanak famili yang tersebar di Serui berkunjung ke rumah paman. Sambutan hangat dengan jabatan tangan khas ala papua dilakukan. Lontong padang serta coto makassar menjadi hidangan pembuka untuk famili yang datang berkunjung. Cita rasanya yang pedas memberi kehangatan tersendiri di saat AC masih menyala pada angka 16 derajat.

Lontong vs Coto, dua jenis makanan yang menjadi favorit bagi keluarga disini. Pedas, nikmat dan … membuat gue yang baru pertama kali mencoba coto makassar ketagihan.

“tambuah ri,” ujar Da Roni.

Kata yang sering keluar di setiap rumah makan Padang.

Ya, apa mau dikata. Gue menambahkan lagi sepiring makanan enak sekaligus pedas ini. Alhasil, pedas tak terkira membuat air mata keluar. Semua tertawa melihat gue yang baru pertama kali mencoba pedasnya coto makassar asli buatan wakamna (warga kampung sana) yang datang jauh-jauh dari Makassar untuk memenuhi panggilan dari istri adeknya paman gue.

Perut kenyang,

Obrolan tentang kampung halaman kembali dibahas, masing-masing tamu memberi cerita yang berbeda. Seperti keadaan karyawan serta suka duka selama membuka usaha di Serui. Para istri seperti biasa, selalu bergosip ria walau puasa telah selesai. Tapi, itulah sebuah kebiasaan yang masih terulang dan tetap lestari sepanjang hari.

Obrolan ditutup, karena anak dari teman paman menangis. Disaat yang sama, teman-teman paman yang lainpun ikut kembali ke rumah untuk melanjutkan kunjungannya yang lain. sementar itu gue, hanya diam dan menahan pedas yang masih terasa, membuat bibir memerah.

Kunjungan yang sebentar setidaknya memberi gambaran kepada gue, bahwa minoritas tidak bisa mengurangi kedekatan sesama. Kadang, yang sedikit itu lebih kompak dan saling menghargai satu dengan yang lainnya.

Happy ied Mubarok

Mengenal Serui

Malam guys,
Hari ini, di malam terakhir bulan Ramadhan, tepat satu bulan gue berada di Kota Serui, Kepulauan Yapen, Papua, Indonesia tanah air tercinta. Selama satu bulan berada di Pulau yang dipenuhi para pendatang ini, Gue banyak belajar dari sistem dan proses kehidupan warga disini. Semua diamati sembari mencari sesuap nasi di sebuah toko elektronik di kota yang dikenal memiliki banyak cewek cantik dari berbagai etnis budaya maupun daerah.
Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi kita semua...
Bandara
Kenapa mengawalinya dari Bandara ? ya, karena gue sendiri sampai di Pulau Yapen melewati jalur udara, hehe garing woii ….
Bandara di Pulau Yapen sebenarnya ada di pusat Kota Serui, namun seiring perkembangan zaman dan mulai ada pesawat bermuatan lebih dari 40 orang, maka dari itu, pemerintah membuat bandara yang lebih besar dengan nama Bandara Stefanus Rumbewas, berada di bagian barat ibu kota dengan jalan raya yang masih perlu banyak perbaikan. Stefanus Rumbewas
Di bandara terdapat dua maskapai Trigana Air yang bisa mengangkut penumpang sekitar 40 – 50 orang dan Susi Air, pesawat kecil yang mengangkut sekitar 9 orang. Dengan adanya mesin terbang berwarna putih dongker ini, setidaknya Gue bisa melihat pulau-pulau indah serta lautan biru yang mengelilingi Pulau Yapen.
Kehidupan Sosial
“Papua bersaudara”, kalimat yang dulunya sering Gue dengar dan akhirnya kalimat tersebut tidak salah menjadi sebutan bagi masyarakat Papua yang saling berbagi satu sama lain dalam hal apapun. Saling menghargai antar pemeluk agama menjadi bagian penting bagi kehidupan sosial di wilayah Serui.
Selain itu, akhlak anak-anal kecil di Serui perlu dibina dalam sikap dan etika kepada orang yang lebih besar. Panggilan ‘abang’ atau ‘kakak’ sangat jarang terdengar saat anak kecil berbicara dengan yang lebih tua. Mungkin di kota-kota besar lainnya juga seperti itu, namun di kota kecil ini saya yakin, keadaan seperti ini bisa berubah menjadi lebih baik.
Kebersihan
Sama seperti kota-kota lainnya, sampah di kota ini juga tidak kalah banyaknya. Selokan menjadi tempat yang banyak digunakan warga untuk membuang sampah. Walau belum terjadi banjir besar di kota karena sampah bertebaran dimana-mana, namun keindahan kota terganggu dengan keadaan yang seperti itu.
Selain itu, rata-rata penduduk asli Serui membersihkan gigi dengan buah pinang yang dicampur dengan semacam tepung putih. Namun, yang membuat buruk pemadangan jalan raya Serui adalah warga yang membuang hasil mengucah buah pinang berwarna orange. Warnanya yang terang serta kental membuat pendatang terutama orang yang baru menginjakkan kaki di kota ini merasa jijik.  
Fashion
            Santai kayak di pantai, itulah yang terlihat bagi Gue di Pulau Indah ini. Busana dan gaya berpakaian orang disini sangat biasa dan cendrung cuek. Mungkin karena daerah yang cukup panas, kebanyakan warga hanya memakai baju tanpa lengan serta celana pendek. Kadang, bisa lebih parah hanya pakai singlet dan celana boxer saja.
Keluar rumah dengan telanjang kaki juga terlihat disini. Tidak hanya orang tua, para remajapun juga melakukan hal yang sama. Tapi, itu hanya sebagian kecil saja dari warga yang masih belum terbiasa memakai alas kaki keluar rumah. Banyaknya pendatang yang bisa bergaya juga turun memajukan cara berpakaian warga agar lebih trendi dan tidak tertinggal dari daerah lainnya.
Pendidikan
Walau gue sering cabut atau jarang mengerjakan tugas serta kebanyakan dapat juara terakhir di kelas. Setidaknya nalar gue merasa sedih saat melihat pola pendidikan di Serui. Jam belajar tidak jelas, guru jarang masuk, sehingga murid-murid pulang lebih cepat disaat normalnya jam sekolah selesai.
Mirip dengan kota besar lainnya. Kebanyakan anak-anak disini sibuk dengan dunia sendiri, walau sudah ada gadget yang dipakai, namun orang tua hanya membiarkan anak-anak bermain games tanpa adanya pembidaan dari orang tua.
Pariwisata
Pulau Yapen sangat banyak menyimpan wisata yang menarik dan masih asri. Walau pariwisata di dominasi dengan pantai serta laut, tapi disini Pulau Yapen masih masih ada air terjun yang berada di ujung kota Serui.
Pariwisata disini masih perlu dipublikasi agar warga dunia bisa menambah jadwal travelling ke Papua, selain ke Raja Ampat sana. Perlu adanya dukungan, minimal kreatifitas anak muda disini yang sudah mengenal dunia digital untuk ikut serta memajukan pariwisata Serui milik Indonesia.
Setiap hari minggu di jam kosong kerja, Gue berkunjung ke beberapa tempat wisata di serui https://petualangankuseru.blogspot.co.id/2017/06/pesona-pantai-sarwandori-kepulauan.html. Gue sangat mengagumi indahnya pariwisata disini. Laut biru dengan berbagai keindahan dalamnya membuat suasana Ramadhan gue bertambah seru
Makanan
 Tidak lengkap rasanya kalau tidak membahas makanan yang tersaji di Serui. Makanan disini tergolong banyak berasal dari pendatang yang menjual berbagai masakan dari daerah masing-masing. Gue sendiri belum menemukan yang khas dari makanan disini. Kebanyakan, Gue menyantap gorengan setiap berbuka puasa. Pastel, resol, tahu isi mie, dan beberapa kue-kue menjadi hidangan penutup selesai berbuka.
Tapi, Nasi Padang juga tersedia disini. Namun, cita rasanya masih berbeda dari yang aslinya, di ranah minang Sumatera Barat. Gue masih bersyukur, setidaknya rendang bisa gue makan hampir setiap harinya.  
Perekonomian
Serui yang terkenal memiliki banyak pendatang ternyata sangat berpengaruh pada perputaran uang yang begitu cepat. Perekonomian terus meningkat dengan adanya pasar yang terus menggerakkan sektor pendapatan disini.
Warga yang tidak mampu terus mendapat bantuan dari pemerintah, namun hal tersebut menjadikan mereka malas dan kebanyakan ngutang sana sini. Setidaknya, dengan banyaknya pendatang, beberapa warga terpancing untuk bekerja mencari nafkah sehari-hari, seperti berjualan di pasar. 
Jalan
Baru sebulan di Serui, Gue dengan cepat mengenal wilayah serta jalan yang hanya butuh 15 – 20 menit untuk mengelilinya. Tapi, jika berolahraga mengitari kota ini, gue merasa senang karena tidak ada jalan yang menanjak, kebanyakan datar. Kecuali, jika ingin berkunjung ke bagian timur atau barat Serui yang mengarah menuju daerah Dawai dan Bandara. Jalan yang akan ditempuh cukup curam dengan kemiringan yang tinggi, sehingga jika ingin pergi jauh menuju ke tempat-tempat tersebut, kalian harus berhati-hati dan tetap menjaga diri.
Terimakasih semua,
Dalam tulisan ini, Gue hanya memberi gambaran saja mengenai Serui di Pulau Yapen, Papua. Deskripsi kasar mengenai Serui dari berbagai sumber, seperti pendatang maupun warga sekitar. Walau sangat singkat, setidaknya tulisan ini memberi pengetahuan kepada netizen mengenai Serui dalam satu bulan Gue disini. Terlalu dini memang buat Gue menulis seperti ini, namun seperti itulah pengamatan kecil yang gue lakukan dan hasilnya seperti yang tertulis di atas.
Dan, kebetulan saja karena momen gue sudah satu bulan di Serui. Gue akan terus mengamati dan menambah bagian-bagian lain yang ada di kota ini. Semua item akan terus gue tambah di tulisan lain mengenai Kota Serui, Papua.

Namanya juga, Bosssss